Islamphobia terus bergema, Apa peran dunia?

 


Zahra Meika Hafizh


Kian hari, rakyat Palestina tampaknya semakin tidak diberi ruang untuk bernapas barang sejenak saja. Terror dan bom terus menerus dijatuhkan di tanah kelahiran mereka. Berkali-kali mereka terpaksa mengungsikan diri, berpindah dari satu kota ke kota berikutnya demi keberlangsungan kehidupan dan keturunan Islam yang masih tersisa. Pasokan makanan dan air bersih seakan menjadi suatu hal yang mahal harganya bagi mereka semua. 


Kehidupan yang harus dialami oleh rakyat Palestina nyatanya belum mampu untuk mengetuk pintu hidayah dan kemanusiaan saat ini. Dilansir dari republikacom, berdasarkan laporan yang didapat oleh Tell MAMA, kasus kebencian kepada kaum muslim meningkat tiga kali lipat di wilayah Inggris.  Tercatat ada 2.010 kasus serupa dalam empat bulan sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. 901 kasus terjadi secara offline dan 1.109 lainnya terjadi secara online. Kenaikan ini meningkat sebesar 335 persen dan dinilai sebagai kasus tertinggi. 


Tak hanya Inggris, Sebuah masjid di ibu kota Swedia, Stockholm, menjadi sasaran serangan Islamphobia selama lebih dari setahun. Bahkan yang terbaru, kasus vandalisme dilakukan pada 21 Februari 2024, yang bertuliskan “Bunuh Muslim” disertai simbol Swastika. 


Islamphobia bukan lagi sebuah istilah baru, sebab penyakit ini telah lama mengakar di jiwa kaum kafir sejak runtuhnya daulah Khilafah Islamiyah. Islamophobia bahkan terus digaungkan saat umat Islam menjadi korban kezaliman zionis. Dunia dan pemerintah saat ini bahkan menjadi lumpuh. Mereka hanya menyaksikan, tak mampu memberi kebijakan yang berdampak. Usaha PBB untuk menetapkan hari Anti Islamphobia tampaknya hanya sekedar simbolis semata. 

Jika kita telusuri sejarahnya, Islamphobia telah muncul sejak turunnya perintah dakwah kepada Rasulullah SAW di Mekkah. Ketakutan akan ajaran dan pengaruh islam makin diperburuk selama Perang Salib, antara tahun 1095-1291. Selama Perang Salib berlangsung, ide Islamphobia ini digaungkan oleh kaum kapitalisme-sekulerisme, sebab ideologi yang mereka bawa sangat bertentangan dengan apa yang mereka bawa. Paham Liberalisme yang mereka suarakan justru membawa kehancuran pada bangsa mereka. 


Namun jangan salah, Islamphobia tidak hanya berasal dari orang-orang yang beragama di luar Islam, namun pemikiran ini juga meracuni pikiran kaum muslim saat ini. Jika menggunakan teori kausalitas, kita akan melihat benang merah dari peristiwa ini. Yaitu kurangnya pemahaman Islam dalam diri mereka. Tampaknya, paham Kapitalisme-Sekulerisme telah memanjakan hawa nafsu mereka sehingga mereka menjadi kurang kritis dan terbuka dengan peristiwa yang ada di sekitar mereka. Mereka kemudian bersikap zalim kepada diri sendiri dan saudara-saudara muslim mereka. Dan pada akhirnya menjadi kaum yang pasrah akan keadaan. 


Oleh sebab itu, peran negara dalam menciptakan corak pemikiran dalam diri masyarakatnya sangat dibutuhkan. Masyarakat yang cerdas dan maju lahir dari rahim pemerintah yang mampu menaati perintah Tuhannya dan menjadikan aturan islam sebagai dasar keputusan. Dengan aturannya, Islam mampu memberi hukuman yang pantas bagi orang-orang yang berniat untuk menjatuhkan martabat kaum muslim. Berbeda dengan keadaan saat ini, kaum muslim tidak punya pijakan dan payung tempat mereka merasa aman dan nyaman dalam menjalankan hak dan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Hal ini bukan mimpi di siang bolong, sebab islam merupakan rahmatan lil’alamin.

Wallahu ‘alam bi Sawwab.


 Ditulis oleh: Zahra (mahasiswi)

Post a Comment

Previous Post Next Post