Pemimpin yang Dirindukan

 

Oleh: Syiria Sholikhah

Mahasiswa Universitas Indonesia

 

Siapa yang tidak rindu sesosok pemimpin yang sesuai harapan dan dambaan hati? Tentu sangat rindu, apalagi pemimpin yang tahu betul apa yang dibutuhkan orang yang dipimpinnya. Pemimpin bukan sebatas status untuk duduk di kursi tahta, melainkan mengemban amanah dalam mengatur segala kepentingan guna mencapai kesejahteraan secara merata untuk semua orang yang dipimpin. Pemimpin memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap semua yang ada di dalam luas geografi kepemimpinannya, tanpa kecuali. Tugas utama seorang pemimpin bukan membangun hubungan diplomasi dengan negeri luar, melainkan mengurus seluruh umat yang ada di bawah kepemimpinannya.


Contoh pemimpin yang ideal dan sempurna sudah jelas ada pada diri Rasulullah SAW, sebagaimana para sahabat dan para penerusnya mencontoh kepemimpinan beliau, dengan menerapkan sistem yang dibuat oleh Allah, Tuhan Semesta Alam, bukan sistem dan hukum buatan manusia yang mudah berubah dan menyesuaikan keinginan penguasa dan pemilik kepentingan. Sejarah yang tidak bisa ditutupi oleh dunia bahwa Islam pernah memimpin tidak kurang dari dua pertiga dunia dalam waktu tidak kurang dari 13 abad.


Pemimpin yang takut kepada Allah adalah kunci dari musnahnya kezaliman penguasa, berani menegakkan hukum Allah di atas muka bumi ini secara kaffah. Hukum dan sistem yang tidak ada keraguan di dalamnya, hukum yang adil bukan sekadar keadilan sosial, melainkan adil bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali tanpa memandang status sosial.


Pemimpin yang berani melawan musuh dengan mengembalikan hak umat dari para perampas hak. Sumber Daya Alam (SDA) negara ini adalah milik umat dan wajib bagi pemimpin untuk mengembalikan keuntungannya kepada seluruh umat tanpa kecuali tanpa sara, bukan penguasa yang takut kepada asing sehingga menjadi alas bagi kaki asing dan membiarkan asing menguasai hak-hak rakyat.


Bagaimana pemimpin akan mengelola semua SDA tersebut? Islam telah mengajarkan dan mencontohkan, yaitu baitul mal. Kas milik umat yang dikelola oleh pemimpin atau pemerintah, segala kekayaan alam milik negara adalah milik umat, bukan milik pejabat. Dari baitul mal itulah pemimpin akan memberikan keadilan, negara kita dijuluki surga dunia karena kekayaan alamnya yang melimpah.


Jika kekayaan itu dikelola oleh pemimpin yang menggunakan hukum Allah, sudah pasti bisa dinikmati oleh semua masyarakat tanpa kecuali bahkan binatang sekalipun. Umar ibn Al-Khattab pernah berkata, ketika beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, kenapa engkau sendiri berlarian datang untuk melihat Unta kurban dan memandikannya?” Maka beliau menjawab “Sesungguhnya aku takut akan dimintai pertanggungjawaban sekalipun ada seekor Unta yang terperosok di jalanan yang jalan tersebut masuk ke dalam wilayah kepemimpinanku”.


So, kita lihat hal kecil dari jalanan di negeri ini, kita yang tinggal di kota mungkin tidak menyadari hal tersebut, tetapi saudara kita jauh di sana tidak mendapati jalan yang mereka lalui melainkan sangat buruk dan membahayakan.


Tak hanya itu, pemimpin harus bisa menerima masukan dan teguran dari rakyatnya apabila ia salah, kisahnya mungkin sudah sering kita dengar bagaimana Umar bin Al-Khattab ditegur oleh seorang Muslimah saat berpidato di depan umum, karena memang hal itu harus disampaikan saat itu juga. Lalu apakah beliau marah dan menolak kebenaran yang disampaikan Muslimah tersebut? Tentu tidak, beliau memohon ampun kepada Allah seketika dan berterima kasih karena telah diingatkan.


Kala itu tentang keluhan mahalnya mahar bagi seorang laki-laki yang diminta pihak perempuan sehingga menyebabkan pemuda sulit menikah, kemudian Sang Amir mengumumkan tentang batasan mahar, dan kemudian seorang dari Muslimah mengingatkan satu ayat yang isinya Allah memberi kebebasan tentang mahar. Sesimpel itu, sosok pemimpin yang paham betul akan dibawa ke mana umat ini dan akan menjadi seperti apa negeri ini. Kepemimpinan bukanlah hal yang pantas untuk diperebutkan hanya untuk kekuasaan semata, melainkan tentang tanggung jawab dan kewajiban yang akan ditagih kelak.


Pemimpin itu tidak hanya mementingkan perutnya sendiri dan keluarganya dan kerabatnya dengan merampas harta umat, melainkan pemimpin yang memikirkan perut seluruh umat. Di dalam sistem Islam, umat tidak dipungut pajak untuk membiayai hidup para pejabat. Lalu darimana semua fasilitas gratis yang berkualitas akan didapatkan, bagaimana negara memberi gaji pemimpin dan pejabatnya? Dari baitul mal yang sumbernya salah satunya dari SDA yang dikelola oleh pemerintah dan keuntungan masuk ke dalam baitul mal yang akan digunakan untuk kepentingan seluruh umat minimal kebutuhan dasar hajat publik seperti pendidikan dan kesehatan, umat bisa menikmati jalanan tanpa dipungut biaya yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang.


Pemimpin yang berani mengambil tanah, air, dan padang rumput sebagai harta milik umum yang tidak dimonetisasi. Pemimpin yang pandai membagi harta kepemilikan dengan baik, individu bebas memiliki harta kekayaan selama tidak mengambil hak dari harta kepemilikan umum dan negara, dan mendapatkannya bukan dengan cara mengambil hak milik orang lain. Pemimpin yang tegas menjalankan syariat Allah, bukan pajak melainkan kewajiban zakat bagi umat Muslim setiap tahun dan jizyah bagi non Muslim yang tinggal di dalam jaminan keamanan khalifah,  jizyah dikenakan kepada umat non Muslim yang memiliki harta lebih dan dibayarkan setiap tahun dan tidak sebesar pajak yang ada di sistem kapitalis ini.


Keduanya (zakat dan jizyah) akan masuk ke dalam baitul mal dan khusus zakat akan dibagikan sesuai dengan syariat. Umat tidak dirampok dengan nama pajak yang membengkak setiap waktu dan dibebankan kepada siapa saja dan setiap komoditi bahkan dalam pemenuhan kesehatan seperti obat-obatan.


Pemimpin yang berani melawan seluruh penyelewengan dan memberlakukan hukum Allah atas mereka. Bukan penguasa yang menikmati uang rakyat melainkan pemimpin yang turut merasakan kelaparan bersama umat, ingatkah kisah Umar ibn Al-Khattab yang enggan memakan daging punuk Unta (daging terbaik) dan memilih memakan kurma dan zaitun sebagaimana umat kala itu saat diterpa kemarau panjang dimana hewan ternak tidak mendapatkan makanan dan tidak mengeluarkan air susu serta daging yang membalut tulang, hingga turun pertolongan Allah setelah Sang Amir mengumumkan dan mengajak semua umat melaksanakan shalat meminta hujan.


Pemimpin yang bukan hanya memimpin urusan dunia kita melainkan juga urusan akhirat. Pemimpin yang berani mengusir asing yang hendak menguasai dan merampas hak rakyat (SDA), bukan penguasa yang memberikannya dengan mudah kepada asing dan mendapati rakyatnya menderita dan diam seribu bahasa seolah dunia ini gelap dan tidak bersuara hingga tidak bisa melihat dan mendengar penderitaan rakyatnya.


Beberapa waktu lalu MUI mengeluarkan fakta mengenai kewajiban memilih pemimpin. Kita akan mengulik dari 2 poin, Fatwa MUI poin 2 yang menyatakan bahwa “memilih pemimpin (nashbu al imam) dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama” dilanjutkan poin 3 disebutkan “imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat”.


Menegakkan imamah dan imarah adalah wajib, fardhu kifayah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi” [TQS Al-Baqarah: 30].  


Imam Al-Qurthubi berkata, “Ayat ini adalah dasar dalam pengangkatan seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati, agar terjadi kesatuan pendapat umat dan agar dapat diterapkan hukum-hukum khalifah.”


Dari Abdullah bin Umar berkata, Nabi bersabda, “Barang siapa yang mati sedangkan di lehernya tidak terdapat baiat (kepada seorang khalifah/imam) maka matinya adalah mati jahiliah” [HR. Muslim].


Imamah (khilafah) tidak akan tegak melainkan dengan sistem Islam atau ideologi Islam dan untuk menjalankannya dibutuhkan imarah (khalifah). Saat ini kita melihat bagaimana saudara Muslim kita di seluruh belahan dunia, sebagai minoritas di negerinya dan terjajah, saudara kita di Palestina telah lama menantikan kebebasan. Bagaimana kita berharap kebebasan kepada sistem yang zalim?


Sistem yang hanya menggaungkan kebebasan bagi dirinya sendiri, yang kebebasan tersebut tidak berlaku bagi umat Muslim. Sistem yang menyembunyikan dan membungkam ideologi Islam dari umat Islam itu sendiri. Sistem yang sangat alergi dengan Islam yang memiliki ideologi bukan sebatas agama peribadatan semata.


Saudaraku, saat ini kita tidak memiliki sosok pemimpin atau khalifah yang mengomando umat Muslim menjadi satu dan melawan zionis, bukan hanya untuk saudara kita di Palestina, melainkan seluruh saudara Muslim kita di seluruh dunia. Kita butuh sosok pemimpin atau khalifah dan sangat urgent untuk menegakkan khilafah ‘ala minhaji nubuwwah. Itulah sosok pemimpin yang dirindukan.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post