Penulis : Diwi

Slogan yang apik sering kita dengar dari para elit politik saat berkuasa.  'Dari rakyat,  Oleh rakyat dan Untuk rakyat' . Seolah buang badan saat berkuasa agar kebijakannya terus langgeng.  Namun kenyataannya banyak bersilat lidah,  janji tinggallah janji.  Kekayaan suatu negeri hanya akan dikuasai oleh segelintir manusia rakus yang akan menjadikan Indonesia menjadi kapling-kapling para kapitalis yang hanya mementingkan dirinya sendiri.  Membuat kesenjangan menganga antara si miskin dan si kaya.  Tudak berlebihan jika dikatakan bahwa Indonesia bisa terjual jika masih menganut sistem kapitalisme ini. 

Referendum-reperendum yang ingin diajukan oleh beberapa wilayah di Indonesia telah membuktikan bahwa negeri ini buruk dalam mengayomi rakyatnya.  Serta kezaliman para penguasa seolah memberikan gambaran buruk kepada anak cucu.  Penyaluran dana dan pendistribusian kekayaan negeri belum terfikir matang kepada rakyat,  sementara rakyat yang rakus terus menzalimi demi memuaskan nafsunya tanpa mengindahkan peraturan . Timbullah praktik-praktik ribawi yang sangat menyeret si miskin.  Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang tercantum dalam pancasila hanya akan menjadi sebuah utopia bagi rakyat miskin dan bentuk penghianatan terhadap bangsa. 

Jika demikian alangkah eloknya jika penguasa sebagai pengemban amanah rakyat melalui paradigma terhadap sistem kenegaraan untuk dapat merubahnya.  Jika tidak maka negeri ini akan hancur dengan paham demokrasi sekular.  Semoga dari sini sistem Islam dapat menjadi solusi terbaik bagi penyakit kronis di negeri ini.
 
Top