Oleh: Erni Yuwana

Visi misi industri perfilman Indonesia pada dasarnya yaitu membangun karakter dan kepribadian bangsa Indonesia. Artinya content film Indonesia harus diperhatikan. Dengan kata lain, film harus benar-benar mempunyai nilai-nilai edukasi, yaitu mendidik generasi bangsa menjadi karakter pembangun negeri yang tangguh. Namun nilai edukasi pada perfilman Indonesia semakin tidak terasa, seolah hanya kedok maupun slogan kosong semata. Perfilman Indonesia justru dibanjiri dengan kisah kasih kasmaran yang tidak jarang menjurus pada pornoaksi dan pornografi. 

Tak bisa dipungkiri bahwa tontonan yang menjurus pada adegan panas (dewasa) menjadi aset bisnis yang laris manis dipasaran perfilman Indonesia. Perfilman Indonesia sejauh ini hanya berputar keuntungan semata, sedangkan nilai edukasi hanyalah berupa bungkus tanpa kejelasan isi. Seperti film bertajuk "Dua Garis Biru" yang masih dipertanyakan nilai edukasinya. 

Film "Dua Garis Biru" adalah film yang berkisah tentang pelajar yang hamil di luar nikah. Istilah dua garis biru merujuk pada tanda dua garis biru pada alat test pack yang menandakan kehamilan perempuan. Fenomena "dua garis biru" dipandang layak untuk mendapatkan nilai edukasi seks yang lebih. Terlebih jumlah remaja yang hamil di luar nikah tergolong sangat besar di Indonesia. Pelajar yang hamil di luar nikah pada akhirnya mengorbankan sekolah sekaligus masa depannya. Pelajar yang hamil di luar nikah pun harus drop out dari sekolah, serta menjadi sosok ibu dan ayah yang tidak siap serta tidak mumpuni dalam mendidik dan menjalani rumah tangga mereka. Bahkan tidak jarang, aborsi atau menggugurkan janin dianggap sebagai solusi. Padahal aborsi hanyalah menambah masalah baru yang lebih besar karena keselamatan sang ibu dipertaruhkan. Namun, alih-alih film "Dua Garis Biru" mengedukasi kaum muda untuk menjauhi seks bebas, malah merangsang penonton dengan adegan-adegan panas yang merangsang naluri seksual.

Petisi untuk film 'Dua Garis Biru' pun muncul. Petisi tersebut digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas. Menurut mereka, tontonan tersebut dapat memengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film. 

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton," isi di dalam petisi, dilihat detikHOT, Rabu (1/5/2019).

Perfilman Indonesia menjadi PR kita bersama, baik masyarakat, pemerintahan maupun pelaku industri perfilman itu sendiri. Masyarakat wajib tanggap terhadap segala tontonan yang justeru berbahaya dengan membawa gaya hidup sangat bebas, liberalisme, hedonisme, pergaulan bebas hingga freesex yang tidak sesuai dengan norma susila maupun agama. Pemerintah pun wajib mengkontrol jalannya perfilman agar sesuai visi misi perfilman Indonesia. Segala bentuk adegan tidak pantas yang tidak sesuai norma yang ada harus dihapuskan. 

Pelaku industri perfilman harus lepas dari jeratan sifat serakah dan materialisme belaka, karena film tak ubahnya sarana edukasi. Oleh karena itu, perfilman Indonesia wajib bangkit, untuk memberikan pendidikan yang benar bagi generasi penerus bangsa. Pendidikan yang benar yakni nilai pendidikan yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan khalayak ramai dan  masyarakat, baik anak-anak, remaja, dewasa dan manula. Dan yang paling penting film edukasi adalah film yang mampu dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT dengan tidak melanggar syariat yang telah ditetapkanNya serta mengajarkan nilai untuk taat kepada Tuhan yang maha esa, Allah SWT. Wallahu'alam bi showab
 
Top