Oleh : Yayuk Sri Rahayu
(Nenek Ideologis Palembang)

Perkembangan merupakan satu hal yang tak dapat ditolak. Salah satu hal yang pasti nyata terkena dampak perkembangan adalah zaman atau era kehidupan. Zaman tak serta merta ada dan hanya bersifat monoton. Zaman memiliki perubahan karena masa ini sendiri bersifat dinamis. Tiap siklus perubahan yang terjadi pasti akan memunculkan sedikit banyaknya generasi-generasi yang jadi bukti adanya perkembangan zaman yang terjadi.

Era globalisasi digital adalah era yang dapat dikatakan mewakili perkembangan zaman di masa kini. Dimana kecanggihan teknologi jadi suatu hal yang mutlak melekat pada setiap kehidupan manusia. Semua hal yang dilakukan baik dari hal kecil hingga hal besar tak ada satu pun yang tak melibatkan kecanggihan teknologi. Sebut saja contohnya dengan berbelanja, memesan makanan, mengerjakan tugas kuliah, mengecek aktifitas keuangan dan banyak hal lainnya yang bisa dilakukan dengan bermodal sebuah kecanggihan teknologi.

Kidz Zaman Now, Generasi Micin, Kaum Milenial, Generasi X, Y, Z, berbagai istilah baru tersebut akhir-akhir ini melekat di telinga kita. Nama-nama diatas adalah beberapa nama generasi-generasi yang muncul dalam era kecanggihan digital. Remaja berbondong-bondong melabeli diri mereka dengan label-label generasi kekinian. Berusaha menunjukkan eksistensi mereka dalam jalur perkembangan teknologi yang terus meningkat setiap waktunya.

Seiring dengan berkembangnya teknologi maka berkembang pula aplikasi-aplikasi yang biasanya hadir untuk melengkapi kecanggihan tersebut. Manusia seakan dapat menggenggam seluruh dunia dalam satu genggaman tangan. Semua hal yang mereka inginkan bisa mereka dapat dengan mudah. Tapi perkembangan berlebih yang tak diikuti dengan pengendalian diri yang baik justru dapat mengundang dampak-dampak negatif dibelakang dampak positif yang didapatkan. Terlebih lagi yang mendominasi penggunaan-penggunaan hasil teknologi yang canggih adalah para remaja.

Seperti halnya remaja-remaja di era sekarang yang lebih cenderung bertingkah bebas. Tata Krama dan kesopanan bukanlah suatu hal yang wajib untuk ditanamkan. Mereka menjadikan etika sebagai sebuah label yang mereka dapat ketika mampu bertingkah baik. Namun semua itu tak berlaku ketika mereka sendiri tak lagi memahami makna dari hal tersebut. Hal-hal yang paling sering terjadi dilingkungan remaja belakangan ini berkaitan dengan kasus Perundungan atau Pembullyan antar sesama remaja.

Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan.

Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong gorong sekolah, serta siswa yang ditendang lalu meninggal. Tak satu dua orang yang menyoroti hal ini sebagai satu hal yang memprihatinkan. Keprihatinan juga ditunjukan oleh Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra. Jasra juga mengatakan pemicu bullying sangat banyak. Seperti tontonan kekerasan, dampak negatif gawai, penghakiman media sosial. 

Kasus-kasus ini bahkan diperkirakan bukanlah keseluruhan kasus Perundungan yang telah terjadi. Banyak dari kasus-kasus semacam ini yang tak terangkat kepublik atau tercatat dalam laman pengaduan KPAI karena banyak alasan. Perundungan sendiri bukanlah kasus yang dapat disepelekan dilingkungan remaja. Hal ini bukan hanya dapat terjadi di lingkungan nyata melainkan juga melalui perkembangan teknologi seperti  situs-situs jejaring sosial. 

Kemudahan mengakses suatu hal malah dijadikan para remaja sebagai ajang mencontoh tindak-tindakan yang sering kali bersumber dari hadoroh barat. Dimana cara paling efisien untuk menduduki tahta paling tinggi dalam pergaulan adalah dengan cara menindas anak yang terlihat lebih lemah dari mereka. Menjadikan kekurangan yang dimiliki seseorang sebagai bahan cemoohan yang bebas. Tak jarang bahkan orang tua yang tak ada sangkut pautnya dalam lingkungan8 pergaulan mereka juga ikut terseret sebagai bahan untuk membully. Bagi mereka membully dipandang sebagai suatu tindakan yang keren.

Hal ini tentunya sudah pasti salah dalam pandangan Islam. Perlakuan kekerasan dan penindasan untuk melecehkan seseorang adalah satu dosa yang besar. Tidak hanya pelecehan bahkan pembullyan yang terjadi sering kali menelan korban. Bukankah dari maraknya aksi pembullyan dikalangan remaja sekarang dapat ditarik kesimpulan jika Bullying ada sebagai problem massif bangsa. Dimana ini merupakan dampak dari kegagalan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang hadir melalui landasan-landasan sekularisme. 

BULLYING atau Perundungan adalah bentuk nyata problem akut pada generasi sekuler. Peningkatan prestasi yang selama ini dieluh-eluhkan sebagai suatu cara mendidik dan membangun pribadi remaja justru tidak menjadi jaminan. Nyatanya cara-cara sekuler tak mampu mengatasi masalah pribadi dan interaksi yang terjadi antara remaja dengan lingkungannya.

Sistem yang berlandaskan Sekuler bukanlah solusi yang tepat untuk mengentaskan kasus-kasus kekerasan, Perundungan, serta pelecehan yang terjadi antar sesama remaja. Karena berusaha menolak pun, fakta serta bukti nyata hasil kegagalan telah terpampang jelas di depan mata. Meski demikian bukan berarti masalah ini tak memiliki solusi lain. Islam kunci dari semua permasalahan, yang mampu menjadi landasan paling kokoh untuk kembali mendorong remaja untuk mempelajari akhlak yang baik dan beriman.

Rasulullah Saw, bersabda:
اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَيَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِيْ حَا جَةِ أَخِيْهِ كَانَ الله ُفِيْ حَا جَتِهِ، وَ مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْ بَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَا مَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzhaliminya dan juga tidak acuh tak acuh terhadapnya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah memenuhi kebutuhannya. Barang siapa melapangkan saudaranya dari kesusahan, kelak Allah akan melapangkannya dari suatu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa menutup aib saudaranya, kelak Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat." (HR Al-Bukhari).

Islam ada dan telah memberikan gambaran nyata bagaimana caranya menghilangkan maraknya bullying lewat kebijakan Sistemik Negara (Khilafah). Yang memberikan jaminan pembangunan kepribadian utuh generasi melalui sistem pendidikan dan penataan media dan keluarga. Alhasil, jelas bahwa sistem pemerintahan Islam (Khilafah) adalah solusi yang tepat. Sebab Khilafah dapat menempatkan kedaulatan tertinggi ditangan syariah dan menjamin kepastian hukum serta membawa kesejahteraan rakyat.
 
Top