Penulis : Aisyah

Film adalah komoditas yang tak pernah sepi peminat karena bisnis tersebut menjanjikan keuntungan yang besar. Melalui film berbagai ideologi, gaya hidup, politik, ekonomi, sosial diperkenalkan sedemikian rupa kepada masyarakat, terlepas hal itu benar atau tidak. Para sineas film menyajikannya dengan alur yang menarik, terlebih lagi akan semakin menarik apabila tajuk yang dihadirkan adalah masalah yang kontroversial di masyarakat. Melalui film, polemik yang tadinya kontroversial dan dianggap tabu lama kelamaan masyarakat akan menerima dan siap dengan berbagai perubahan. Begitulah betapa bahayanya pengaruh sebuah film. Alangkah baiknya apabila film itu dapat memberikan pengaruh baik kepada masyarakat. Sehingga masyarakat teredukasi dan berubah baik. Sebaliknya sangat menyedihkan jika film hanya sekadar hiburan tak bermanfaat dan malah membawa keburukan kepada masyarakat.

Film yang akhir-akhir ini viral yaitu film " Dua Garis Biru" menjadi sorotan tajam sebagian masyarakat. Dalam film tersebut menayangkan adegan yang memang tak layak tonton terutama untuk anak-anak. Meski banyak petisi untuk memboikot film ini. Ternyata film ini tetap tayang. Bahkan setelah seminggu tayang di bioskop, telah berhasil menarik satu juta lebih penonton. 

Salah satu petisinya yaitu petisi yang digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scen di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas. Menurut mereka, tontonan tersebut dapat memengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film.

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton," isi di dalam petisi, dilihat detikHOT, Rabu (1/5/2019). Meski tak melihat ada adegan yang melanggar undang-undang, mereka menyebut ada pesan implisit yang ingin disampaikan lewat 'Dua Garis Biru'. 

Pesan tersebut dikhawatirkan dapat merusak generasi muda Indonesia. "Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada perilaku amoral sudah sepatutnya dilawan (bukan tentang film Dua Garis Biru, melainkan film secara umum), karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. Mustahil apabila kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, namun generasi muda masih sering disuguhkan tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amoral," tulis mereka.

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya. Film itu menggambarkan realita bahwa anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi namun tidak mengetahui risiko-risiko yang bisa terjadi akibat perkawinan usia muda. "Salah satu penyebab kematian ibu kehamilan usia terlalu muda," kata Dwi. (ANTARA NEWS.com 11/7/19). Pertanyaanya, apakah pasti menjamin bahwa pesan "baik" yang disampaikan dalam film tersebut akan diterima dan merubah remaja sementara ia dibungkus dengan adegan yang tak mendidik?

Manakah yang akan lebih melekat dalam ingatan penontonnya? Dampak atau adegannya? Tolak ukur apa yang sebenarnya digunakan untuk menentukan baik buruk suatu film itu?

Maraknya film-film yang bebas tak lain disebabkan sistem liberalisme yang telah merasuki kehidupan masyarakat. Sistem ini mengagungkan kebebasan, pembuatan film selalu dinilai bisnis yang menguntungkan, selama ada yang berminat dan menjanjikan keuntungan film akan dibuat dengan  judul dan trailer yang “menjual”. 

Tak peduli dampak film itu bagi masyarakat. Sayangnya rezim saat ini tidak berdaya mengendalikan arus liberalisasi yang menghancurkan generasi melalui film. Kita membutuhkan sistem yang mampu menghapuskan liberalisme yang telah nyata merusak masyarakat dan kita membutuhkan sistem yang mampu memberi solusi tuntas problematika hidup manusia. Film dalam sistem Islam disetting dalam rangka dakwah dan edukasi bagi rakyat dan negara punya peran utama dalam mengendalikan produksi sebuah film mulai dari ide cerita, pemeran, akting, kostum termasuk sponsor. Sehingga negara bisa menjamin tontonan yang baik untuk masyarakat dan tidak melanggar syariat.
 
Top