Nn, Jakarta ~ Tepat 17 tahun sudah tragedy Mei terjadi pada tanggal 12 Mei ini. Para keluarga korban tragedy kekerasan dan kerusahan pada Mei 1998 silam melakukan peringatan di Mal Citra Klender, Jakarta Timur.

Kali ini keluarga korban tragedy kekerasan dan kerususuhan melakukan pergelaran budaya, seperti yang dikatakan Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Zaenal Muttaqin.

Pada tahun sebelumnya biasanya kami melakukan tabor bunga di sekitar pelataran Mal Citra Klender yang dulu dikenal dengan Yogya Plasa, namun pengelola mal lebih suka jika kami keluarga korban melakukan pergelaran budaya untuk memperingati Tragedi Mei 1998, katanya kala dijumpai di sela acara.

Zaenal menuturkan dalam peringatan kali ini akan diadakan pertunjukan music, rebana, pameran foto, mural serta melakukan acara bazaar. Konsep yang dirancang panita selain untuk memperingati Tragedi Mei 1998 juga menarik minat kalangan muda untuk dapat mengenang Tragedi yang banyak menelan korban jiwa kala itu.

“Acara ini kami gelar agar rakyat Indonesia dan dunia tahu bahwa kejadian yang banyak merenggut korban jiwa dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) ini jangan terulang kembali di Negara Indonesia,” tukas Zaenal.

Selain para keluarga korban Tragedi Mei 1998, acara ini dihadiri anggota komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Kebangkitan Bangsa Maman Imanulhaq. Ia berpesan pada presiden Jokowi agar tidak takut mengungkap kasus Tragedi Mei 1998. Maman menilai selama ini presiden-presiden Indonesia seolaqh ketakutan dalam mengungkap tabir kejahtan kemanusian tersebut.

Hal senada juga terlontar dari keluarga korban Tragedi Mei 1998, Maria Sunu (62) contohnya, ibu yang anaknya turut menjadi korban berucap, pemerintah mesti mengungkap Tregedi Mei 1998 ini, selain itu pemerintah dituntut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, bukannya menyalahkan korban dengan menuduh sebagai pencuri atau penjarah dalam kerusuhan itu, tandasnya.

17 tahun lalu saat kerusuhan sang ibu kehilangan buah hatinya. Stevanus Sanu samapi sekarang belum diketahu rimba keberadaannya. Ibu ini meminta kepada pemerintahan Jokowi untuk benar-benar berani mengungkap peristiwa yang sangat mengharukan dan mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), kala itu, pada 14 Mei 1998 silam, Yogya Plasa (kini Mal Citra) menjadi salah satu tempat kerusuhan. Mal ini sengaja dibakar oleh puluhan pemuda berseragam SLTA turun dari sebuah truk berwarna merah sambil membawa jerigen, lalu membakar mal tersebut, dalam mal tersebut banyak masa yang berlindung dari aksi kerusuhan. Akibatnya banyak korban yang hangus terbakar didalam mal tersebut.

Menurut keterangan IKOHI, masih banyak korban yang belum terdata, dan masih banyak juga orang-orang yang hilang tanpa diketahui keberadaannya samapi saat ini. Maka dari itu kami sebagai keluarga korban berharap pada presiden Jokowi untuk dapat mengungkap dan menyelesaikan kasus ini hingga tuntas, pungkas Zaenal. (Valhalla)