KDRT Terus Berulang, Buruknya Fungsi Perlindungan Keluarga


Riza Maries Rachmawati


Di berbagai media-media pemberitaan, kasus dalam rumah tangga masih saja eksis. Seperti kasus KDRT yang baru-baru ini terjadi di kecamatan Kutalimbaru Deli Serdang Sumatra Utara. Seorang menantu bernama Joni Sing (49 tahun) tega membacok ibu mertuanya, Sanda Kumari. Kasus KDRT yang berujung maut ini disebabkan karena pelaku merasa kesal saat ditegur oleh ibu mertuanya itu lantaran melakukan KDRT kepada istrinya. Kasus KDRT lain menimpa seorang istri mantan Perwira Brimob berinisial MRF.  RFB mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berualng kali oleh suaminya dan penderitaan dalam rumah tangganya ini terjadi sejak 2020. Bahkan yang menyedihkan kekerasan tersebut dilakukan didepan anaknya. Korban mengalami luka fisik, sikologis hingga keguguran.  

(megapolitan.kompas.com, 22-03-2024)


Kekerasan dalam rumah tangga merupakan kondisi buruk akibat penerapan Sekularisme dalam kehidupan. Cara pandang yang memisahkan agama dengan kehidupan ini nyata mempengaruhi sikap dan pandangan setiap individu termasuk dalam hubungan keluarga. Mereka tidak mengikatkan perbuatan dengan hukum syariat. Begitu mudahnya emosi tersulut hingga mengakibatkan kekerasan di dalam rumah tangga. Penganiayaan dan pembunuhan seolah menjadi ujung pelampiasan ego bagi para pelaku kekerasan. Padahal interaksi dalam keluarga, khususnya interaksi suami kepada istrinya seharusnya dipenuhi kasih sayang hingga memberi jaminan perlindungan.


Islam memadang keluarga sebagai institusi terkecil yang strategis dalam memberikan jaminan atau benteng perlindungan. Hal ini tidak terlepas dari peritah Allah yang dibebankan kepada para suami. Dalam surah at Tahrim ayat 6, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada setiap mukmin untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Perintah ini juga mengarah kepada yang paling bertanggug jawab terhadap keluarga yakni seorang suami atau ayah.


Kepala keluarga wajib memastikan dirinya dan keluarganya terhindar dari neraka. Maknanya adalah penjagaan yang diberikan oleh seorang suami atau ayah tidak terbatas pada yang bersifat duniawi tetapi juga bersifat ukhrawi. Di surah yang lain Allah juga menegaskan bahwa kepeminpinan dalam keluarga terletak pada laki-laki. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’ : 34).


Demikianlah  gambaran yang benar posisi seorang suami atau ayah dalam keluarga. Mereka memang diberi amanah memimpin, namun bukan berarti boleh bersikap otoriter yang bisa begitu keji melakukan KDRT. Sehingga keluarga yang terbentuk adalah keluarga sakinah mawaddah warahmah (samawa) dan sejahtera. Namun untuk mewujudkan keluarga yang demikian tidak mungkin bisa berhasil jika hanya dipahami dan diamalkan pada level individu saja. Namun perlu ada peran dan fungsi negara untuk menerapkan sistem kehidupan berasaskan akidah Islam yakni Daulah Khilafah.


Khilafah berperan menerapkan sistem pergaulan dan sosial di masyarakat agar tercipta suasana keimanan antar masyarakatnya. Menerapkan ekonomi Islam untuk menjamin kebutuhan tiap individu rakyat dengan baik dan menyediakan layanan publik yang mudah diakses oleh masyarakat. Ketika di dalam rumah telah terbentuk suasana keimanan, kemudian situasi yang penuh tekanan dari luar juga minim ditemukan. Maka tindak kekerasan di dalam rumah tidak akan mudah terpicu. Bahkan seandainya pun ada kekerasan, sanksi pidana Islam siap untuk menindak pelaku kekerasa rumah tangga. Demikianlah Islam mendudukan sumber akar masalah KDRT sesuai dengan hukumnya.


Wallahu’alam bi shawab

Post a Comment

Previous Post Next Post