Menjelang Ramadan Pinjol Meningkat, Mengapa Terjadi ?


Oleh Irmawati


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pinjaman online meningkat saat Ramadan hingga lebaran 2024. Hal ini diprediksi lantaran adanya permintaan terhadap kebutuhan masyarakat yang juga naik saat bulan suci tersebut. Seperti pembelian barang-barang untuk puasa dan lebaran serta pembelian tiket transportasi untuk mudik lebaran. ( Tirto, 5/3/2024)


Berdasarkan catatan kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online sebesar Rp 51,46 triliun atau tumbuh sebesar 28,11 % pada bulan Mei 2023 jika dihitung secara tahunan.


Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Kemunikasi menyatakan bahwa jumlah pembiayaan kepada pelaki usaha mikro, kecil dan menengah sebesar Rp 15,63 triliun dan Rp 4,13 triliun. Tingginya pertumbuhan pembiayaan pinjaman menunjukan fungsi intermediasi yang berjalan dengan tingginya kebutuhan masyarakat dan pelaku UMKM akan akses keuangan yang lebih mudah serta cepat dibandingkan melalui perbankan. (CNBC Indonesia, 15/2/2024)


Seperti diketahui bulan Ramadan adalah bulan yang berkah karena banyaknya berkah yang Allah turunkan. Semestinya, Ramadan diisi dengan ketaatan pada Allah SWT. Akan tetapi, sungguh disayangkan masyarakat masih melakukan aktivitas yang secara tegas Allah SWT. haramkan. Sebagaimana fakta menyebutkan bahwa banyak masyarakat yang minat melakukan utang melalui pinjaman online. Di samping prosedur mudah diakses dibandingkan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. 


Tidak bisa dimungkiri seiring tingginya kebutuhan dan peningkatan volume produksi UMKM yang dicapai selama bulan Ramadan, Pinjol membantu masyarakat mengembangkan usaha di tengah sulitnya mendapatkan dana.  Hal tersebut bertujuan untuk  memenuhi permintaan pasar yang naik sedangkan modal yang terbatas. Sehingga agar usahanya tetap berjalan para pelaku UMKM terjerat pinjol.


Jika dilihat Pinjaman online seolah memberi kemudahan kepada masyarakat. akan tetapi, faktanya kontradiktif dengan yang terjadi. Akibat tingginya  bunga (riba) yang terkandung di dalamnya dari pada bank, tidak jarang para nasabah merasa tertekan, stress bahkan bunuh diri karena sulit membayar pinjaman online. Ditambah lagi perilaku para penagih yang tak jarang meneror masyarakat jika terlambat membayar.


Adapun merajalelanya riba saat ini merupakan dampak diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini yang menjadikan riba sebagai pilarnya. Transaksi dalam sistem kapitalisme mayoritas mengandung riba. Tak hanya itu, fenomena meningkatnya pinjaman online menggambarkan bahwa negara gagal dalam mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan. Negara dalam sistem ini hanya mengutamakan kepentingan investor dari pada kepentingan rakyat.


Berbeda dengan sistem Islam. Negara dalam Islam bertanggung jawab dalam mengurusi setiap urusan  rakyatnya. Termaksuk dalam dukungan dana usaha yang dibutuhkan rakyat untuk mengembangkan UMKM yang dikelola. Terlepas dari lembaga keuangannya baik bank, fintech, maupun lainnya semuanya berbasis riba yang di haramkan dalam Islam. 


Selain itu, Islam juga menjamin kemudahan bagi setiap rakyatnya dengan konsep permodalan Tanpa riba. Sistem keuangan dalam Islam sebagai sistem keuangan yang tangguh mampu menjamin terselenggaranya usaha rakyat sesuai syariat. Baitul mal sebagai salah satu sumber pendanaan setiap kepentingan rakyat. Sehingga, setiap individu terbebas dari aktivitas riba.


Hanya dengan Islam melalui institusi negara yang menerapkan Islam secara keseluruhan yakni khilafah, semua konsep tersebut diwujudkan secara sempurna. Karena pelayanan terhadap rakyat dalam Islam menjadi hal yang diprioritaskan.


Wallahu A'lam Bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post