Harga Pangan Melangit, Rakyat Menjerit


Oleh: Astriani Lydia, S.S


Harga pangan di sejumlah daerah terpantau mengalami kenaikan, mulai dari beras hingga cabai rawit merah. Ternyata, beberapa warga pun mengeluh akibat kenaikan harga pangan ini.


Salah satunya diungkap oleh Waluyo, seorang warga di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Dia mengaku cukup terbebani dengan kenaikan harga pangan, utamanya yang sering dikonsumsi.


Ia mengaku, untuk keperluan belanja bulanan biasanya bisa terpenuhi dengan biaya Rp 1 juta. Namun, karena adanya kenaikan jadi perlu mengambil dari alokasi dana lainnya. (Liputan6, 26/11/2023).


Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat banyak bahan pangan yang mengalami kenaikan beberapa waktu belakangan ini. Padahal, biasanya harga pangan naik ketika permintaan melonjak seperti pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).


Sekretaris Jenderal IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengaku heran kenaikan harga pangan terjadi jauh hari sebelum Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru). Ia mencatat harga cabai hingga gula masih terus mengalami kenaikan.


Mahalnya harga cabai dan beberapa bahan pokok lainnya hanyalah satu dari masalah pangan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Solusi yang diberikan juga tak menyentuh akar persoalan. Alhasil hal seperti ini akan selalu dirasakan oleh masyarakat dan membuat masyarakat menjerit. 


Dalam Islam, negara berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Oleh karena itu, negara harus memiliki sistem tata kelola pertanian. Dalam sistem Islam, ada beberapa strategi pengelolaan di sektor pertanian agar ketersediaan bahan pangan tercukupi.


Pertama, Negara berkewajiban memberikan sarana edukasi dan pelatihan, serta memfasilitasi kebutuhan para petani agar dapat melakukan produksi hasil pertanian dengan efisien.


Kedua, melakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi perubahan cuaca. Misal dengan memperbanyak stok produksi pertanian ketika panen raya. Atau dengan tekhnologi pengawetan hasil pertanian seperti membuat stok cabai kering untuk memenuhi stok cabai dalam negeri.


Ketiga, menjaga ketersediaan lahan pertanian. Saat ini banyak lahan yang malah dialih fungsikan menjadi perumahan-perumahan ataupun jalan bebas hambatan. Akibatnya produksi pangan tidak bisa dilakukan berkelanjutan. Banyaknya lahan-lahan kosong yang tidak terpakai bertahun-tahun juga dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Padahal seharusnya lahan-lahan kosong tersebut bisa digunakan sebagai lahan pertanian dan lumbung penghasilan bagi masyarakat.


Keempat, Negara wajib memastikan distribusi pangan mudah dan terjangkau. Wilayah-wilayah yang letaknya berjauhan bahkan sulit dijangkau oleh sarana transportasi cukup mempengaruhi harga bahan pangan di lingkungan masyarakat.


Kelima, Negara wajib mengontrol proses pendistribusian pangan agar tidak terjadi praktik-praktik kecurangan, penimbunan, dan monopoli pasar. 


Nabi SAW, bersabda:


لا ضرر ولا ضرار، من ضار ضاره الله، ومن شاق شق الله عليه


 “ Tidak boleh memberikan mudharat kepada diri sendiri dan kepada orang lain, barang siapa yang memberikan mudharat kepada orang lain, maka Allah akan memberikan mudharat kepadanya, dan barangsiapa yang memberikan beban kepada orang lain, maka Allah akan memberikan beban kepadanya.“ ( HR. Daruquthni (3/ 77 ) , lihat juga Bulughul Maram, hadits : 910 ) 


Keenam, Negara harus memberi sanksi yang tegas pada pelaku mafia pangan. Maka pengawasan harus selalu dilakukan oleh negara agar tidak terjadi permainan harga di masyarakat.


Dengan peran negara yang serius dalam mengurusi tata kelola pangan dan pertanian, serta dengan penerapan sistem yang shohih, insyaaAllah ketahanan pangan akan bisa terlaksana dengan sempurna. Sehingga rakyat tidak menderita dengan selalu melonjaknya harga bahan pangan. Wallahu a'lam bishshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post