Islam Solusi Tuntas Pencegahan dan Membentuk Kepribadian Islam Pemuda


Devi Ariani

Pemerhati umat



Miris, seorang perempuan di bawah umur jadi korban kejahatan seksual oleh 7 pemuda di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Tragisnya lagi, aksi layaknya hubungan sepasang suami-istri ini terjadi dalam kurun bulan Agustus 2023 hingga awal Januari 2024.


Perilaku bejat pelaku ini dilakukan di tempat dan waktu berbeda. Pencabulan terjadi di rumah kos-kosan hingga pinggir jalan yang sepi kendaraan. Meski sempat melawan, namun usaha korban berujung sia-sia.


“Dari 7 orang yang diamankan, 6 pelaku masih di bawah umur dan 1 orang pelaku berusia 24 tahun,” kata Kapolsek Tenggarong Seberang, IPTU Raymond Juliano William, Sabtu (6/12/2024). Kaltimtoday.co,Tenggarong


Melihat kondisi disekitar kita banyaknya generasi yang berprilaku menyimpang dan bebas bahkan melakukan kriminalitas seperti pacaran, tawuran, geng motor, dan kejahatan seksual. Kita bisa melihat usia mereka yang terbilang cukup muda.


Sehingga perilaku seorang pemuda pun rusak, dan mudah melakukan apapun tanpa memikirkan dampaknya, ditambah dorongan dari orangtua yang tidak memperhatikan moral anak, teman bergaul, serta kedekatan orang tua dengan anak yang kurang terjalin baik.


Dalam lingkunganpun juga memberi mempengaruh untuk  pemuda bertingkah laku sesuka hati karna kondisi masyarakat yang cuek, tidak peduli dengan kondisi disekitarnya. 


Disisi lain pun negara juga tidak ada pengawasan kepada para pemuda untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti kejahatan seksual salah satunya, 

Dalam pembelajaran mata pelajaran agama islam pun kurang diberikan di sekolah, hanya dua jam saja dan itupun tidak cukup untuk menjaga pemuda dari perbuatan kemaksiatan.


Inilah ulah dari sekuler kapitalisme membuat generasi rusak dari prilakunya dan menghilangkan peran yang seharusnya ada didalam diri  seorang generasi. Sekularisme juga merenggut peran generasi yang seharusnya generasi itu menjadi tombaknya peradaban masa depan malah menjadi kan generasi yang makin jauh dari kata tersebut. Karena sudah memisahkan agama dari  kehidupan yang seharusnya membuat generasi bermoral  dan berkepribadian baik serta mempunyai jiwa-jiwa kepemimpinan  dalam diri setiap generasi malah menjadi generasi yang terbelakang dan tidak mempunyai peran dalam kepemimpinan. 


Disisi lain kapitalisme pun juga ikut andil dalam merusak generasi yaitu dengan adanya teknologi yang di dalamnya dapat merusak moral generasi seperti tontonan, game, dan aplikasi lainnya yang bisa berdampak pada generasi mulai dari pergaulannya, moralnya , hingga sampai terjun ke dalam kriminalitas.


Islam mempunyai solusi untuk mencegah dan sekaligus membentuk kepribadian islam pemuda 


Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, bukan hanya mengurusi ibadah mahdah saja tetapi juga menjadi aturan dan solusi yang  hakiki seluruh ciptaan Allah SWT.


Pertama, Islam akan membentuk karakter pelajar yang baik melalui pendidikan berbasis Islam, ditambah dukungan orang tua untuk mendidik anak, mengajarkan kepada mereka tentang pembentukan keimanan yang kuat agar dia paham untuk apa dia diciptakan. 


Kedua, lingkungan masyarakat yang positif, saling mendukung antar tetangga, adanya pengontrolan tingkah laku pelajar agar mereka tahu batasan halal dan haram. 


Ketiga, negara dengan sistem Islam (Khilafah) akan membentuk kepribadian pelajar melalui kurikulum pendidikan yang berakidah Islam. Pelajar tidak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga sekaligus mahir dalam ilmu agama (akhirat). 


Para pelajar akan menghabiskan waktunya untuk menggapai rida Allah. Mereka akan menjadi ulama, ilmuwan, mujahid, mujtahid, pemimpin yang taat kepada Allah, dan dapat berkontribusi dalam kejayaan Islam.


pemuda yang bersyahsiah Islam. Syahsiah (kepribadian) pada setiap manusia terbentuk oleh akliah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap). Akliah adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, yakni mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Sedangkan nafsiah adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi garizah (naluri) dan hajat al-‘adhawiyah (kebutuhan jasmani), yakni memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.


Seseorang dikatakan bersyahsiah Islam ketika akliah dan nafsiahnya terikat dengan Islam. Ia mengetahui halal/haram sehingga ketika menetapkan hukum tentang benda dan perbuatan akan senantiasa sesuai dengan hukum syarak. Ia juga mempunyai kematangan berpikir dan mampu menganalisis peristiwa dengan benar sehingga akan senantiasa sesuai dengan hukum syarak dalam memenuhi tuntutan garizah dan hajat al-‘adhawiyah. Ia pun selalu dekat pada Allah, menjalankan segala yang Allah cintai, dan meninggalkan segala yang Allah benci.


Untuk meningkatkan akliah Islamnya, maka seorang muslim dapat melakukan upgrade tsaqafah Islam dengan cara menuntut ilmu Islam dan tasqif (pembinaan). Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. kala membina para sahabat pada awal dakwahnya di Darul Arqam. Beliau saw. membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kandungan Al-Qur’an, juga menguatkan iman dan memperkuat mental para sahabat dalam menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Quraisy. Selain itu, kita juga bisa mengikuti berbagai kajian intensif yang dibimbing oleh musyrifah (guru/pembimbing) secara rutin setiap pekan.


Sedangkan untuk meningkatkan nafsiah Islam, maka seorang muslim harus meningkatkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Setiap perbuatannya wajib terikat hukum syarak. Allah Taala berfirman dalam QS Asy-Syura [42]: 10, “Tentang apa pun kalian berselisih, maka putusannya harus dikembalikan kepada Allah.” Begitu pula dalam QS An-Nisa [4]: 59, “Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunah).” Wallahu a'lam Bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post