Oleh : Nurhikmah
(Anggota Forum Kajian Mahasiswa Islam UMMA)

Sebagai manusia yang hidup bersosialisai kita mungkin pernah mendengar suatu ungkapan bahwa semua agama itu sama, bahkan mungkin ada yang mengatakan bahwa semua agama itu baik karena mengajarkan kepada kita untuk berbudi pekerti yang baik. Namun, 

hati-hatilah kawan karena jangan sampai kita telah terperangkap ke dalam paham pluralisme yang menganggap bahwa semua agama itu sama, padahal dalam agama Islam sendiri, Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang sempurna dan yang Allah swt ridhoi, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS. Al-Maidah : 3). Sehingga sepatutnya sebagai seorang muslim kita harus menjauhkan diri kita pada paham pluralisme dan meyakini bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang sempurna dan di ridhoi oleh Allah swt sang pencita seluruh jagad raya ini beserta isinya.

Ketika kita telah yakin terhadap agama islam, maka sepantasnya kita tidak hanya mencukupkan diri pada identitas keislaman kita di KTP saja, tetapi merealisasikan identitas keislaman itu dengan berusaha menjalankan seluruh aturan Islam, sebab kita yakin bahwa seluruh ajaran Islam akan membawa pada kebaikan dan keberkahan, karena aturan itu berasal langsung dari sang maha tahu, sang maha segalanya, yakni Allah swt. Dimana, segala aturan yang dibuatnya sudah pasti itu demi kebaikan kita, sebab bisa jadi apa kita anggap baik itu ternyata justru buruk dan bisa jadi apa yang kita anggap buruk ternyata baik bagi kita. Logikanya, mana mungkin Allah menciptakan manusia dengan begitu saja tanpa ada aturan yang harus dijalankan dalam kehidupannya.
Kemudian, jangan sampai kita Islam hanya karena orang tua kita Islam, maksudnya jangan sampai kita islam hanya sebatas warisan dari orang tua saja.  Tapi berusahlah untuk menemukan jati diri keislaman kita melalui proses berpikir. sebab ketika kita hanya mengandalkan bahwa kita islam karena orang tua kita islam, maka bisa jadi rutinitas ibadah yang kita jalankan hanya sebatas karena orang tua kita menjalankannya juga, tanpa kita mengetahui esensi ibadah itu sendiri dan tanpa memahami mengapa kita harus beribadah. Sehingga kita butuh mencari tau kebenaran Islam itu sendiri melalui proses berpikir, agar tercipta keimanan yang hakiki pada diri kita terhadap Islam dan mampu memahami esensi keislaman kita serta meyakini bahwa memang hanya Islamlah satu-satunya agama yang sempurna dan paripurna. Proses berpikir itu bisa kita temukan dengan menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam hidup ( Uqtadul Qubro) yaitu, dari mana kita berasal ?, untuk apa kita hidup ?, dan akan kemana kita setelah meninggal ?. Tiga pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar yang harus kita jawab dengan benar, karena benar salahnya jawaban kita ini akan berdampak pada keimanan kita. 
Pertama, dari mana kita berasal ? Mengenai pertanyaan ini, banyak firman Allah yang menunjukkan bahwa kita semua ini berasal dari Allah swt, salah satunya dalam QS. At-Tin : 4 "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".
Kedua, untuk apa kita hidup ? Sebagian orang mungkin memiliki jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan ini, meskipun mereka sama-sama kaum muslim, tergantung pada pandangannya terhadap kehidupan. Ketika orang berpandangan sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan, maka jawabannya atas pertanyaan ini adalah dia hidup hanya untuk mencari materi sebanyak-banyaknya dengan aturan buatannya sendiri tanpa mengindahkan aturan Allah. Namun, ketika orang yang menjadikan Al-Quran sebagai pandangan hidupnya maka akan dia temukan bahwa tujuan hidupnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Adz-zariyat : 56).
Pertanyaan terakhir, akan kemana kita setelah meninggal ? Setelah kita meninggal maka sudah pasti kita akan kembali lagi pada Allah. Kelak akan ada hari penghisaban atau hari perhitungan amal baik dan buruk selama kita hidup di dunia. Maka semua yang kita lakukan di dunia ini akan ada pertanggung jawabannya. Setiap waktu, harta, tahta dan apapun yang Allah amanahkan pada kita pasti akan dimintai pertanggung jawaban. "Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka" (Al-Ghāshiyah : 25-26).
Setelah kita bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan benar, maka kita akan mampu memahami esensi kehidupan kita sebagai kaum muslim. Sehingga, segala aktivitas yang kita lakukan baik berkaitan tentang hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan manusia lain, dan hubungan kita dengan diri sendiri, akan kita kembalikan pada tujuan hidup kita yang sebenarnya yakni beribadah kepada Allah swt.
Wallahu'alam bisshawab.
 
Top