Kekerasan Seksual di Kampus Kapan Berakhir?


Oleh : Reshi Umi Hani


Pada tanggal 12 September 2023, Koordinator Advokasi Satgas PPKS Unmul yakni Orin Gusta Andini menjelaskan bahwa mereka telah menerima pengaduan terkait kasus tindakan asusila yang menimpa seorang mahasiswi Unmul, pengakuan tersebut diterima dari korban melalui kanal pengaduan tentang ancaman untuk melakukan hubungan seksual yang telah beberapa kali diterimanya. 

Diketahui tindak pidana persetubuhan terhadap anak ini dilakukan oleh seorang pemuda berinisial K yang mengaku sebagai seorang mahasiswa dia Kota Tepian, ungkap Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Korban mengaku beberapa kali mendapat paksaan oleh K melalui ancaman maupun kekerasan verbal, tutur Orin Gusta Andini.

Kasus tindakan asusila yang menimpa seorang mahasiswi Unmul yang kembali mencuat ke muka publik ini, mendorong Orin selaku Koordinator Advokasi mengatakan bahwa Satgas PPKS Unmul mendorong setiap civitas akademika Unmul baik mahasiswa , tenaga pendidik maupun dosen yang melihat, mendengar dan menyaksikan kasus kekerasan seksual yang melibatkan Civitas Akademika Unmul untuk melapor kepada SATGAS PPKS UNMUL.

Dikampanyekannya PPKS oleh pihak kampus dalam balutan narasi sexsual consent (yang lahir dari asas sekuler liberal), hanya akan membuat rusaknya karakter identitas mahasiswa muslim serta menjauhkan mereka dari potensinya sebagai pemuda pemimpin umat dan peradaban. Liberalisme telah jelas menjadi akar yang menyebabkan marakknya seks bebas hingga pelecehan seksual. Serta ditumbuhsuburkan oleh kapitalisme yang mengkapitalisasikan kebebasan seks dan demokrasi melegitimasinya. Maka, bagaimana masalah ini bisa berakhir? Satgas PPKS dan hukuman sosial pelanggaran kode etik tidak akan menyelesaikan masalah kekerasan seksual di kampus.

Hal ini justru berbanding terbalik dengan sudut pandang dan peraturan islam yang memiliki konsep dalam mencegah, menangani, melindungi, melaksanakan penegakan hukum, mewujudkan lingkungan tanpa kekerasan seksual dan menjamin ketidakterulangan kekerasan seksual.

Dalam sistem islam, kurikulum dan arah kebijakannya akan melindungi mahasiswa dari segala bentuk aktivitas yang merusak kepribadian dan karakter identitasnya sebagai  muslim, termasuk dalam rangka memutus rantai kekerasan seksual. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan mahasiswa selain kembali pada islam kaffah. Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah Islamiah.

Post a Comment

Previous Post Next Post