Oleh: Siti Aisah, S.Pd

Pencegahan dan penanggulangan stunting merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan mulai dari janin yaitu pada ibu hamil dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa yang akan datang. Hal ini dapat mengakibatkan sesuatu yang bersifat permanen terhadap bayi pada masa depannya dan hal ini belum ada solusi tepat untuk mengobatinya. Tanda anak mengalami stunting.  Ia sering mengeluh sakit, akibat dari imunitas yang turun. 

 "Saat ini, kita memprioritaskan 1.000 HPK sebagai periode utama untuk pencegahan stunting. Namun, karena stunting merupakan permasalahan kekurangan gizi secara kronis yang dimulai dari tidak terpenuhinya nutrisi selama hamil dan masa golden Age anak. Kemungkinan sebagian besar dari masyarakat masih awam atau bahkan masih kurang peduli terhadap stunting. Masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada HPK anak yaitu ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya, inilah yang sering disebut stunting. 

Padahal kondisinya stunting bukan hanya itu saja tapi semua faktor dari gagal tumbuh dan kembang yang ada pada anak. Dilansir dari laman situs Sindo News (3/2018) Indonesia masih dihadapkan pada masalah stunting yaitu saat ini 9 juta atau lebih dari sepertiga jumlah balita (37,2%) di Indonesia menderita stunting atau sekitar 30 juta anak dan negara ini termasuk ke dalam 5 negara teratas yang mengalami stunting. 

Selain itu, status gizi masyarakat yang baik merupakan pondasi pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga, pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku pada remaja menjadi kunci keberhasilan dalam mempersiapkan generasi bebas stunting. Hal ini dipaparkan Atalia pada Lokakarya Penguatan Posyandu dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Pencegahan Stunting di Marbella Suites Hotel, Kab. Bandung, Rabu 10 Juli 2019.

Masa tumbuh kembang buah hati adalah prioritas utama bagi seorang ibu. Laju perkembangan fisik baik itu yang bersifat motorik kasar atau halus merupakan dasar dari peningkatan pertumbuhan sang anak. Namun apa daya ketika HPK seorang bayi harus berakhir dalam asupan Susu Formula (Sufor). Pemberian susu sangatlah penting bagi bayi. Susu yang paling utama adalah ASI. Begitu pentingnya ASI dalam pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk imunitas alami anak. Jeda pemberian ASI lengkap selama 6 bulan yang selalu digaungkan pemerintah, lewat pos pelayanan terpadu (Posyandu) di masyarakat. Hal ini tidak membuat kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan stunting meningkat. Upaya masyarakat yang membawa ibu hamil dan anak balita (bayi di bawah lima tahun) sebulan sekali bayi untuk memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan. Belum ada perubahan yang signifikan. 

Dalam Islam ASI yang dianjurkan diberikan kepada bayi sekurang-kurangnya tidak hanya sampai 6 bulan saja. Namun dilanjutkan sampai umur anak memasuki usia 2 tahun. Pendampingan ASI melalui pemberian MPASI kepada anak akan berpengaruh besar dibandingkan terhadap pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan kognitif anak. Gagal tumbuh kembang anak adalah awal dari stunting itu sendiri. Vonis ini tidak bisa diberikan kepada anak yang gagal tumbuh saja, tetapi harus disertai gagal kembang. Perlu dipahami kondisi tubuh anak yang pendek acapkali di masyarakat sering dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya. Namun, persoalan ini tidak mempengaruhi masyarakat pada umumnya, mereka hanya sekedar menerima tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti yang dapat dipahami pula bahwa faktor genetika merupakan faktor determinan (turunan) yang resikonya paling kecil pada kesehatan. Dilanjut lagi yang paling pengaruhnya adalah faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, permasalahan stunting sebenarnya bisa dicegah dan ditanggulangi negara. 

Hal ini menjadi urgent karena dapat menentukan kualitas generasi di masa depan, selain dari banyak faktor penyebab stunting yang dipaparkan di atas. Sehingga semua faktor penyebabnya harus mampu ditanggulangi negara. Hal ini agar stunting dapat diberantas dengan tuntas dan tak menyisakan persoalan baru semacam wacana tuntutan ekonomi yang mengharuskan ibu keluar rumah. Sehingga yang terjadi adanya peralihan pemberian Asi ke Sufor. Dilanjut lagi pengentasan kemiskinan yang belum terselesaikan. Dalam hal ini upaya negara hanya terbatas wacana perbaikan sanitasi, tapi belum menjangkau lapisan masyarakat. Selanjutnya ada program pemberdayaan perempuan yang lebih kepada opini kebebasan untuk bertingkah laku. Sehingga seorang ibu tidak diwajibkan untuk memberi Asi. Pemberian nutrisi yang baik kepada anak bukan hanya tanggung jawab keluarga saja tapi merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memberikan kebutuhan dasar setiap warga termasuk anak.

Penanggulangan terhadap anak yang mengalami stunting bukan hanya sebatas pola makan saja tetapi juga dengan memberikan cinta kasih dan pola asuh keluarga yang baik. Anak dengan kasus ini akan mengalami bukan hanya gagal pertumbuhan saja namun disertai gagal perkembangan sehingga perlu tindakan menstimulasi motorik kasar dan halusnya secara intensif. Namun apakah ini bisa terjadi ketika ibu sebagai madrasah pertama anak sibuk dengan kegiatan di luar rumah.

Stunting ini adalah buah dari abainya pemerintah dalam mengatasi pemenuhan pangan untuk warganya. Ini merupakan tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Dalam Islam ketika seorang kepala keluarga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,  maka tanggung jawabnya beralih kepada ahli waris. Namun jika hal itu tidak memungkinkan maka tanggung jawabnya beralih kepada negara lewat baitul mall. Pelayanan Kesehatan merupakan hak rakyat dan kewajiban Negara. Alih-alih slogan jaminan sosial, ternyata merupakan kedok pelemparan tanggung jawab pemerintah kepada rakyat. Hal ini dilihat dari slogannya “gotong royong semua tertolong, demi Indonesia yang sehat”. Hal ini tidak jauh berbeda dengan slogan “orang miskin dilarang sakit” yang menggambarkan betapa mahalnya kesehatan. Masyarakat harus merasakan aman nyaman dalam mengakses fasilitas kesehatan. Sehingga tidak terpengaruh dengan tersendatnya iuran bulanan yang dibebankan. 

Demikianlah pandangan Islam terhadap pemberian nutrisi lengkap bagi ibu hamil dan tumbuh kembang anak merupakan awal pembentukan generasi masa depan. Permasalahan stunting adalah seperti snow effect yang menggelinding yang semakin lama semakin besar, karena sejatinya pelayanan kesehatan Islam adalah bagian integral dari totalitas sistem kehidupan Islam. Sistem ini dapat diterapkan pada institusi politik yang telah Allah SWT ciptakan. Yakni Khilafah. Pelayanan kesehatan dalam Islam yang diterapkan oleh Daulah Khilafah Islam seharusnya menjadi standar pelayanan kesehatan. Lantas, apakah sistem saat ini yang telah nyata kebobrokannya masih tetap mau dipertahankan atau ada upaya dari umat islam sendiri untuk menerapkan Islam secara kaffah dan sempurna dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. 

Wallahu ‘alam bi-ashawab
 
Top