Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menista Agama Menjadi Biasa dalam Ranah Negeri Tak Bermabda

Wednesday, May 22, 2024 | Wednesday, May 22, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:46:21Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Beredar video seorang pria menginjak Al-Quran saat bersumpah di hadapan istrinya. Pria tersebut membantah berselingkuh dan melakukan sumpah dengan Al-Quran agar istrinya percaya. (Tribunnews.com, 18/5/2024).

Berita ini viral di beberapa media massa dan juga media sosial. Seakan sudah menjadi kebiasaan, menista kitab suci atau pun simbol agama bahkan menista agama tak ubahnya candaan dan olok-olok yang dipertontonkan. Yang lebih menyakitkan, kejadian penistaan sering dikenakan pada Islam. Berulang kali Nabi Muhammad ﷺ dihina, dinista, jadi konten lawakan, namun seakan tak ada ketegasan terkait perilaku minus tersebut dari negara.

*Negeri Tak Bermabda*

Miris. Tragis. Bagai tragedi, negeri ini dilanda badai sekuleris yang menghinakan. Negeri ini menjadi negeri tak bermabda. Hingga wajarlah penistaan agama semakin subur di negeri muslim Indonesia. Islam ada namun tak dijadikan mabda. Paham yang telah memisahkan agama dari kehidupan telah memangkas akar mabda dari hakikat agama.

Mabda yang merupakan istilah bahasa arab untuk kata ideologi, telah disempitkan oleh sekulerisme dengan makna sesempit-sempitnya, padahal, menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam buku Al-Fikru Al-Islamiy (halaman 9-11), mabda merupakan aqidah aqliyyah yanbatsiqu’anha an nizham. Maksudnya, aqidah aqiyyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Sehingga disebutlah sebagai mabda bila memiliki dua syarat, yaitu sebagai aqidah aqliyyah dan memiliki sistem aturan.

Aqidah merupakan pemikiran menyeluruh tentang dunia, sebelum dunia, setelah dunia, hubungan antara dunia dengan sebelum dunia, dan hubungan antara dunia dengan kehidupan sesudah dunia. Sementara itu, sistem aturan tersebut mencakup berbagai pemecahan terhadap berbagai problematik kehidupan (baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara; menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, ekonomi, dan budaya) serta cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut, cara untuk memelihara akidah, dan cara untuk menyebarkan akidah tersebut (Lihat: An-Nabhani, Nizham Al-Islam, halaman 22).
Inilah yang saat ini tak berjalan di negeri ini, hingga rasanya menjadi pantas mendapat sebutan negeri tak bermabda. Dan menista agama seakan tak ada cela dan dosa. Tak gercep untuk menghukuminya.

Sekularisme yang tegak dengan empat pilar kebebasan dalam sistem pemerintahan demokrasi, (kebebasan beragama, bertingkah laku, berekspresi, dan berpendapat), telah menjadikan Islam sebatas agama ritual semata. Kemuliaannya semakin tergerus gaya hidup liberal dan hedonistik yang diracik Barat dalam racun-racunnya. Agama tidak lagi menjadi prinsip hidup asasi sakral yang harus dijaga kesuciannya.

*Sekularisme Tak Pernah Menjaga Agama (Islam)*

Sungguh, jika mengamati kasus-kasus penistaan agama yang pernah terjadi, agama yang paling banyak mendapat penistaan adalah Islam. UU Penodaan Agama yang dijadikan dasar menjaga agama, masih tumpul dalam menangkal penistaan terhadap agama. Alhasil Islam selalu menjadi yang ternista dalam viralnya penghinaan agama.

Senyatanya kehidupan sekuler saat ini memang tidak pernah Menjaga Agama(Islam). Kehidupan sekuler terus menerus menjadikan seseorang memiliki pandangan yang berbeda tentang agama. Ada yang memandang agama bukan lagi sebagai pedoman hidup, dan ada juga yang berpandangan bahwa beragama menjadikan orang kolot, primitif, dan tidak maju. Alhasil dengan sudut pandang seperti ini, dianggaplah bahwa agama tidak lagi penting dan bukan lagi sesuatu yang suci dan harus dihormati. Saat agama dijadikan bahan candaan, sindiran, olok-olokan, narasi kebencian, hingga penistaan, pada akhirnya menjadi hal yang biasa saja.

Demikianlah atas nama liberalisme, kebebasan berekspresi dan berpendapat, menista agama menjadi lumrah saja. Sekulerisme tak pernah berniat melindungi sedikit pun agar agama tak ternista, yang ada memang sudah dasarnya sekulerisme sangat agresif memangkas agama secara jelas dan nyata.

*Paradigma Islam dalam Menjaga Agama*

Dalam sistem sekulerisme penistaan agama yang terjadi kesekian kalinya sejatinya mengindikasikan bahwa perangkat hukum yang ada tidak berefek jera bagi pelaku. Dengan sistem ini, dari kasus penistaan agama yang sudah pernah terjadi, terkadang tindakan hukum baru dilakukan jika kasus tersebut viral dan menjadi perbincangan publik. Padahal terkadang, para penista yang menebar kebencian terhadap Islam hanya cukup meminta maaf secara tertulis atau melalui media elektronik. Sudah banyak kasus penistaan yang mengandung ujaran kebencian hanya berakhir dengan permintaan maaf.

Berbeda dengan Islam. Dalam sistem Islam, agama adalah sesuatu yang wajib dijaga dan harus dimuliakan. Dalam sistem Islam, tujuan diterapkannya syariat Islam salah satunya adalah memelihara dan melindungi agama. Di dalam sistem Islam, negara tidak akan membiarkan para pelaku bebas menghina menista. Dengan sigap negara akan menerapkan sanksi tegas terhadap para pelaku agar bisa berefek jera bagi yang lainnya.

Sikap Khalifah Abdul Hamid saat merespons pelecehan kepada Rasulullah (saw.) merupakan gambaran ketegasan sikap dan kesigapan terkait penistaan agama. Saat terjadi pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. beliau memanggil duta besar Prancis meminta penjelasan atas niat mereka yang akan menggelar teater yang melecehkan Nabi (saw.). Beliau berkata kepada duta Prancis, “Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!”.

Sungguh, ketegasan dan kewibawaan telah ditunjukkan oleh sikap pemimpin kaum muslim saat itu. Tanpa ketegasan umat akan terus terhina karena tidak ada yang menjaga agama ini dengan kelantangan dan keberanian yang militan. Dengannya syarak ditegakkan. Dengannya agama ini terlindungi.

Oleh karena itu, jika memang agama ini tidak ingin selalu dinista, seruan penegakan syariat Islam harus terus disuarakan agar umat memahami bahwa satu-satunya pilihan hidup terbaik saat ini dan seterusnya adalah diterapkannya syariat Islam di segala aspek kehidupan. Umat disadarkan bahwa tegaknya aturan kehidupan yang menyelamatkan agama hanya bisa jika ada naungan yang melindunginya. Naungan yang menyelamatkan dunia wal akhirah. Naungan Islam Kaffah dalam tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update