Oleh: Saffanah Ilmi Mursyidah

Mahasiswi di Kota Depok

 

Seperti yang sudah kita lihat dan rasakan, penerapan new normal sudah mulai berjalan di Indonesia. Sekali pun berbagai tempat sudah menerapkan protokol kesehatan yang sesuai, namun tak lantas akhirnya membuat kita lengah terhadap penyebaran Covid-19 ini. Pasalnya, dalam kondisi new normal ini, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia  malah mengalami penambahan. Seperti yang diberitakan ternate.tribunnews.com (2020/07/31)pasien positif corona di Indonesia secara kumulatif mencapai 108.376 orang. Dari total itu, sebanyak 2.040 merupakan kasus baru, 65.907 orang dinyatakan sembuh dan 5.131 orang lainnya meninggal dunia.

Adanya pandemi ini memang tidak dapat dianggap sepele. Keberadaannya semakin mengancam dan membahayakan dari hari ke hari. Awalnya virus ini dibilang hanya menyebar lewat sentuhan fisik atau lewat cairan tubuh, namun kini ditemukan pula penyebaran lewat udara. Kemudian gejala yang timbul pun tak menentu, bahkan sekarang banyak ditemukan kasus positif Covid-19 tanpa gejala (OTG) atau istilah barunya yakni gejala asimptomatik. Akibatnya, orang tersebut tidak dapat dirujuk ke rumah sakit dan harus mengarantina dirinya secara mandiri.

Ternyata, kasus OTG ditemukan pada ribuan siswa-siswa Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD). Kemungkinan besar ribuan siswa Secapa AD yang positif Covid-19 merupakan generasi milenial. Generasi milenial sering kali menyepelekan virus ini karena merasa diri mereka masih cukup sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Padahal, virus ini tidak pandang usia dalam penularannya.

Selain itu, kurang adanya edukasi yang bisa membangkitkan rasa peduli dan perhatian kaum milenial terhadap pandemi Covid-19 ini. Akhirnya hal itu membuat kaum milenial terkesan acuh tak acuh dan merasa seakan tak terjadi apa-apa, bebas berkumpul dengan teman-temannya tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Padahal, harapannya kaum milenial dapat ikut berpartisipasi dalam penanganan pandemi ini, bukan malah sebaliknya acuh tak acuh. Kaum milenial harusnya bisa lebih perhatian terhadap hal ini sebagai tonggak penerus bangsa yang akan melanjutkan kehidupan bangsa ini di masa depan. Apa jadinya masa depan bangsa jika generasi mudanya malah terkikis karena pandemi yang ada saat ini.

Solusinya tentu harus ada kesadaran dari masing-masing diri kita untuk menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Lalu pemerintahnya sendiri harus menerapkan edukasi yang sesuai untuk meningkatkan rasa peduli kaum milenial terhadap pandemi ini. Jika kasus Covid-19 ini masih juga tidak dapat dibendung, saran terbaik yaitu menunda kembali penerapan new normal dan menghimbau masyarakat untuk karantina.

Tentu hal yang berbahaya jika semakin banyak kasus positif corona, namun penderitanya tidak menyadari adanya gejala. Hal ini bisa mengancam nyawa masyarakat dan masa depan bangsa. Semoga pandemi ini lekas berakhir dan pemerintah dapat mengambil langkah tepat untuk penangan kasus ini.  Setidaknya jangan sampai menimbulkan lebih banyak korban. []

 

 


 
Top