Penanganan Banjir dan Longsor dalam Sistem Islam




Oleh Ade Karmila 

Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadi 4.940 bencana sepanjang 2023.,Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara di dunia yang paling tinggi. Suharyanto menjelaskan kejadian bencana alam didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir serta cuaca ekstrem. Ia merinci ada 1.802 karhutla, 1.170 bencana banjir, 1.155 cuaca ekstrem, 579 tanah longsor, 168 kekeringan, 31 gelombang pasang dan abrasi, 31 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung berapi.Dari ribuan bencana itu, terdapat 267 orang meninggal dunia, 33 orang hilang, 5.785 orang mengalami luka-luka, serta ada 9.002.975 orang menderita dan mengungsi.


Bertubi-tubi bencana menimpa negeri ini. Banjir, longsor, kekeringan, gempa bumi merambah ke berbagai wilayah yang mengakibatkan banyak korban jiwa, luka-luka, dan berbagai jenis kerugian fisik. Tidak sedikit rakyat negeri ini kehilangan tempat tinggal, banyak bangunan luluh-lantak diterjang banjir dan longsor. Sesungguhnya bencana yang menimpa negeri ini terus berulang dari tahun ke tahun dan semakin meluas. Bahkan, daerah yang sebelumnya tidak pernah mengalaminya, di awal tahun ini justru mengalaminya dengan kondisi yang sangat parah. Salah satu faktor terjadinya bencana alam ini menunjukkan buruknya pengurusan masyarakat oleh negara.Wajar jika banyak pihak menilai, kalau penguasa negeri ini lambat menangani bencana dan sangat minim upayanya penanggulangan terhadap bencana. Memang, pemerintah negeri ini yang mengusung sistem kapitalis sekuler sulit untuk diharapkan bisa memperhatikan nasib rakyatnya.


Berbeda dengan Islam, Islam sangat memperhatikan rakyatnya, individunya maupun masyarakatnya secara keseluruhan. Dalam Islam, seorang muslim tentu memiliki kewajiban untuk menolong dan membantu saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan, termasuk akibat banjir, gempa dan bencana lainnya. Namun demikian, tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada di pundak negara sebagai pengurus, pelayan dan pelindung rakyat. Sudah seharusnya negara mengupayakan penanggulangan bencana dan senantiasa standt by dalam menangani bencana dan korbannya.


Sabda Rasulullah saw., “Seorang iman adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya" (HR Bukhari Muslim). 

Artinya, negara wajib mengelola bencana yang menimpa secara langsung dan tidak menyerahkan urusannya kepada pihak lain.Pengelolaan bencana yang dilakukan negara ini meliputi penanganan pra bencana, ketika dan pascabencana. Penanganan prabencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mencegah atau menghindarkan penduduk dari bencana, hal ini sering disebut mitigasi.


Kegiatan ini meliputi pembangunan sarana-sarana fisik untuk mencegah bencana, seperti pembangunan kanal,bendungan, pemecah ombak, tanggul, dan lain sebagainya. Reboisasi (penanaman kembali) pemeliharaan daerah aliran sungai dari pendangkalan, relokasi, tata kota yang berbasis pada amdal, memelihara kebersihan lingkungan, dan lain-lain. Sedangkan penanganan pascabencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk: (1) me-recovery korban bencana agar mereka mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis mereka agar tidak depresi, stres, ataupun dampak-dampak psikologis kurang baik lainnya


Adapun kegiatan yang dilakukan adalah kebutuhan-kebutuhan vital mereka, seperti makanan, pakaian, tempat istirahat yang memadai, dan obat-obatan serta pelayanan medis lainnya. Recovery mental bisa dilakukan dengan cara memberikan tausiah- tausiah atau ceramah-ceramah untuk mengukuhkan akidah dan nafsiyah para korban; (2) me-recovery lingkungan tempat tinggal mereka pascabencana, kantor-kantor pemerintahan maupun tempat-tempat vital lainnya, seperti tempat peribadahan, rumah sakit, pasar, dan lain-lainnya.


Untuk itu, Khalifah Islamiyah akan menerjunkan tim ahli untuk meneliti dan mengkaji langkah-langkah terbaik bagi korban bencana alam. Mereka akan melaporkan opsi terbaik kepada khalifah untuk ditindaklanjuti dengan cepat dan profesional. Untuk penanganan bencana ini, tentu saja dibutuhkan dana yang sangat besar,terkait anggaran pengolaan bencana, negara tidak boleh membebankannya kepada rakyat, semuanya menjadi tanggungjawab negara. Semuanya bersumber dari Baitulmal, karena dalam pembelanjaan negara ada pos khusus yang pengalokasiannya ditujukan untuk keperluan darurat.


Demikian tertata dan terperincinya khilafah menangani bencana yang menimpa rakyatnya. Penanganan bencana ini dijalankan dengan berpegang teguh pada syariat, dengan prinsip wajibnya seorang khalifah melakukan pelayanan terhadap seluruh urusan rakyatnya, karena ia adalah pelayan umat. Mereka paham tugas khalifah adalah amanah, di mana ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas amanah yang telah ia terima.


Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post