Buruh: Pion Catur yang Ditumbalkan Kapitalisme


Oleh: Erni Yuwana 

(Aktivis Muslimah)


Pabrik seolah menjadi sarana utama untuk mencari nafkah. Sayangnya, nasib buruh atau pekerja semakin memprihatinkan. Upah buruh jauh di bawah nilai kepantasan. Ditambah lagi waktu untuk beribadah seperti sholat wajib dan sholat Jum'at dipersulit. Tak sedikit yang melepaskan jilbab, karena alasan terbentur persyaratan pabrik. Kaum muslim terjebak aturan pabrik hingga meninggalkan kewajiban sholat, menanggalkan pakaian syar'i, membuka aurat, bahkan kasus perselingkuhan menjamur di kalangan pekerja. 


Kapitalisme mengajarkan secara fasih untuk berlomba mengejar uang di atas segala-galanya walaupun dengan menggadaikan aturan agama. Kapitalisme mendesain agar kedudukan ekonomi keluarga lebih berharga daripada iman di dada.


Gambaran buruh seperti pepatah "Sudah jatuh, tertimpa tangga pula." Sudahlah mengejar upah yang tidak seberapa, iman tergadaikan, ditambah dengan resiko kecelakaan yang begitu besar. Seperti kecelakaan kerja di Morowali. 


Dikutip dari media online voaindonesia.com, pada Minggu 24 Desember 2023, terjadi ledakan tungku pengolahan nikel di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park. Insiden ini berakibat pada meninggalnya 12 pekerja dan 39 pekerja terluka. Kasus-kasus yang sama juga seringkali terjadi. Presiden Partai Buruh Said Iqbal menyampaikan bahwa kebakaran akibat ledakan tungku tersebut, merupakan dampak dari diabaikannya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap pekerja lokal. Dan, dampak dari investasi Cina di Morowali yang menyebabkan upah murah. (cnnindonesia.com, 24/12/2023)


Ketika buruh dibayar murah, sedang risiko kerja begitu tinggi, seharusnya peran negara hadir untuk melakukan evaluasi tata kelola dan menetapkan kebijakan yang terbaik. Pemerintah juga sudah semestinya turun tangan untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan besar, agar memberikan upah yang pantas dan sebanding dengan resikonya. Tapi di tengah sistem kapitalis, penguasa justru menjadi perpanjangan tangan para pengusaha bahkan dikendalikan oleh segelintir orang kaya. Nampak dari pemberlakuan aturan yang memihak, tanpa memikirkan apakah aturan itu merugikan rakyat atau sudah sesuai dengan syariat.


Islam sebagai sebuah mabda, mengatur bagaimana posisi penguasa dan pengusaha dalam sistem politiknya. Seperti saudagar kaya Abdurahman bin Auf yang menyokong kepemimpinan Rasulullah dalam menyejahterakan rakyatnya. Kekayaan Abdurrahman bin Auf dibagi menjadi tiga, yakni sepertiga hartanya dipinjamkan kepada masyarakat madinah, sepertiga membayari utang-utang masyarakat madinah, sepertiga lainnya dibagi-bagikan kepada masyarakat Madinah.


Terlihat sekali perbedaannya, bagaimana Islam mengatur dan bagaimana sistem kapitalis mengatur posisi penguasa dan pengusaha. Dalam sistem Islam, baik penguasa dan pengusaha, sama-sama memiliki satu tujuan, yaitu kemaslahatan umat. Saling menyokong dalam satu visi, yakni akhirat. Ridha-nya Allah menjadi tujuan bersama. Masing-masing memahami adanya konsep penghisaban. Bahwa hidup mereka di dunia hanyalah batu loncatan menuju kehidupan abadi. 


Jabatan penguasa adalah amanah, semata-mata demi melaksanakan hukum-hukum Allah. Begitupun bagi pengusaha, mereka sadar kekayaan yang didapat asalnya dari Allah. Titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Didapat bukan dari hasil meng-eksploitasi keringat para pekerja. Dikeluarkan pun di jalan Allah semata. Bukan demi ambisi sesaat di dunia.


Namun, dalam sistem kapitalis, penguasa hanya menjadi pemulus bagi aturan-aturan yang dapat melanggengkan perekonomian para pemilik modal. Dengan memeras keringat rakyat untuk menjadi pekerja. Keduanya bersepakat dalam satu frame, yakni saling menguntungkan. Tidak ada pertimbangan soal halal haram, atau apakah Allah ridha atau murka. Pandangannya berhenti hanya sampai di kehidupan dunia.


Maka sangat tidak aneh, jika di tengah sistem kapitalis ini, yang kaya makin kaya. Dan yang miskin tetap dalam kemiskinannya, sekali pun sudah berusaha sekuat tenaga bekerja dari pagi hingga petang. Bahkan sampai resiko tertinggi, yaitu hilangnya nyawa. Pekerja hanya pion catur yang siap dikorbankan, bagi jalan sang raja. Adilkah jika ini terus terjadi? Siapkan ruang kekecewaan, bila menganggap masih ada kebaikan dalam sistem ini. Karena tidak akan ada kebaikan dari sistem yang mengada-adakan aturan sendiri dan mendurhakai kalam Tuhan. Wallahu a’lam bish-shawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post