Kurikulum Industri Membajak Potensi Intelektual Generasi


Penulis : Aisha Besima (Aktivis Muslimah Banua)

Target pendidikan era pemerintahan sekarang ini akan menitikberatkan aspek kompetensi (kemampuan) khususnya menghadapi tuntutan dunia kerja yang makin berkembang. Dalam aspek pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim merancang draf Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020—2035. Dalam PJPN tersebut, disebutkan visi pendidikan Indonesia 2035 adalah “Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila”. Sumber daya manusia (SDM) unggul yang dipersiapkan bukan berbasis penguasaan ilmu demi kemandirian bangsa, tetapi dipersiapkan berdasarkan tren pasar lapangan kerja global demi memenuhi Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
Dari arah pendidikan diatas nyata sekali kemana arah pendidikan kita akan dibawa, nampak sekali Menteri Nadiem lebih memilih orientasi kompetensi, ketimbang karakter. Yakni bagaimana membekali peserta didik agar siap menghadapi era disrupsi dalam konteks siap memasuki dunia kerja yang terus berkembang. Pendidikan akhirnya berorientasi menghasilkan generasi pekerja dan budak teknologi. 

Baru-baru ini Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Di era yang penuh disrupsi seperti sekarang ini, kata dia, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri sangat penting. Jokowi meminta perguruan tinggi memfasilitasi mahasiswa untuk belajar kepada siapa pun juga, di mana pun juga, dan tentang apa pun juga. Pembelajaran dari para praktisi dan pelaku industri dinilai sangat penting. Kurikulum seharusnya memberikan bobot SKS yang jauh lebih besar untuk mahasiswa belajar dari praktisi dan industri.(kompas.com, Selasa 27/7/2021).

Pemerintah makin serius memastikan kurikulum kampus adalah kurikulum industri, bukan kurikulum berorientasi intelektual inovatif. Maka harus dipahami, bahwa yang digarap oleh pendidikan sejatinya bukan hanya masalah kompetensi. Pendidikan juga harus membentuk SDM berkarakter sahih.

Pendidikan harus dirancang untuk menuntaskan persoalan SDM bangsa secara umum. Dan jika ditelusuri, maka problem karakter bahkan lebih menonjol ketimbang kompetensi. Harus diakui, berbagai persoalan bangsa justru banyak disebabkan oleh rendah atau rusaknya karakter (kepribadian) manusianya. Misalnya korupsi, kejahatan, perampasan aset negara, keserakahan manusia yang bisa berimbas kepada kemiskinan, hingga problem kesalahpahaman terhadap ajaran agama yang berujung konflik horizontal.
Di tingkat peserta didik sendiri, banyak sekali problem perilaku menyimpang. Gaya hidup hedonis, pergaulan bebas, tawuran pelajar, rendahnya adab siswa kepada guru, rendahnya pemahaman terhadap agama, semua ini sangat mengkhawatirkan dan menyakitkan. Karenanya, masalah pembangunan karakter (kepribadian Islami) ini sangat penting untuk disasar oleh sistem pendidikan.

Memang benar, kompetensi atau kualitas memahami dan menangkap peluang teknologi pada sebagian pelajar dan mahasiswa Indonesia masih kurang. Namun ini semua punya musabab. Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa konsep Mendikbud baru telah memisahkan (mengesampingkan) pembentukan kepribadian dari kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi. Atau dengan kata lain, pendidikan akan dirancang makin sekuler. Yakni menghasilkan manusia-manusia yang mumpuni teknologi, namun minim kepribadian Islamnya.

Ini tentu tidak boleh dan berbahaya. Mereka akan mudah menjual kemampuannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk membangun masyarakat. Padahal, pendidikan diselenggarakan untuk membangun masyarakat. Kebijakan menteri Nadiem juga diduga kuat akan memalingkan dari hakikat pendidikan yang semestinya. 

Pendidikan yang berorientasi pekerjaan, inilah ciri pendidikan dalam sistem kapitalis. Konsep Knowledge Based Economy (KBE) mengharuskan ilmu (pendidikan) menjadi dasar (kunci) bagi pertumbuhan (keberhasilan) ekonomi. Ilmu menjadi faktor produksi. Sehingga pendidikan harus diarahkan untuk kepentingan ekonomi, bukan semata-mata ilmu apalagi berperan bagi pembentukan kepribadian (karakter). Program Menteri Nadiem tidak sinkron dengan problem utama pendidikan di Indonesia.

Tapi problem utamanya terkait dengan sudut pandang penguasa terhadap tugas melayani pendidikan rakyat. Juga terkait dengan asas kapitalisme yang selama ini mendasari sistem pendidikan Indonesia sehingga kurikulum dan tata kelola sekolahnya jauh dari konsep Islam. Inilah yang menjadikan pendidikan mandul dan tidak produktif.

Jelas sudah, pendidikan harus segera dikembalikan dalam rangka meraih output generasi dalam posisinya selaku makhluk Allah Swt., sebagaimana firman Allah Swt., “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Mereka juga harus diarahkan agar mampu mengemban amanah akhirat, sebagaimana firman Allah Swt., “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [03]: 110).

Pendidikan, harus mengakomodasi kurikulum sahih berdasarkan visi-misi besar pewujud khairu ummah. Murid-murid diisi dengan aspek ruhiyah dan dididik dengan target besar untuk menjadi sosok-sosok yang berkepribadian Islam. Intelektualitas yang diperoleh melalui proses pembelajaran akademik semata-mata untuk meraih derajat takwa. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya terstrukttur dan sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi.

Gerbong utama lahirnya generasi unggul adalah pendidikan. Orientasi pendidikan dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya terstrukttur dan sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Dalam Islam, pendidikan tidak sekadar berorientasi mengejar lulusan siap kerja. Namun, orientasi lulusannya haruslah berimbang antara dunia dan akhirat. Pada aspek dunia, mereka dibekali saintek, keterampilan, dan semua hal yang dibutuhkan agar berdaya guna di tengah masyarakat. Ilmunya digunakan untuk sebesar-besar kemaslahatan umat.

Dalam aspek akhirat, ia akan bertumbuh menjadi generasi yang memiliki kepribadian mulia. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang tak hanya pandai ilmu saintek. Mereka juga cakap dalam ilmu agama. Pendidikan Islam juga mendorong para lulusan bermental pemimpin peradaban.

Islam memadukan orientasi dunia dan akhirat menjadi satu kesatuan. Selain berhasil membentuk generasi mulia yang beradab, Islam juga sukses mencetak SDM unggul di segala bidang. Baik politik, ekonomi, sosial, dan saintek. Semua itu didorong political will berasas ideologi Islam. Hal ini hanya bisa tercipta dengan tegaknya negara yang menerapkan sistem Islam dalam Khilafah.

Post a Comment

Previous Post Next Post