By : Wulandari
Jakarta, CNN Indonesia — Bus Trans Putera Fajar terlibat kecelakaan maut hingga menyebabkan belasan penumpangnya tewas di Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5) malam.
Bus itu mengangkut rombongan pelajar dari SMK Lingga Kencana Kota Depok. Polisi kini masih belum menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan.
*Kronologi kecelakaan*
Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Jules Abraham Abast menjelaskan kecelakaan bermula saat bus melaju dari arah selatan menuju utara pada jalan yang menurun, oleng ke kanan. Kemudian menabrak kendaraan merek Feroza dari arah berlawanan. “Kemudian terguling miring ke kiri, posisi ban kiri di atas dan terselusur sehingga menabrak tiga kendaraan jenis roda dua yang terparkir di bahu jalan,” katanya.
“Kendaraan bus terhenti setelah menabrak tiang yang ada di bahu jalan arah Subang menuju Bandung tepat di depan Masjid As Saadah,” imbuh dia.
Kecelakaan memang sebuah musibah, namun kejadian ini sering kali terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya berasal dari manusia, seperti human error, overload atau dana yang kurang untuk perawatan. Padahal faktor-faktor ini sangat bisa diminimalisir, selain itu ada banyak faktor lain yang juga berpengaruh dan saling terkait dalam kasus ini. Misalnya: mahalnya sarana transportasi membuat konsumen memilih harga yang murah dan abai akan keselamatan. Di sisi lain, keterbatasan modal membuat pemilik sarana transportasi tidak memenuhi berbagai persyaratan agar layak jalan. Kondisi jalan juga memberikan pengaruh terhadap keselamatan perjalanan.
Berbagai hal atau peristiwa tersebut terwujud karena sistem negara tidak berjalan baik, bahkan negara abai atas kontrol kelayakan. Akar masalah dari ini semua adalah tata kelola transportasi yang ada diurus dengan sistem Kapitalisme Sekularisme. Sebuah sistem batil ini menjadikan negara tidak memiliki visi melayani (riayah). Alhasil keberadaan negara, yang seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam menyediakan layanan transportasi, termasuk infrastruktur terbaik justru berlepas tangan. Seharusnya negara bertanggungjawab penuh karena ini merupakan kebutuhan publik/ hajat orang banyak yaitu masyarakat. Yang ada negara justru memberikan tanggungjawab tersebut kepada swasta atas nama kerja sama dan investasi. Pelayanan transportasi ini didasari prinsip bisnis, untung dan rugi. Karena mindset (nya) bisnis, maka prinsip keamanan dan keselamatan sering terabaikan.
*Peran Negara dalam Islam*
Mode transportasi yang aman, nyaman, serta terjangkau bukan sebuah hal yang mustahil diwujudkan jika rakyat hidup dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Dalam Islam, sarana transportasi murah, aman, nyaman adalah salah satu bentuk fasilitas sebagai bentuk tanggungjawab negara atas seluruh rakyat. Karena itu negara wajib memberikan pengawasan yg serius dan sungguh-sungguh termasuk membangun infrastruktur. Syariat Islam menetapkan keberadaan Khilafah adalah peri’ayah (pengurus) umat, yang harus senantiasa memberikan layanan terbaik, termasuk ketika mengurus kebutuhan transportasi publik. Prinsipnya adalah pelayanan untuk memenuhi hajat publik. Seperti hadits Rasulullah terkait tanggungjawab seorang pemimpin:
كلكم راء وكل راء مسئول عن رعيته
“Kullukum Ra’in Wa Kullu Ra’ in Mas’ulun ‘An Ra’iyyatihi”
Artinya: ”Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Negara akan membangun infrastruktur transportasi terbaik seperti jalan, bandara, terminal, stasiun dsb. Dan tidak menyerahkannya kepada pihak swasta. Pendanaan infrastruktur transportasi berasal dari dana pos kepemilikan negara dan pos kepemilikan umum sehingga rakyat bisa menikmatinya dengan murah bahkan gratis. Perencanaan wilayah yang baik dilakukan negara untuk mengurangi kebutuhan transportasi. Negara juga membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terbaru. Hal ini akan meminimalisir kendaraan pribadi dan potensi kecelakaan karena kemacetan. Selain itu Islam menerapkan standar keamananan terbaik sesuai dengan perkembangan teknologi paling mutakhir. Islam juga menerapkan Sanksi tegas dan menjerakan bagi pelanggar.
Wallahu a’lam bi ash-shawaab
No comments:
Post a Comment