Hujan Deras Mengakibatkan Banjir dan Longsor




Oleh Heni Ruslaeni 

Aktivis Muslimah


Tahun baru 2024 telah tiba, sebagian masyarakat menyambut riang gembira  namun di satu sisi awal tahun baru 2024 juga melukiskan duka dimana musibah datang melanda seperti banjir, longsor, gempa bumi, kecelakaan lalulintas, angin puting beliung dan lain sebagainya. Dan musibah banjir adalah salahsatu musibah yang sering terjadi di hampir di setiap wilayah, seperti banjir yang melanda Kertasari.


Hujan deras mengguyur wilayah Kertasari Kabupaten  Bandung pada selasa sore 9 Januari 2024. Akibat hujan deras wilayah Kertasari diterjang banjir bandang, terjadi di dua desa yaitu di desa Cihawuk dan desa Sukapura. Hujan deras dengan intensitas tinggi dan disertai durasi yang cukup lama memicu terjadinya banjir dan longsor yang mengakibatkan rumah- rumah warga, sekolah terendam banjir disertai lumpur tebal, sehingga menutup akses jalan karena tebalnya lumpur yang menutup badan jalan. Maka dari itu untuk mencegah banjir masyarakatpun bersama-sama memasang karung berisi pasir untuk mencegah banjir masuk ke rumah-rumah warga.


Sangat disayangkan, status tanggap darurat begitu lambat untuk ditetapkan. Pemerintah lamban melakukan antisipasi. Banjir yang berulang terjadi menunjukkan gagalnya tata kelola ruang yang dilakukan oleh pemangku kebijakan. Seharusnya, dalam pengelolaan lahan, pemerintah mengetahui mana area yang diperuntukkan sebagai daerah resapan  sehingga tercipta keseimbangan ekologis.


Banjir dan longsor yang terjadi saat ini bukanlah semata-mata karena faktor alam tetapi lebih kepada kerusakan yang dibuat oleh manusia. Berkurangnya  kemampuan hutan dalam menjalankan fungsinya, termasuk menyerap air dikarenakan beralihnya fungsi lahan hutan menjadi area industri, seperti industri kayu, pembangunan infrastruktur  besar-besaran demi ambisi dan keserakahan korporasi, dan eksploitasi berlebih.



Maka jelas, persoalan banjir, tanah longsor, atau bencana alam lainnya hanyalah efek domino akibat pembangunan kapitalistik. Ada andil manusia dalam kerusakan alam yang kita lihat saat ini, yaitu kebijakan pro kapitalis liberal. Jika pembangunan tidak ramah manusia dan lingkungan, apa gunanya? Kapitalis ambil enaknya, manusia dan lingkungan yang terkena imbasnya.


Inilah bias sistem kapitalisme yang tidak memiliki parameter yang jelas dalam meriayah umat termasuk melindungi warganya dari bencana. Maka, harus ada pembenahan standar SOP penetapan status keadaan darurat bencana. Islam punya konsep yang jelas dalam mengukur kondisi darurat bencana yang menimpa warganya. Khilafah pasti akan cepat tanggap merespon bencana yang menimpa warganya.


Dalam aspek kuratif, jika terjadi bencana, Khilafah akan melakukan langkah berikut: (1) melakukan evakuasi korban secepatnya; (2) membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban; (3) memblokade atau mengalihkan material bencana (seperti banjir, lahar, dan lain-lain) ke tempat-tempat yang tidak manusia huni, atau menyalurkannya kepada saluran-saluran yang sudah siap sebelumnya; (4) mempersiapkan lokasi-lokasi pengungsian, pembentukan dapur umum dan posko kesehatan, serta pembukaan akses-akses jalan maupun komunikasi untuk memudahkan tim SAR untuk berkomunikasi dan mengevakuasi korban yang masih terjebak bencana. 


Dari aspek rehabilitatif, Khilafah akan melakukan recovery, yaitu manajemen pascabencana, seperti memberikan pelayanan terbaik kepada para korban selama berada di pengungsian; memulihkan psikis mereka agar senantiasa bersabar, tidak stres atau depresi atas cobaan yang menghampiri; memenuhi kebutuhan vital mereka, yaitu makanan, pakaian, obat-obatan, tempat istirahat yang layak, dan layanan kesehatan lainnya; serta memberi nasihat dan tausiah untuk menguatkan akidah dan nafsiyah para korban.


Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post