Penulis: Yani (Bandung, Jawa Barat)

Saat ini jutaan pandangan mata rakyat Indonesia tertuju pada mahkamah Konstitusi (MK). Pasalnya, ditangan MK-lah putusan akhir sengketa Pilpres-yang dituding diwarnai oleh banyak kcurangan secara terstruktur, sistimatis dan massip-ditetapkan. Ada yang begitu berharap keadilan pada MK. Di sisi lain, dalam banyak kasus, dunia peradilan di negeri ini sering mempertontonkan ketidakadilan. Mereka yang sering mengkritik rezim, misalnya, begitu cepat mudah diadili. Segera dijadikan terdakwa. 

Sebaliknya, mereka yang pro rezim, meski nyata-nyata melanggar hukum, dibiarkan begitu saja. Bebas. Lepas dari segala tuntutan.Itulah pengadilan di dunia. Sebuah pengadilan semu. Bahkan palsu. Pengadilan yang menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil. Pengadilan yang para penegak hukumnya banyak yang bermental bobrok. Tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita, jabatan, kekuasaan, dan kenikmatan dunia lainnya.

Saat hukum diberlakukan secara tidak adil- hanya berpihak kepada yang kuat dan cenderung menzalimi yang lemah-maka kehancuran masyarakat pasti akan terjadi.Di alam sekularisme (pemisahan agsma dari kehidupan) yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini keadilan menjafi semacam barang mewah, dan musykil dinikmati oleh rakyat kecil dan lemah.Itulah pengadilan di dunia.

Dipengadilan akhirat semua ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya. Tak ada yang terlewatkan kendati hanya sebesar biji sawi (TQS. al-Zazalah[99]:7-8). Siapapun tidak akan bisa lolos dari hukuman. Mereka tidak akan bisa berbohong dan berkelit. Sebab mulut-mulut mereka terkunci, sementara anggota tubuh mereka (tangan,kaki, telingan,mata,dan kulit) menjadi saksi (TQS. Yasin[36]:65).

Allah SWT menegakkan timbangan di Pengadilan Akhirat nanti dengan akurat (TQS. al-Anbiya[21]:470. Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya dan sungguh merugilah orang-orang yang ringan timbangannya (TQS. al-Araf[7]:8-9).

Karena itu pula, bersegeralah mengerjakan amal shalih dan ketaatan kepada Allah SWT. Berusaha melaksanakan dan menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Itulah amalan orang-orang cerdik yang meyakini adanya kehidupan setelah umur di dunia ini berakhir. Mereka mengharapkan balasan terbaik di sisi Allah SWT dengan menjadikan takwa sebagai bekal untuk mendapatkannya. 

Saat demikian mereka akan terhindar dari penyesalan di akhirat. Alhasil, selayaknya kita segera bertaubat sebelum terlambat. Taat sebelum ajal mendekat. Segera meninggalkan maksiat agar tak menyesal di akhirat.
 
Top