Pemerhati Kebijakan
Menjadi buruh seolah menjadi pilihan utama bagi setiap orang. Selain tidak beresiko rugi, menjadi buruh juga mempunyai kepastian penghasilan setiap bulannya. Artinya dia bisa merencanakan keuangan dan mengatur pos-pos pengeluaran yang tetap. Tidak hanya itu, menjadi buruh terutama buruh pabrik mendapatkan gaji lebih tinggi dari pegawai honorer atau menjadi petani. Menjadi buruh pun tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi.
Namun sayangnya, kesenjangan antara pencari kerja dan lapangan kerja semakin tinggi. Setiap tahun kelulusan, menyumbang ribuan pengangguran. Disisi lain, lapangan pekerjaan semakin sempit. Perusahaan justru banyak yang gulung tikar dan berujung mem-PHK karyawan. Hal ini diperparah oleh perekonomian global yang sedang terpuruk.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data Februari 2023 masih ada 7,99 juta pengangguran di Indonesia. Angka ini 5,45 persen dari total angkatan kerja per tahun sebesar 146,62 juta tenaga kerja. Sedangkan total lowongan kerja tidak sebanding dengan pencari kerja. Sesulit itukah negara menyediakan lapangan pekerjaan?
Banyak Profesi Yang Tidak Menjanjikan Kesejahteraan
Sebenarnya banyak profesi yang bisa dipilih seseorang untuk dijadikan sumber pendapatan. Namun sayangnya proses ini membutuhkan modal dan skill khusus. Misal untuk menjadi wirausahawan atau menjadi petani. Ada juga profesi yang digaji sangat tidak manusiawi yaitu menjadi pegawai atau guru honorer.
Misal seseorang berprofesi sebagai guru honorer, tentu saja tidak bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Dia harus mencari sampingan guna mencukupi kebutuhan hidupnya yang tidak tercover oleh honor sebagai guru atau pegawai.
Pilihan ini diambil karena berharap kelak akan diangkat menjadi ASN, meskipun tidak ada kepastian kapan
Begitu juga jika memilih profesi berwirausaha atau berbisnis. Ini memerlukan modal yang besar dan keahlian khusus. Resiko yang dihadapi juga besar. Persaingan usaha yang kerap tidak fair. Misal tidak ada aturan yang membatasi persaingan pemodal besar dengan UKM misalnya. Usaha kecil akan dengan mudah digilas pengusaha besar dalam marketing dan harga.
Apalagi jika memilih untuk bertani. Bisa dikatakan bertani itu bisa balik modal saja sudah bersyukur. Lebih sering merugi karena gagal panen dan harga anjlok saat panen raya. Padahal menjadi petani butuh modal dan keahlian khusus. Petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk, benih dan upah pekerja. Hal inilah yang membuat sebagian besar anak muda lebih memilih merantau menjadi buruh pabrik ketimbang menjadi petani.
Mengapa semua profesi diatas tidak menjanjikan kesejahteraan? Tentu saja kita perlu merenungkan hal ini. Jika berpikir secara ekonomi maka bisa disimpulkan bahwa besarnya modal tidak berbanding lurus dengan keuntungan yang dihasilkan. Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan utama bagi mereka dalam memilih sebuah pekerjaan. Jadi persoalannya bukan pada keterbatasan lapangan kerja.
Hal ini terjadi sebab negara memberlakukan sistem bernegara yang berasaskan kapitalisme demokrasi. Sistem ini meniscayakan kekuasaan dipimpin oleh orang-orang yang menjadi perpanjangan tangan penguasa. Sebab dalam pemilihan para pemangku kekuasaan memang sudah secara sistemik diatur oleh pemilik modal. Dan hasilnya, semua perundang-undangan yang mengatur hajat hidup rakyat berada di tangan penguasa yang sarat kepentingan. Sistem bernegara kapitalisme demokrasi ini menjadi biang keladi semua problematika umat.
Namun tidak demikian dengan Islam. Dalam sistem Islam, Hal ini disandarkan pada syarak sebagaimana sabda Nabi saw.: Imam adalah seorang pemimpin dan dia dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya (HR Bukhari dan Muslim). Artinya seorang pemimpin suatu negara wajib menjamin semua kebutuhan dasar rakyat berupa sandang, pangan dan papan secara tidak langsung. Jaminan itu adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negaranya.
Meskipun berkewajiban mencari nafkah, namun kebutuhan dasar lainnya yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan dijamin secara langsung oleh negara. Artinya rakyat tidak perlu memikirkan biaya pendidikan anak, biaya berobat jika sakit dan keamanan. Maka bisa dibayangkan, gaji yang diperoleh hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan. Itu pun dijamin ketersediaannya dan harga yang terjangkau. Karena dalam Islam, kebutuhan pokok tidak termasuk dalam sektor ekonomi.
Walhasil, hidup di bawah cengkeraman kapitalisme ini hanya menghasilkan kesengsaraan yang sistematik. Maka tegaknya sistem Islam adalah sebuah kebutuhan yang mendesak. Demi berlangsungnya kembali kehidupan Islam dan menegakkan hukum Allah di muka bumi ini kembali.
Wallahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment