By : Novianti
Seandainya Rasulullah tidak berdakwah, dunia sudah berada dalam kehancuran. Manusia tersesat dalam kesyirikan, berhala jadi sesembahan. Rakyat dan budak ibarat sawah yang harus dipanen untuk penguasa bersenang senang. Tak ada kemuliaan dan penghormatan pada perempuan. Pelacuran, perbuatan keji terus diwariskan.
Namun Rasulullah rela menjalani hinaan, celaan, ancaman bahkan tindakan fisik untuk mendakwahkan islam. Berbagai tuduhan dialamatkan mulai dari orang gila, dukun, hingga tukang sihir. Punggung beliau ditumpahi kotoran diantara kedua bahunya saat bersujud sementara di sekelilingnya manusia congkak terbahak bahak.
Wajah beliau diludahi, tulang yang tertumbuk halus ditiupkan, baju dirobek, tengkuk beliau diinjak injak, hingga tumit beliau berdarah dan sandalnya bersimbah darah.
Duhai ....kekasih Allah.. engkau rela menjalani semua demi keselamatan umat manusia. Engkau tidur hanya beralaskan anyaman pelepah kurma hingga punggungmu berbekas.
Dan saat ajal sudah menjelang, budak budaknya dilepaskan, tombak baju perang semua diwakafkan. Menjelang kematian beliau menangis sambil berucap ," Aku merindukan saudara-saudaraku seiman...yaitu mereka yang beriman padaku sedang mereka belum pernah melihat."
Duhai kekasih Allah, manusia mulia yang rela tidur beralaskan pelepah kurma, tinggal dalam rumah yang begitu sederhana sementara dunia terbentang di hadapannya.
Karena perjuangan dakwah Rasulullah, kita merasakan nikmatnya iman meski berabad abad terbentang jarak diantara kita dan beliau. Duhai kekasih Allah, yang saat kematian nama kita disebut sebut ,"Umatku..umatku.."
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. Berat terasa oleh dia penderitaan kalian. Dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Dia amat belas kasihan lagi penyayang kepada kaum Mukmin. (QS at-Taubah [9]: 128).
Allahumma sholli 'ala Muhammad.
Membaca kisah Nabi Muhammad, menggambarkan betapa besar kecintaan beliau pada umatnya. Demikian besar beliau mencintai umat manusia hingga mencampakkan semua kemewahan.
Dan sebagaimana yang saling mencintai, tentu berharap untuk berjumpa.
Bersabda Rasulullah SAW : ”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga)."
Tidakkah kita mendambakan pertemuan tersebut? Kita akan bersama beliau jika mencintai beliau.
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai.” (HR al-Bukhari).
Mengimani kenabian Muhamamad saw. harus diikuti dengan mencintai dan mengikuti kehidupan beliau. Mencintai Nabi tidak sama sebagaimana mencintai sesama manusia. Kecintaan seorang muslim kepada nabi harus di atas kecintaan kepada yang lain, baik itu harta, kedudukan, jabatan, keluarga bahkan dirinya sendiri.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Belum sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dicintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia (HR al-Bukhari).
Mencintai nabi adalah bukti mencintai Allah sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Ali Imran ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayaang.
Jalan hidup beliau setelah diangkat menjadi nabi adalah menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya. Dengan demikian, seyogyanya dakwah adalah poros kehidupan muslim sebagai wujud nyata kecintaan pada nabi, melanjutkan risalah beliau, melestarikan sunnah beliau, berjuang menegakkan hukum yang beliau bawa yaitu hukum islam.
Dengan upaya berdakwah untuk kembali mewujudkan kehidupan dalam naungan hukum islam, semoga kita bisa bersama kekasih kita, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kelak di akhirat.

No comments:
Post a Comment