Oleh : Ika Kartika Ibu rumah tangga, pengemban dakwah dari Bandung

"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan di kembalikan." (Q
S. Ali Imran: 109)

Kutipan ayat Alquran di atas harusnya membuat manusia sadar bahwa kita hanyalah makhluk lemah. Akan tetapi sebagian manusia kadang berani bersikap lancang dan sombong. Merasa tahu hakikat yang baik dan buruk bagi manusia, merasa lebih tau dari Allah lalu berani menyingkirkan petunjuk Allah SWT (Islam) dari kehidupan mereka dan bahkan mengajak manusia lainnya.

Padahal Allahlah Yang Maha Tahu atas hakikat yang baik dan buruk bagi manusia. Acapkali manusia memandang sesuatu itu baik sehingga ia sukai. Padahal sejatinya hal itu buruk bagi dirinya. Sebaliknya, manusia kadang memandang suatu itu buruk sehingga ia benci. Padahal hakikatnya sesuatu itu justru baik baginya. Allah SWT berfirman, 

"... Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui  (Q.S. al-Baqarah: 216)

Imam Abu Manshura al- Maturidi di dalam Ta'wilat Ahli as-Sunnah menjelaskan,

"Waallahu ya'lamu wa antum la ta'lamun."

Bermakna: "Allah mengetahui apa saja yang baik dan buruk untuk kalian pada masa depan, sementara kalian tidak tahu."

Imam Fakhruddin al-Ghayb menyatakan.

"Seolah Allah SWT berfirman: 'Hai hamba, ketahuilah bahwa pengetahuan-Ku lebih sempurna dari pengetahuan kalian. Karena itu sibukkanlah kalian menaati-Ku dan jangan menuruti tuntutan tabiat kalian.'."

Imam Ibnu Katsir di dalam "Ya Ibni Katsir" juga menegaskan,

"Wallah ya'lamu wa antum la ta'lamun bermakna: Dia Maha Tahu atas akibat perkara kalian. Dia pun Maha Tahu atas apa saja yang di dalamnya ada kebaikan bagi kalian di dunia dan di akhirat. Karena itu penuhilah seruan-Nya dan patuhlah perintah-Nya supaya kalian mendapat petunjuk."

Dengan demikian apa saja yang Allah berikan untuk manusia di dunia ini berupa Syariah-Nya pasti baik untuk manusia dan kehidupan. Yang harus dilakukan oleh manusia hanyalah mentaati dan sibuk merealisasikan syariah itu di tengah-tengah kehidupan mereka.

Akhir-akhir ini ghirah (semangat) umat Islam untuk memenuhi seruan Allah SWT dari hari ke hari makin meningkat. Umat Islam pun makin bersemangat untuk mengamalkan dan mengupayakan penerapan syariah-Nya di tengah-tengah kehidupan mereka.

Sungguh sayang, di tengah suasana ghirah umat itu, beberapa waktu lalu muncul gagasan agar pelajaran agama dihilangkan dari mata ajaran di sekolah. Agama cukup diajarkan oleh orangtua masing-masing atau oleh guru agama di luar sekolah. Alasannya, jika agama diajarkan di sekolah maka siswa akan dibedakan ketika pelajaran agama, dengan tanpa sadar telah menciptakan perpecahan. Pelajaran agama juga dinilai menguatkan identitas agama. Menurut sang penggagas jika agama dijadikan identitas maka ia akan menguatkan radikalisme yang menjadi biang kehancuran negeri ini. Sungguh tidak masuk diakal.

Gagasan itu tentu saja mendapat banyak penolakan, jika ditelusuri gagasan itu bukanlah yang pertama sudah muncul beberapa kali sebelumnya. Artinya, lontaran gagasan itu bukanlah hal baru. Substansi dari gagasan itu tidak lain adalah sekularisme dan sekularisasi pendidikan khususnya.

Seruan itu berusaha menempatkan agama sebagai urusan pribadi (privat dan personal), melarang agama masuk ke ranah publik bahkan harus disingkirkan dari kehidupan politik.

Seruan ini jelas tertolak dalam Islam. Kita justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, secara total. Allah SWT memperingatkan kita agar tidak mengikuti langkah-langkah setan.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (Q.S. al-Baqarah: 208)

Seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari kurikulum sekolah jelas merupakan bagian dari mengikuti langkah dan jalan setan, artinya kita diseru untuk tidak masuk Islam secara kaffah. Jelas ini adalah upaya melakukan deislamisasi yang tujuannya ingin memadamkan ghirah kaum muslim dan menjauhkan mereka dari Islam. Tidak berlebihan jika gagasan itu dinilai sebagai ekspresi islamophobia.

Selama puluhan tahun tak ada persoalan dengan agama di negeri ini, khususnya Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan saja dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam) atau kajian keislaman menjadi pemicu radikalisme, perpecahan, dan sebagainya.

Padahal radikalisme bukanlah persoalan inheren dalam Islam. Isu ini merupakan framing dari pihak luar yang sengaja dihembuskan untuk menyudutkan Islam atau menghalangi geliat kebangkitan mereka. Bisa diduga, tujuan akhir dari isu radikalisme itu adalah untuk makin menjauhkan Islam dari kehidupan. Dengan itu Islam dan umat Islam tidak menghalang-halangi agenda liberalisme dan penjajahan Barat. Itu sama persis seperti pada saat penjajah Belanda dulu menggunakan tema radikalisme untuk menyudutkan siapa saja, kebanyakan dari kalangan umat Islam yang menentang mereka.

Begitu pun sekarang ini. Isu radikalisme terus dimunculkan, seiring dengan mulai tampaknya kebangkitan umat Islam dan penolakan mereka terhadap ideologi kapitalis dan liberalisme serta penjajahan Barat. Lalu isu ini disuntikkan ke tubuh kaum Muslim di berbagai negeri Islam dengan berbagai cara. Isu ini dimainkan oleh mereka yang secara sadar ataupun tidak menjadi agen Barat.

Tuduhan Islam menjadi penyebab perpecahan dan persoalan juga hanya sekedar tuduhan tanpa bukti. Kekisruhan politik yang ada tidak pernah terbukti disebabkan oleh Islam. Faktanya tak jarang kisruh diakibatkan oleh proses demokrasi, kecurangan, persaingan memperebutkan kekuasaan yang menggunakan cara machiavellis.

Banyaknya korupsi, para ahli mengatakan maraknya korupsi diantara faktor utamanya adalah proses demokrasi yang mahal.

Adanya segudang problem dan berbagai kerusakan yang terjadi  saat ini bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem di luar Islam, yakni kapitalisme-liberalisme. Fakta-fakta jelas menunjukkan demikian. Allah SWT sudah memperingatkan kita dalam firman-Nya:

"Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta...." (Q.S. Thaha: 124)

Makna "berpaling dari peringatan-Ku" adalah menyalahi perintah Allah dan apa saja yang diturunkan kepada Rasul-nya, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya." (Ibnu Katsir, Tafsir Alquran al-'Azhim, V/323)

Berbagai kerusakan yang terjadi itu tentu mendatangkan akibat buruk bagi masyarakat secara keseluruhan. Itu baru sebagian yang Allah tampakkan akibat manusia berpaling dari Islam dan syariah-Nya supaya manusia bertobat dan kembali kepada Islam yang kaffah.

Jelas, gagasan menghapus pelajaran agama dari kurikulum sekolah hanya akan menambah dan memperparah kerusakan. Ada pelajaran agama saja banyak terjadi problem di masyarakat, khusunya di kalangan pelajar. Apalagi jika pelajaran agama dihapus. Jika ingin memperbaiki kondisi pelajar dan kehidupan masyarakat, pelajaran agama mestinya ditambah lagi bahkan wajib diinternalisasikan dalam berbagai pelajaran lainnya.

Lebih dari itu, untuk menyelesaikan berbagai problem dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan justru kembali kepada jalan Islam, dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab umat Islam yang harus segera diwujudkan di tengah-tengah kehidupan.

Wallahu a'lam bi ash-shawab
 
Top