Nn, Kathmandu ~ Nepal dilanda gempa dengan kekuatan 7,9 Skala Richter pada Sabtu (24/4) lalu. Gempa ini mengakibatkan banyaknya korban jiwa baik dari warga sipil maupun para pendaki gunung Himalaya.

Gempa 7,9 SR bukan hanya meruntuhkan bangunan di kota Kathmandu tapi juga mengakibatkan longsor di Pegunungan Everest.

Khile Sherpa salah seorang pendaki menceritakan bagaimana kejadian kala ia tertimbun longsor. Saat melakukan pendakian Khile merasakan guncangan gempa tersebut dan melihat adanya longsor kala ia melalui rute pendakian ke puncak tertinggi dunia ini. Seketika longsor tersebut menimpa dirinya dan saat tersadar ia melihat salju yang menghantam dirinya berwarna merah karena bercampur dengan darah yang keluar dari tubuhnya. Badannya penuh luka akibat tertimbun longsoran salju saat dia berhenti di base camp pendakian di Gunung Everest saat membuat makan siang pada Sabtu itu.

Khile adalah salah satu dari 15 pendaki yang berhasil menyelamatkan diri ke Kathmandu sehari setelah bencana gempa 7,9 skala Richter mengguncang Nepal dan memicu longsor di Pegunungan Everest.

Seperti ribuan korban lainnya, khile dengan pasrah menunggu pengobatan di pelataran rumah sakit Medical College di Kathmadu.

Lain halnya dengan Ellen Gallant, pendaki asal Amerika Serikat ini merupakan ahli kardiologi masih belum juga turun, karena ia masih berupaya menyelamatkan para pendaki lainnya yang masih berada di pegunungan tersebut.

"Saya sedang berada di luar dan melihat hantaman awan besar datang. Saya lari ke tenda dan menghempaskan diri sendiri ke lantai. Saat getaran berhenti, saya keluar dan menghubungi tenda medis melalui radio. Mereka meminta saya dan seorang pendaki India (seorang dokter dari tentara India) untuk melakukan perawatan luka kepala," tutur Gallant seperti dikutip The Telegraph.

Gallant bersama dokter India tersebut berjuang mati-matian untuk melakukan pengobatan. "Sekitar pukul 06.00, kami mendengar suara helikopter dan kami sadar bahwa kami dapat menggotong mereka keluar. Kami berhasil menyelamatkan nyawa delapan orang," papar Gallant.

Menurut Gallant, sebenarnya ada sembilan pasien yang mereka tangani malam itu. Salah satu pasien tak dapat mereka selamatkan. Meskipun bencana tersebut meninggalkan trauma mendalam di batin Gallant dan beberapa orang lain, masih ada pendaki yang ingin melanjutkan petualangan.

"Kami akan melanjutkan jika cuaca memungkinkan. Pendakian gunung sebagai olahraga, Anda sudah tahu bahwa Anda mungkin tidak akan kembali. Ada garis yang sangat tipis di sini," ujar Vajpai, seorang pendaki di salah satu puncak Everest, Makalu, yang berhasil selamat dari timbunan longsor.

Dengan tekad kuat seperti Vajpai, seorang pendaki asal Tiongkok, Mali Yamu, yang kini terkulai lemas akibat cedera tulang rusuk di depan Medical College, mengaku bahwa menyerah bukanlah pilihan.


Masih dengan alat daki di tubuhnya, Yamu diangkat ke kursi roda untuk dipindahkan ke dalam tenda, berkumpul dengan keluarganya yang lain.

Sebelumnya, tim pendaki gunung dari tentara India, telah menemukan 18 jenazah Sabtu (25/4), tepatnya satu jam pertama setelah gempa, sementara ratusan lain masih terperangkap karena buruknya cuaca. (Carleone)