Sekularisme Persulit Kemudahan, Mempermudah ke Bathilan

Oleh :  Melitasari 

2019 segera berlalu,  menjelang tahun baru 2020 di era Jokowi - Maruf amin ini banyak peraturan  yang membuat resah masyarakat. Terutama membuat resah  para jomblowers yang ingin mengganti  status kejombloannya menjadi menikah di Kartu Tanda Penduduk (KTP). pasalnya baru-baru ini terdengar kabar yang tak sedap.

Dilansir TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi mengatakan bahwa calon pengantin tidak boleh menikah jika belum memiliki sertifikat layak kawin.

"Ya sebelum lulus mengikuti pembekalan enggak boleh nikah," kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 14 November 2019.
Statement Kemenko (PMK RI) ini tak dapat diterima begitu saja masa iya yang ingin statusnya Syah menjadi pasangan halal tidak boleh menikah sebelum lulus pembekalan? Memangnya standarisasi layak tak layak menikah  ada pada sertifikat yang dikeluarkan pemerintah?

Menurut Maruf amin tujuan sertifikasi perkawinan ini untuk membentuk keluarga sehat dan sejahtera dan untuk menekan angka perceraian. Namun jika pasangan pengantin tidak lulus sertifikasi maka tidak boleh menikah hal ini tentu akan menimbulkan  kemaksiatan merajalela. Bukannya mewujudkan keluarga sejahtera, tapi malah memberi potensi buruk bagi generasi penerus bangsa.

Pada dasarnya menikah adalah ibadah untuk menyempurnakan separuh agama, menikah juga merupakan solusi untuk menyatukan dua insan antara laki-laki dan perempuan yang telah sama-sama siap membina rumah tangga. Adanya mempelai pria, mempelai wanita, wali, dua orang saksi laki-laki dan ijab qobul pernikahan bisa dilaksanakan.

Namun faktanya di era kapitalis saat ini pernikahan adalah momok yang memberatkan, pasalnya selain tradisi, resepsi juga memerlukan biaya yang sangat tinggi belum lagi mas kawin yang diminta oleh pihak perempuan kerap kali memberatkan dan akhirnya perlu persiapan dan kemapanan dipihak laki-laki . Sebab itu banyak laki-laki yang hanya bisa mengumbar janji bukan menikahi , dan akhirnya membuka ruang perzinahan dimana-mana.

Ditambah lagi peraturan tentang sertifikasi pra nikah dengan statement sebelum lulus mengikuti pembekalan enggak boleh menikah, aduhai nestapa sudah bagi para jomblowers yang ingin melepas masa lajang. sudah biaya nikah mahal semakin dipersulit pula dengan peraturan yang meresahkan. Lagi-lagi sekulerisasi mempersulit segala kemudahan yang telah dianjurkan syari'at, namun justru mempermudah kebathilan dengan segala upaya penghalangnya.

Islam telah mengatur segala hal dengan baik dalam tuntunan syari'at , termasuk perihal layak tidak layaknya seseorang menikah. Hukum menikah itu ada 5 Wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah dan ketentuan ini adalah menurut Allah SWT yang telah diatur berdasarkan fitrah manusia, tidak ribet apalagi mempersulit. Hal ini karena Allah lah yang maha tahu segala sesuatu tentang makhluk nya.
Pembekalan keagamaan tak cukup didapat dalam pelatihan pra nikah saja, sudah memang seharusnya sebagai umat Islam  menjadikan agama adalah pondasi dasar dalam rumah tangga ataupun kehidupan lainnya. Dengan kata lain Islam adalah solusi dari segala persoalan hidup yang segala aturannya adalah dilandaskan sesuai Qur'an dan Sunnah , tidak pernah memberikan kekecewaan kepada siapa saja yang berpegang teguh kepada nya WalLahu a'lam bishowab .

Post a Comment

Previous Post Next Post