Makam Syech Burhanuddin : by Ichsan

 Penulis : Ichsan

DI Nagari Ulakan Padangpariaman, terdapat sebuah makam tua yang telah berusia lebih kurang 321 tahun. Konon dimakam itu, terkubur jasad seorang ulama besar yang terkenal dengan nama Syekh Burhanuddin. Berdasarkan sejarah, Syech Burhanuddin dengan nama kecil Kanon atau ada sumber menyebut Pono, merupakan seorang penyebarluas pertama Agama Islam di Pariaman. Beliau menghembuskan nafas terakhir di usia 85 tahun pada 10 Safar 1111 H. Safar yang artinya menyatukan paham, pada dahulunya lebih dikenal dengan pengajian takziah. Sebutan Safar terbentuk atas kesepakatan Alim Ulama, yaitu melewati hari ke 10 yang bertepatan pada hari Rabu Bulan Kamsiyah.

Rabu, bertepatan dengan meninggalnya Syech Burhanuddin adalah hari yang biasanya paling ramai di datangi para pengunjung yang hendak berziarah ke makam beliau. Diperkirakan mencapai ratusan orang pengunjung yang datang setiap harinya. Bukan hanya dari Indonesia saja, bahkan turis mancanegarapun membanjiri turut berziarah ke makam ini.
Batu Hampar : : by Ichsan

Disekitar makam Syech Burhanuddin, juga terdapat makam-makam para pengikutnya yang senantiasa selalu menemani beliau hingga akhir hayat. Disana juga terlihat batu Hampar yang dulunya digunakan Syech Burhanuddin pada saat memukul kemaluannya ketika dihadapkan dengan ujian terakhir yang diberikan oleh sang guru.

Kanon katanya, batu Hampar tersebut mempunyai tuah atau mukjizat. Apabila batu itu disirami dengan air, kemudian diusapkan ke kepala, niscaya akan bisa menghilangkan segala rasa sakit yang ada di kepala.
Kanan, Redaktur nusantaranews.net : by Ichsan


Catatan sejarah, Syech Burhanuddin merupakan orang yang pertama kali menoreh sejarah, tidak pernah kawin di Pariaman. Kanon/ Pono, anak dari pasangan Sikapak dan Sikukuik (Cukiyah), pertama kali belajar tentang Islam oleh utusan dari Madinah yang bernama Ayah Hiddin. Beliau adalah guru pertama yang mengajarkan Agama Islam bidang Pekah (Pekih) kepada Sikanon.

Setelah memberikan pelajaran ilmu pengajian tentang Islam, Ayah Hiddin meninggalkan amanat kepada Sikanon, “bahwa nanti sepeninggal saya, tolong pelajaran pengajian yang saya berikan selama ini, dilanjutkan ke Aceh yang bertempat di Kuala”. Di Aceh, Sikanon bertemu dan belajar banyak dengan seorang guru yang bernama Bundo Ra’uf selama 30 tahun. Ketika selesai belajar disana, Bundo Ra’uf memberikan nama kepada Sikanon, yaitu “Syech Burhanuddin”.

Nara sumber : Hadi Imam Paman 
Seorang pelayan di makam Syech Burhanuddin