Nusantaranews, Taichung City -- Untuk kedua kalinya, ilmuan Indonesia kembali berkumpul di Taiwan dalam sebuah event tahunan yang bertajuk Annual Indonesian Scholars Conference in Taiwan (AISC-Taiwan) 2011. Pertemuan ilmiah dalam rangka presentasi hasil penelitian ilmuan-ilmuan muda Indonesia ini mengangkat tema : Becoming “Asian Tiger" through modern agriculture-based Industry : revitalization and modernization of education, technology, economy, and investment climate in agricultural sector. Acara inti AISC-Taiwan 2011 yang berupa conference berlangsung pada tanggal 19 Maret 2011 di Asia University. Selain itu, pada tanggal 20 Maret 2011 juga diselenggarakan field trip ke Sun Moon Lake dan Fengchia Night Market untuk refreshment bagi peserta yang hari sebelumnya sudah mempresentasikan papernya di depan partisipan lain.

Acara dibuka dengan hiburan angklung dari mahasiswa NTUST-ISA (National Taiwan University of Science and Technology-Indonesian Students Association) dan dilanjutkan dengan Tari Saman persembahan para mahasiswi Asia University. Setelah beberapa sambutan dari Rektor Asia University, Wakil Kepala KDEI, Presiden FORMMIT dan Ketua Panitia, sesi utama pun dimulai.

Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS., mantan Menteri Pertanian Republik Indonesia, menjadi keynote speaker dengan menyampaikan paparan berjudul Roadmap of Indonesia Agriculture : The strategy to improve food self-sufficiency and global competition. Pada sesi utama ini, lulusan University of Reading, Inggris ini menyampaikan tentang strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi berkurangnya lahan pertanian, perubahan iklim, dan krisis pangan dunia. “Yang terpenting adalah keinginan kuat dan komitmen para pemimpin di pemerintahan dalam bidang politik dan penguatan semua stakeholders bidang pertanian (petani, extension workers, peneliti, sektor swasta, pemerintah, dll)”, jelasnya. “Manajemen sistem yang baik, dukungan penuh dari extension workers, pengamat hama dan pemerintah daerah, fasilitas produksi yang memadai (infrastruktur, benih, pupuk, air, dll), subsidi dan insentif yang sesuai, pengimplementasian intentifikasi dan ekstensifikasi pertanian, serta kebijakan yang tepat untuk harga beras juga harus dijalankan untuk dapat menjamin kecukupan pangan nasional”, imbuh mantan Menteri Pertanian RI yang berhasil membawa Indonesia swasembada beras di era jabatannya itu. Pada sesi terpisah, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB ini menyampaikan bahwa acara semacam ini sangat positif sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dan saling tukar informasi.

Setelah sesi utama usai, pukul 11.30 digelar sesi diskusi panel I di empat ruang terpisah. Para peserta yang telah mensubmit papernya melakukan presentasi  perbidang, meliputi bidang budaya, linguistik dan studi perubahan sosial; ekonomi, managemen dan bisnis; elektronik dan kontrol otomatik; komputer sains dan teknologi informasi; material dan manufaktur, infrastruktur dan managemen bencana, energi terbarukan dan perubahan iklim; lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, pertanian dan agrobisnis; serta bidang kesehatan dan farmasi.
Selanjutnya, pascaistirahat, sesi plenary speech pun dimulai. Tiga speakers dari tiga negara, Indonesia, Taiwan dan Jepang telah siap untuk menyampaikan materi presentasinya. Untuk giliran pertama, Dr. Jen-Chyuan Lee, Director of Food and Fertilizer Technology Center of The Asian Pasific Region (FFTC) membawakan tema Develop a competitive, market-oriented agriculture industry with the support of advanced technology. Associate Professor di National Taiwan University (NTU) ini menyampaikan informasi seputar teknologi mutakhir yang perlu digunakan dalam bidang agroindustri, seperti konservasi plasma nutfah, DNA sequencing, rekayasa genetik, structural and functional genomics, kultur jaringan, hingga kloning hewan. Beliau juga menggarisbawahi tentang pentingnya mengulang kesuksesan dalam berinovasi karena hal inilah yang akan menjadi titik kritis dalam pengembangan suatu perusahaan.

Walaupun tidak dapat hadir ke Taiwan karena bencana alam yang baru-baru ini melanda negaranya, Prof. Naoshi Kondo berhasil menyihir peserta dengan rekaman video presentasinya yang “hidup” dan sangat menarik. Profesor di Kyoto University yang telah berkecimpung dalam dunia robotik selama 30 tahun ini banyak menjelaskan tentang robotisasi pertanian. Selama 31 menit, Profesor berusia 50 tahun ini mempresentasikan materi berjudul ”The role of advanced agricultural technology on improving national agriculture competitiveness”. Dalam presentasinya, Prof. Kondo mengupas tentang berbagai robot pertanian, grading machine, pertanian presisi dan information traceablity dalam kaitannya dengan isu keamanan pangan, serta berbagai teknologi mutakhir yang telah diimplementasikan di Negeri Sakura. Terkait pengembangan robot pertanian sendiri, walaupun masih ditemui beberapa kelemahan, seperti biaya pembuatan robot yang mahal dan produktivitas yang masih perlu ditingkatkan, namun berbagai pengembangan dan perbaikan masih sangat potensial untuk dilakukan di masa yang akan datang.

Pembicara terakhir pada sesi plenary speech adalah Ibu Dina Setiawati, Direktur Bidang Investasi KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) yang memberikan presentasi berjudul “Indonesia’s efforts to improve Indonesia’s ease of doing business and its business climate”. Pemaparan dari Beliau cukup memberikan gambaran seputar iklim investasi, terutama dalam bidang pertanian di tanah air.

Setelah sesi plenary speech berakhir, diskusi panel II pun dimulai. Peserta paper yang tadi belum sempat mempresetasikan hasil penelitiannya, turut unjuk gigi di masing-masing ruang sesuai dengan bidang penelitiannya.

Pukul 17.30, semua peserta kembali ke conference hall untuk mengikuti rangkaian acara terakhir, yaitu round table discussion. Di sesi ini, para moderator diskusi panel memberikan resume tentang diskusi yang terjadi di tiap-tiap ruang diskusi. Pukul 18.30, Tari Rantak persembahan mahasiswa dan mahasiswi NTUST menutup acara AISC-Taiwan 2011.

“AISC-Taiwan 2011 adalah event yang membuat saya senang, sedih, terharu dan menambah sejuta wawasan, ilmu, dan pengalaman. Sungguh beruntung bisa menjadi bagian dari AISC-Taiwan 2011”, ungkap Ketua Panitia AISC-Taiwan 2011, David Agustriawan. “Harapan saya untuk AISC-Taiwan 2012, semoga bisa lebih sukses, memiliki kepanitiaan yang solid penuh kekeluargaan dan memberikan kebanggaan buat semua yang terlibat di event tahunan ini. Paling tidak kontribusi kecil inilah yang dapat kami lakukan sebagai mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri demi negara tercinta”, pungkas mahasiswa Biomedical Informatics di Asia University ini.

Acara ini digagas dan diselenggarakan oleh Indonesian Committee for Science and Technology Transfer in Taiwan (IC3T)–Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT). IC3T-FORMMIT baru berumur satu tahun dan diresmikan oleh Dr. Tjahjo Pranoto dari Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, pada AISC-Taiwan 2010 di kampus Southern Taiwan University (STU), Tainan, Taiwan. AISC-Taiwan 2011 terselenggara berkat dukungan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Kementrian Pendidikan Nasional, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia (MITI), Indonesian Society for Soft Computing (SC-INA), Council of Agriculture Taiwan (COA) dan Asia University sebagai host acara. IC3T/BP