
Oleh : Sri Nawangsih
(Ibu Rumah Tangga)
Persatuan Islam merupakan solusi untuk krisis di Gaza. Dimana kata-kata kasar seperti brutal dan biadab!! sebutan yang tepat dilontarkan kepada Zionis Yahudi. Inilah siasat keji genosida mereka terhadap warga Gaza. Tidak pernah menggubris kecaman dari berbagai pihak, entitas Yahudi terus melancarkan serangan brutal terhadap warga Gaza hingga ke tempat perlindungan terakhir warga Gaza yaitu Rafah. Kaum zionis juga memblokade dan menyerang bantuan kemanusiaan untuk para korban dan pengungsi, membiarkan mereka kelaparan, dan kekurangan fasilitas medis.
Kebutralan zionis Yahudi mengundang krisis di Gaza, dan mengundang kecaman dari seluruh penjuru dunia. Di banyak negara, barat dan asia, orang berbondong-bondong berdemonstrasi mengutuk kejahatan zionis. Tagar All Eyes On Rafah sempat menjadi trending topic di platform social media X.
Sebenarnya negara zionis Yahudi adalah negara serapuh sarang laba-laba. Bukan negara besar yang dimitoskan oleh Barat. Dengan agresi dan serangan membabi buta yang mereka lancarkan terhadap Gaza sejak bulan Oktober 2023 lalu, krisis di Gaza semakin memperlihatkan kerapuhan entitas Yahudi tersebut.
Pertama, Militer Yahudi sebenarnya mengalami kekalahan fisik maupun mental sejak Oktober tahun lalu. Mereka mengalami banyak kerusakan dan kerugian berbagai alat militer, 3.600 personil tewas dan terluka, 2000 anggota pasukan mengalami gangguan jiwa. Militer zionis diguncang tingginya angka bunuh diri akibat perang serta banyak dilaporkan terjadi pelecehan seksual terhadap personil tentara perempuan yang dilakukan rekan pria mereka.
Kedua, Ekonomi negara zionis terancam resesi akibat perang. Ketiga, Kondisi pemerintahan zionis di bawah PM Netanyahu mengalami krisis akibat perang. Ribuan warga menuntut mundurnya Netanyahu dari jabatan. Keempat, serangan ke Rafah membuat entitas Yahudi terancam kehilangan dukungan Amerika Serikat. Sikap pemerintahan JOe Biden ini disebabkan ia takut kehilangan dukungan dari para pemilih dan kalah dalam pemilu bulan November ini.
Kelima, entitas Yahudi semakin terkucil di Internasional. Mahkamah Pidana Internasional, ICC, memutuskan bahwa mereka memiliki yuridiksi atas dugaan kejahatan perang dan kekejaman yang dilakukan di wilayah Palestina. Palestina juga mendapat dukungan 143 dari 193 negara di Majelis Umum PBB untuk menjadi anggota penuh PBB.
Sedemikian rapuhnya posisi entitas Yahudi tidak akan membuat krisis di Palestina selesai. Pasalnya, solusi sesungguhnya ada di tangan umat Muslim. Musibah terbesar umat ini justru adalah diamnya para penguasa negara Muslim. Mereka mengirimkan bantuan logistik yang jauh dari kecukupan, di sisi lain mereka meminta PBB untuk menyelesaikan persoalan ini, padahal mereka tahu hal itu tidak mungkin terjadi.
Penguasa mesir menutup rapat-rapat perbatasan dan meninggikan tembok penghalang dengan Gaza agar warganya tidak bisa melihat dan memberikan pertolongan. Sejumlah penguasa Arab memfasilitasi pasukan dan persenjataan dari AS yang akan digunakan untuk membantu militer zionis, melakukan perdagangan dengan zionis yang menguntungkan eksistensi mereka, termasuk minyak bumi yang digunakan untuk tindakan genosida.
Karena itu krisis Gaza tidak akan selesai selama para penguasa Dunia Islam masih menjadi alas kaki kepentingan Barat dan kepentingan Nasionalisme mereka. Solusi ini hanya bisa dilakukan ketika kamu Muslim bersatu di bawah institusi Khilafah Islamiah.
Wallahu a’lam.bishawab.
No comments:
Post a Comment