Oleh : Desi Wulan Sari

Setiap anak memilki mimpi untuk sukses di masa depan. Bermimpi bisa membahagiakan orang tua, dan bermimpi memiliki keluarga sakinah mawardah warrahmah adalah harapan tertinggi di dunia. Apakah itu semua satu hal yang pasti bisa diraih atau hanya sekedar angan-angan kosong belaka?

Jika kita yakin kepada Allah SWT, maka segala sesuatu menjadi mungkin bagi makhluknya. Tinggal bagaimana sang anak memiliki kesiapan untuk meraih itu semua. Kesuksesan seorang anak tak pernah lepas dari pengasuhan sang Ibu. Ibu seperti apa yang mampu membentuk karakter kuat, beriman, dan mendidik anaknya dengan pendidikan terbaik. Sang Ibu yang belajar mendidik hanya dari sumbernya yang Maha Memiliki Ilmu yaitu Allah SWT. 

Alangkah baiknya jika kita mengenal lebih jauh sosok ibu, wanita yang dijamin surga oleh Allah SWT, karena menjadi seorang pemgasuh yang baik dan diberkahi, sebagai suri tauladan para ibu dimanapun berada, yang bisa kita ambil ibroh dari cara pengasuhannya.  Beliau adalah Ummu Aiman Barakah Bintu Tsa'Labah.

Rasulullah SAW bersada:

"Siapa suka menikah dengan wanita dari penghuni surga, hendaklah dia menikah dengan Ummu Aiman."

Rasulullah SAW bersada:

"Ummu Aiman adalah ibuku sepeninggal ibuku."

Is adalah ibu asuh Rasulullah SAW, lalu menjadi istri bagi orang yang dicintai Nabi SAW, Zaid bin Haritsah, menjadi ibu bagi orang yang mati syahid, Aiman bin Ubaid Al Kharaziy, menjadi ibu bagi amir segala amir dan salah seorang penunggang kuda Rasulullah SAW yang sekaligus anak dari orang yang dicintai Rasulullah, yaitu Usamah bin Zaid r.a.

 Nama Aslinya Barakah bintu Tsa'Labah bin Anr bin Hism, seorang wanita keturunan Habasyiyah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ummu Aiman, yang dinisbatkan kepada nama anaknya Aiman dari suaminya Ubaid bin A Al-Habsyi. Dia juga biasa disebut maulatu Rasulullah SAW dan pembantu beliau. 

Wanita yang mulia ini mengenali Nabi SAW semenjak kecil. Mengenalinya ketika remaja dan ketika menjadi nabi serta rasul. Mengenali beliau sebagai suami, bapak dan kakek. Nabi SAW biasa memanggilnya "Wahai Ibu." 

Pengasuh yang baik
Muhammad bin Ishaq Rahimahullah dalam tulisan beliau di Shirah Nabawiyah menyebutkan bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib telah meningal dunia, senentara Nabi SAW masih berada di perut ibunya, Aminah bintu Wahb. Abdullah meninggalkan lima unta bagi janin. Sekumpulan domba, pedang pusaka, uang perak dan seorang budak wanita, yaitu Ummu Aiman Barakah Al-Habbasyiyah. Ummu Aiman ikut mengasuh Rasulullah SAW dan beliau biasa memanggilnya "ibuku."

Nabi SAW disusui di Bani Sa'ad. Pada usia lima tahun setelah disusul Halimah As-Sa'diyah, maka beliau diserahkan lagi kepada Ibunya Aminah. Ketika usia beliau mencapai enam tahun, sang Ibu mengajak beliau pergi ke Madinah untuk mengunjungi Bani An-Najar, bibi-bibi dari kakeknya Abdul Muthalib. Dalam kunjungan kali ini Ummu Aiman juga diajak serta. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, ibu beliau jatuh sakit lalu meninggal di Abwa',  sebuah perkampungan yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Muhammad SAW menangis karena harus berpisah dengan sang ibu yang sangat memperhatikan dan mendahulukan kepentingan beliau. Kenangan tentang sang ibu ini tetap terbawa hingga setelah beliau hijrah ke Madinah. Pandangan beliau tertuju kepada Bani An-Najar saat hijrah dan bersabda "Disinilah ibuku pernah singgah, dan di Kampung ini juga kuburan bapakku, Abdullah. Lebih baik bagiku untuk singgah di Bi'r Ady bin An-Najar."

Dalam suasana yang menyedihkan inilah muncul sosok Ummu Aiman yang mengambil tempat diantara para wanita yang pernah meninggalkan jejak yang jelas dalam sejarah. Allah SWT menghendaki kebaikan baginya. Dia kembali kepada Nabi SAW tampil sebagai pengasuh beliau dan menyediakan diri untuk membimbing dan memelihara beliau, sebagaimana sang kakek yang juga mencurahkan kasih sayang kepada beliau. 
Allah memberikan pengganti dari kasih sayang kedua orang tua dengan cinta kasih sang kakek dan Ummu Aiman yang mencntai layaknya cinta orang tua kandung. Tentu saja sang kakek Abdul-Muthalib sangat senang dengan hal ini. Seringkali dia berwasiat kepada wanita pengasuh ini, Ummu Aiman dengan berkata "Wahai Barakah, janganlah engkau melalaikan cucuku, karena aku mendapatkan cucuku ini bersama anak-anak di dekat As-Sidrah, sementara Ahli Kitab mengganggap bahwa cucuku adalah nabi umat ini."

Setelah memberikan wasiat kepada anaknya Abu Thalib agar mengasuh Nabi SAW maka Abdul-Muthalib meninggal dunia. Tentu saja Nabi SAW sangat bersedih karenanya, sementara saat itu beliau masih anak kecil.

Rasulullah SAW pernah ditanya, "Apakah engkau masih ingat kematian Abdul-Muthalib?"
Beliau menjawab, "Ya, Saat itu aku berusia delapan tahun."

Ummu Aiman meriwayatkan kesedihan Rasulullah karena kematian sang kakek, dengan berkata, "Aku melihat Rasulullah SAW pada hari itu menangis di belakang tempat tidur Abdul-Muthalib.

Begitulah kemuliaan Ummu Aiman Semoga Allah merahmati Ummu Aiman, pengasuh pemimpin anak Adam yang telah di janjikan  surga Allah SWT. Semoga apa yang telah digambarkan dalam kepribadian Ummu Aiman dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam mendidik anak. Dengan mencurahkan segenap kasih sayang dan tak pernah melalaikan sedikitpun dalam urusan pengasuhan. Ikatan kasih sayang yang disertai penghormatan kepada seorang ibu, dengan penuh perhatian dan candaan yang menghidupkan kehangatan keluarga didalamnnya. Itulah wujud Kesuksesan hakiki yang harus diraih seorang anak dalam Mewujudkan mimpinya. Wallahu a'lam bishawab.[]