Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Ungul tidak Lahir dari Sistem Sekuler

Friday, May 10, 2024 | Friday, May 10, 2024 WIB Last Updated 2024-05-10T04:05:59Z

 


Oleh Nita Nuraeni, A.Md

Aktivis Muslimah

 

Kurikulum Merdeka yang dijalankan saat ini beranggapan bahwa akan memberikan manfaat bagi siswa dalam hal pengembangan potensi dan keterampilan dalam bidangnya masing-masing. Bisa kita ketahui pada jenjang tingkat SMA yang telah meniadikan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa, yang mana siswa diberikan pilihan untuk memilih mata pelajaran sesuai minat untuk menunjang karir di masa mendatang.


Adanya wacana menjadikan Kurikulum Merdeka menjadi Kurikulum Nasional (Kurnas) masih menjadi perbincangan saat ini. Tidak sedikit yang menganggap bahwa kurikulum ini masih banyak kekurangan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Anwar Makariem akan segera mengesahkan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional (Kurnas). Padahal, bila ditinjau lebih jauh lagi, kualitas pendidikan yang ada saat ini masih jauh dari kata stabil. Kurikulum Merdeka dianggap masih belum memberikan kejelasan bagi siswa dalam hal pembelajaran. Kurikulum ini hanya memprioritaskan adanya arahan pada kompetensi atau daya saing yang berdasarkan materi saja, tanpa menerapkan aspek keagamaan.


Dilansir dari media online detik, Direktur Eksekutif Bajik Dhita Puti Sarasvati, beranggapan bahwa Kurikulum Merdeka masih banyak kelemahan yang harus diperbaiki. "Kurikulum Merdeka belum layak menjadi Kurikulum Resmi Nasional. Hal yang paling esensial yang harusnya ada dalam kurikulum resmi malah belum ada yakni kerangka kurikulumnya," ungkap Puti.


"Sampai saat ini Kurikulum Merdeka belum ada naskah akademiknya. Tanpa adanya naskah akademik ini sulit untuk memahami apa yang menjadi dasar pemikiran dari Kurikulum Merdeka," tambahnya.


Idealnya, kurikulum resmi terdiri dari beberapa komponen, misalnya filosofi kurikulum (termasuk tujuan kurikulum dan prinsip-prinsip dasar kurikulum), kerangka kurikulum secara keseluruhan, dan bidang studi.


Sistem sekuler yang diemban negara, memaksa generasi untuk menjalankan kurikulum yang hampir setiap tahun berubah-ubah. Kurikulum Merdeka menjadi urutan ke 12 di negeri ini yang dari tahun 1947 terus berganti. Artinya, ada kecacatan dalam sistem pendidikan kita selama ini. Aturan yang ada dalam sistem sekuler hanya berorientasi pada ilmu dan keterampilan yang di khususkan untuk dunia kerja yang semata-mata untuk pemenuhan kebutuhan materi saja. Tidak dengan pemenuhan kebutuhan agama dan mental, yang mana nantinya akan melahirkan generasi-generasi individualis.


Dalam Islam, kurikulum untuk keberlangsungan pendidikan sangatlah berpengaruh baik bagi pelajar dan pengajar. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya pendidikan.  Tujuan utama penataan kurikulum tak lain adalah untuk membentuk manusia agar memiliki integritas tinggi dan menghasilkan kepribadian Islam, yang mana kesemuanya merujuk pada wahyu Allah swt. Penerapan sistem Islam salah satu upaya agar optimal mengembangkan segala bentuk potensi, bukan hanya salah satu saja. Di sinilah peran negara sangat dibutuhkan, tanpa adanya dukungan dari negara tidak mungkin sistem Islam bisa diterapkan.


Penerapan sistem pendidikan Islam terbukti menghasilkan generasi cemerlang yang karyanya abadi sepanjang zaman seperti ahli bedah Al Zahrawi, ahli kedokteran Ibnu Sina (Avvicenna), ahli mekanik Al Jazari, ahli Kimia Jabir Ibn Hayyan (Geber), ahli sejarah dan sosiologi Ibn Khaldun, dan masih banyak lagi.


Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update