Refleksi Hari Ibu : Hilangnya Peran Ibu dalam Sistem Kapitalisme

 


Oleh : Eni Suhaeni


Hari Ibu Nasional di peringati 22 Desember setiap tahunnya. Peringatan tahunan ini sudah ada sejak tahun 1928 dan mengusung tema yang berbeda-beda. 


Kemerdekaan Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA) telah merintis tema hari ibu 2023 yaitu Perempuan Berdaya Maju. (Jakarta CNN Indonesia)


Seorang ibu memiliki peran penting dalam kehidupan. Dan seorang ibu seharusnya merupakan madrasah yang paling penting utama untuk pembentukan kepribadian anak-anaknya. Di samping itu ia sangat berperan sebagai figur sentral yang di contoh dan di teladani dalam kepribadian yang mencakup pola pikir dan pola sikap. Peran generasi dan penerus bangsa menjadikan sosok ibu tentu menjadikan lebih penting lagi. 


Tetapi untuk majunya sebuah bangsa ini di tentukan oleh kwalitas sumber daya manusianya. Tetapi sayang peran ibu sebagai pendidik anak-anaknya kini mulai tergerus ibu di pandangnya telah memenuhi hak-hak terhadap anak-anaknya ketika pemenuhan aspek materi telah di berikan bahkan tanpa alasan yang jelas. 


Penerapan sistem kapitalisme di negeri ini telah membuat kehidupan keluarga terhimpit dan kebutuhan pokok dan kesejahteraan sangatlah mahal. Jadi mengandalkan suami bekerja untuk memenuhi seluruh kebutuhannya tersebutpun di anggap mustahil. Akibatnya kewajiban seorang ibu yaitu mengasuh dan mendidik anak-anaknya hingga memahami anak yang benar pun terabaikan. 


Alhasil berbagai persoalan ini menimpa generasi seperti maraknya sek bebas, narkoba dan lain sebagainya. 


Dan mirisnya moral generasi di perparah dengan lahirnya regulasi yang merupakan produktif sistem politik Demokrasi dan sistem ekonomi Kapitalisme regulasi ini menetapkan bahwa ibu di pandang berdaya ketika mampu menghasilkan materi atau uang. 


Melalui hal ini regulasi tersebut, kaum ibu mengalami pembajakan peran, sebab yang seharusnya ibu adalah pendidik generasi. Kondisi ini tidak lepas dari hilangnya peran negara dalam peradaban sekuler kapitalisme. Negara lepas tangan menjaga kehormatan, kemuliaan dan jaminan kesejahteraan perempuan hingga membiarkan perempuan terjebak dalam pusaran ekonomi kapitalistik. 


Oleh karena itu perlu adanya revitalisasi peran ibu sebagai pendidik generasi dan sudah seharusnya mengembalikan peran ibu sesuai dengan perintah Allah demi mewujudkan generasi yang berkepribadian mulia. Namun perlu di pahami bahwa peran ibu yang hakiki tidak akan terwujud dalam sistem kapitalisme demokrasi. Kembalinya fitrah ibu dan peran mulianya sebagai pendidik generasi hanya akan terwujud dalam penerapan Islam secara sempurna di bawah Institusi Khilafah Islam. 


Di dalam islam ibu mempunyai tugas mulia pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus bisa membentuk tujuan hidup, visi hidup dan pedoman anak yaitu mengarahkan kepada Islam sebagaimana Hadits Rasulullah SAW. 


_Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah atau suci kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, majusi atau nasrani (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)_ 


Oleh karena itu di butuhkan peran yang akan mengarahkan terwujudnya peran ibu sebagai pendidik generasi secara optimal, negara Islam akan menjamin masyarakatnya, individu perindividu sehingga kaum ibu tidak perlu sibuk di luar rumah untuk membantu perekonomian keluarga.


Demikianlah hanya Khilafah yang mampu mengembalikan peran utama dan mulia ibu sebagai pendidik generasi. 


Walla'hu a'lam bish-shawab

Post a Comment

Previous Post Next Post