Nn, Yaman ~ Perang yang terus berkecamuk di Yaman, membuat Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi menunjuk mantan perdana menteri, Khaled Bahah sebagai Wakil presiden pada Ahad (12/4) kemarin. Langkah ini diambil bertujuan untuk meningkatkan penyelesain damai atas perang saudara yang memaksa Hadi harus melarikan diri ke Arab Saudi.


"Presiden mengeluarkan perintah hari ini menunjuk Khaled Bahah sebagai wakilnya," kata sebuah sumber yang merupakan penasihat Presiden Hadi, dilansir dari Reuters.

Ditunjuknya Bahah oleh Hadi, karena Bahan merupakan tokoh yang cukup disegani di seluruh penjuru Yaman, bahkan diantara pihak yang bertikai. Hadi berharap Bahah bisa menenangkan ketegangan dan membawa pihak yang bertikai ke meja perundingan agar adanya solusi perdamaian diantara kedua belah pihak. n.

"Penunjukan Bahah dapat membantu mencari solusi politik sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali proses dialog yang disponsori oleh PBB," kata seorang ajudan Hadi dilansir dari Reuters.
Meliahat tanda-tandanya, perang ini sulit untuk berakhir dalam waktu dekat. Dalam dua pekan terakhir, koalisi serangan udara Internasional yang dipimpin Arab Saudi masih menghujani Yaman. Akibat serangan ini pasukan pemberontak Syiah Houthi mundur ke arah pelabuhan Aden, sebelum mundur dan mendapat serangan udara dari Arab Saudi, pasukan Syiah Houthi berhasil menguasai ibu kota Sanaa.
Ban Ki-moon selaku Sekretaris jendral PBB, menyatakan prihatin dengan pertempuran yang terjadi di Yaman. Beliau mendesak agar pihak yang bertikai dapat melakukan pembicaraan damai dan menghentikan perang saudara yang banyak menimbulkan korban jiwa.

"Di Yaman, saya sangat keberatan dengan Houthi yang berusaha untuk mengendalikan negara dengan kekerasan. Ini tidak bisa diterima. Tapi saya juga sangat prihatin tentang eskalasi militer," kata Ban kepada wartawan di ibukota Qatar, Doha.

"Krisis internal Yaman seharusnya tidak diperbolehkan untuk tumbuh menjadi konflik regional yang berlarut-larut. Kami sangat membutuhkan de-eskalasi dan kembali ke perundingan damai,"  ujar Ban Ki-moon menambahkan.

Panggilan dari Iran kepada Arab Saudi guna mengakhiri serangan udara nampaknya tidak dihiraukan. Arab Saudi terus menggempur pasukan pemberontak. Ahad kemarin (12/4), angkatan udara Arab Saudi berhasil menghancurkan kamp militer di Taiz. Serangan ini bukan hanya melumpuhkan pasukan pemberontak namun juga menewaskan delapan warga sipil, menurut sumber dari rumah sakit disana.

Arab Saudi menargetkan sejumlah markas tentara yang setia dengan mantan presiden terguling Ali Abdullah Saleh yang kini bergabung dengan para pejuang Houthi. Tahun 2012, Saleh terpaksa melepaskan jabatannya akibat protes besar-besaran rakyat Yaman yang tidak senang dengan kepemimpinannya. Namun, loyalis Saleh di militer kini berjuang bersama Houthi.

Saat ini pemerintah Yaman didukung sekutu kentalnya Saudi, sedngkan Houthi didukung Teheran. Konflik ini bisa mengguncang Timur Tengah dan perpotensi menghancurkan negara Yaman.

Sementara itu dalam penyampaiannya, Menteri Luar Negeri Saudi, Saud al- Faisal dengan lantang mengatakan Iran tidak bisa meminta kami untuk pertempuran di Yaman, saat konferensi pers di Riyadh dengan Presiden Perancis Laurent Fabius.

"Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman," lanjut Faisal.

Serangan udara Saudi juga menuai protes dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang pekan lalu menyatakan bahwa serangan tersebut adalah "tindak kejahatan dan genosida".


Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyerukan gencatan senjata dan dialog di antara faksi-faksi Yaman. Namun, Iran menyangkal bahwa pihaknya mendukung kelompok militan Syiah Houthi.(alang)