Kontemplasi Harga Diri Muslim Sejati

Oleh : Jafisa 
(Aktifis Dakwah Remaja dan Penanggung Jawab Pena Muslimah Cilacap) 

Masih melekat erat dalam ingatan, ketika ia membunuh ibunda tercinta dihadapan muka. Hingga Allah laknat jasadnya tak diterima bumi. Tidak aneh, jika hari ini para pemangku jabatan beramai-ramai  menziarahi makam penghianat agama. Karena mereka memiliki misi yang sama yakni mengamputasi nilai-nilai agama dan membatasi agama hanya sebatas pada ruang lingkup yang sempit. Adalah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berziarah ke makam Mustafa Kemal Ataturk, di Museum Anetkabir, Ankara, Turki. Ataturk adalah pendiri Republik Turki dan peletak dasar sekularisme di negara tersebut.

Ziarah tersebut dilakukan Prabowo di sela kunjungannya ke Turki untuk membicarakan kerja sama antarkedua negara di bidang pertahanan. Staf Khusus Menteri Pertahanan RI Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antara Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan ziarah tersebut sebagai kunjungan perdana Prabowo ke Turki setelah menjabat Menhan. Kunjungan itu dilakukan setelah Prabowo melakukan pertemuan dengan pejabat negara di Turki. Indonesia kata Dahnil melakukan pembicaraan kerja sama pertahanan dan industri pertahanan di Istanbul bersama Angkatan laut Turki. Dalam rangkaian kunjungannya ke Turki Menhan juga melakukan pembicaraan bilateral dengan Menhan Turki Hulusi Akar, di kantor Kemhan Turki pada Kamis (28/11/2019).

Dalam kesempatan yang sama, kedua Menhan jugamenyampaikan rasa optimisnya atas kerjasama industri pertahanan kedua negara sahabat yang telah terjalin dengan baik. Ataturk (1881-1938) adalah Presiden Pertama Turki. Dia memimpin Turki dari 1923 sampai dengan kamatiannya pada 10 November 1938. Ataturk meletakkan prinsip-prinsip sekularisme dalam kehidupan bernegara di Turki dan sering disebut sebagai Bapak Sekularisme Turki. Ideloginya dikenal dengan nama Kemalisme atau Ataturkisme, yang secara tegas memisahkan agama, khususnya Islam warisan Kerajaan Ottoman, dalam praktik bernegara. https://amp.suara.com/news/2019/11/29/185401/terbang-ke-turki-prabowo-ziarah-ke-makam-bapak-sekulerisme-kemal-ataturk
..

Menjadi seorang Muslim maka harus mengetahui batasan-batasan yang harus difahami. Terlebih dalam menilai norma kehidupan hari ini. Dimana nilai kehidupan tidak berasal dari nilai islami dan bertolak ukur duniawi. Dunia mengenal Mustafa Kemal Att-taturk sebagai seorang bapak presiden yang pengenalkan dan menerapkan nilai-nilai Sekularisme  (faham pemisahan agama dari kehidupan) yang bertentangan dengan faham didalam islam pertama kali di Turkey. Kemal juga merupakan seorang yang menghancurkan kepemimpinan umum umat islam terakhir di Turki yang dipimpin dari kalangan dinasty Ottoman. Selain itu, Kemal juga disebut dalam sejarah sebagai penghianat umat Islam. Begitu hina predikat yang didapatkanya bahkan Allah juluki orang-orang semisal Kemal sebagai Laknatullah 'alaih  (orang yang di laknat Allah), saking laknat nya bahkan bumi pun tak sudi menerima jasadnya.

Jika melihat posisi Kemal dengan kacamata Islam tentu teripsirat kemarahan yang amat mendalam bagi umat islam. Namun jika melihat posisi Kemal dengan kacamata selain islam, maka akan dijumpai sosok pahlawan kemerdekaan yang berhasil melepaskan orang-orang Turkey dibawah kepemimpinan dan peraturan syari'at Islam. Mustafa Kemal telah mengubur peradaban Islam dari bumi Turki. Tahun 1925 M/ 1344 H masjid-masjid ditutup dan pemerintah memberangus semua gerakan keagamaan dengan segala kebengisannya..

Kita tidak bisa menghapus sejarah. Jika kita menimbang sesuatu dengan mendala, akan kita dapati sejarah kelam Mustafa Kemal Att-taturk yang dipenuhi dengan darah kaum Muslim. Namun, sangat miris jika hari ini Mustafa Kemal Att-taturk disanjung-sanjung oleh beberapa penguasa dan pemimpin negeri kita. Semua itu juga tidak terlepas dari distorsi dan reduksi para pemegang kekuasaan dunia hari ini. Mereka mampu membalikan dan menggulirkan opini buruk menjadi seolah-olah baik, begitu juga sebaliknya. 

Sebagai seorang Muslim menyanjung dan menghormati seorang penghianat agama lagi laknat itu merupakan kesalahan yang fatal. Bahkan menjadikan mereka seorang sahabat atau pemimpin diantara kita merupakan  kesalahan yang membahayakan umat. Penyanjungan Prabowo terhadap Bapak Sekularisme ini merupakan  tindakan yang dilarang agama dan termasuk sikap jahil  (bodoh) dalam memahami agama, untuk itu, kita wajib menjauhi perbuatan tersebut.

Jika sudah demikian, sebaiknya berkontemplasi terhadap status keislaman menjadi penting, jika tidak, status keislaman menjadi Abu-abu. Sementara hidup hanya ada dua pilihan, menjadi muslim or kafir, memilih putih atau hitam. Jika memilih Abu-abu sama halnya terkategori hitam, mengapa tidak memilih yang putih saja? Saat kita melakukan perjalanan menuju suatu tempat, maka kita memerlukan petunjuk untuk sampai pada satu kota tertentu. Sebagai contoh, kita akan berkunjung ke kota A. Maka kita harus menggunakan tranportasi kereta dan melewati route atau tampat-tempat lainnya, kemudian menggunakan jasa angkutan umum agar nantinya sampai pada tempat tujuan. Pekan berikutnya, kita akan berkunjung ke kota B. Karena tujuan berbeda dengan kota A, transportasi dan route yang dilalui pun berbeda. Untuk sampai pada kota B, kita hanya perlu menggunakan mobil dan menempuhnya dengan beberapa jam saja.

Ilustrasi tersebut menggambarkan bagaimana keadaan kita saat menempuh perjalanan panjang menuju akhirat. Surga dan neraka telah disiapkan oleh Allah. Jika surga adalah tempat yang kita dambakan, maka kita harus mencari pentujuk agar sampai pada tempat terindah itu. Dari mana kita mendapat petunjuk tersebut? Tentunya dari Al-Qur’an dan sunnah. Untuk menuju surga, Allah telah menunjukkan route-rote yang harus dilalui. Akan tetapi ketika kita tidak melalui jalan yang telah ditunjukkan Allah, maka kita telah menempuh jalan yang salah, yang berujung pada neraka.

Allah berfirman dalam surah Al-Balad: 8-10: 

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir? Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Sayyid Quthb dalam manfsirkan ayat tersebut menuturkan bahwa Allah memberikan potensi-potensi khusus untuk mengetahui kebaikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan. An-Najd adalah jalan yang mendaki. Allah berkehendak memberinya kemampuan untuk menempuh jalan-jalan mana yang dikehendakinya. Dan juga potensi tersebut dapat memudahkannya untuk menjalankan fungsi dan perannya di bumi ini. Allah menyediakan surga dan neraka sebagai balasan dari amalan manusia selama hidup di dunia. Neraka adalah tempat yang sangat menyengsarakan bagi manusia yang selalu berbuat kemungkaran dan tidak taat pada perintah Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mushlih, Allah menyediakan surga dan seluruh keindahan di dalamnya sebagai ganjaran bagi mereka.

Di dalam Al-Qur’an dan sunnah, Allah menjelaskan larangan dan perintah-Nya. Allah menjelaskan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dikerjakan. Ayat-ayat Allah juga menjelaskan hal-hal apa saja yang akan menjerumuskan kita dan apa saja yang memberikan manfaat kepada kita. Untuk sampai pada surga Allah, manusia memerlukan petunjuk, jalan dan sarana amalan apa saja untuk sampai pada surga. Petunjuk tersebut tidak sulit dicari ketika kita dapat menggunakan pemberian Allah dengan baik. Semua petunjuk tersebut sudah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an dan teladan Rasulullah dalam sunnahnya. Jika kita memiliki potensi yang baik dalam mentadabburi ayat-ayat Allah, sudah tentu kita mengetahui jalan mana saja untuk menuju surga.

Rasulullah bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berupaya maksimal terhadap nikmat dan karunia yang diberikan oleh-Nya. Karena pemberian tersebut yang akan mengantarkan kita pada jalan kebenaran. Panca indera yang diberikan oleh Allah harus digunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah. Karena di akhirat nanti Allah akan meminta pertanggung jawaban dari indera yang kita miliki. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-A’raf: 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya akan Kami isi nerakan jahannan banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat- ayat-Nya dengan cara istidraj .” [QS: Al-A’raf: 179]

Selain itu, pemberian Allah yang juga harus dimanfaatkan untuk mencari kebenaran adalah akal. Akal yang ada pada manusia memiliki potensi besar dalam menemukan petunjuk Allah agar sampai pada surga yang dijanjikan Allah. Akal, apabila dididik dengan baik, maka ia akan mengahasilkan ilmu yang akan menghindarkan seseorang dari jalan kesesatan. Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allâh Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.

Secara harfiah, ‘aql berarti al-imsak ‘menahan’, al-ribath ‘ikatan’, al-nahy ‘melarang’. Orang yang berakal (al-aqil) adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya. Menurut Abdul Fattah Jalal, kata ‘aql dalam Al-Qur’an tidak berbentuk isim (kata benda) melainkan terdiri dari  fi’il (kata kerja). Ini dapat dijadikan petunjuk penting bahwa akal bukan sekedar benda atau sel hidup, yang lebih penting dari itu adalah akal untuk bekerja dan berpikir. Sebagai kata kerja, ‘aqala dengan segala akar katanya terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 49 tempat.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.” [QS: Al-Baqarah: 164]

Demikian pentingnya kedudukan akal dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah selalu memuji hamba-Nya yang berpikir dan menggunakan akal dengan baik. Begitu juga sebaliknya, Allah sangat mencela terhadap orang yang menyalah gunakan akal atau lebih memenangkan hawa nafsu dari pada akal pikirannya. Dalam Al-Qur’an mengapa Allah tidak mengatakan Afala ta’kilun (mengapa kamu tidak makan?) atau Afala tasyrobun (mengapa kamu tidak minum). Akan tetapi, firman Allah menyebutkan La’allakun ta’qilun (agar kalian mengerti), Afalaa ta’qilun (maka tidakkah kamu mengerti?), La’allakum tatafakkarun (agar kalian berfikir), adalah salah satu pesan tersirat agar manusia menggunakan akalnya dengan baik sehingga ia memiliki ilmu untunk sampai pada kebenaran. Pada akhirnya, kita wajib menggunakan akal sehat yang dikaitkandengan dalil syara' agar segala aktifitas yang dilakukan mampu mangantarkan kepada surga.

Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]

Post a Comment

Previous Post Next Post