Oleh: Dian Puspita Sari
Aktivis muslimah, Ibu Rumah Tangga dan Member Akademi Menulis Kreatif

Miris dan sedih adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan kita. Belum usai polemik habit negeri kita mengimpor beragam produk, bahan-bahan kebutuhan pokok, tenaga kerja, guru, dan dosen kini negeri kita dihebohkan dengan impor sampah yang mulai  membanjiri tanah air, mayoritas Jawa Timur.

Di lansir dari Republika.co.id,   Petugas melintas di antara 2 sampah kertas yang diimpor oleh sebuah perusahaan pabrik kertas sebagai bahan baku kertas di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (19/6/2019).
Masuknya sampah impor ini diduga akibat kebijakan China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Uni Eropa dan Amerika yang mengakibatkan sampah plastik beralih tujuan ke negara-negara di ASEAN. Indonesia diperkirakan menerima sedikitnya 300 kontainer yang sebagian besar menuju ke Jawa Timur setiap harinya.

Inilah akibat negara kita tidak bisa berdiri mandiri secara sistemik.  Tergantung pada: 
1. Aturan kufur demokrasi sekuler yang zalim, menuhankan hawa nafsu manusia di atas Maha Esanya Allah Swt dan Maha Adilnya aturan-Nya. 
2. Bantuan negara asing, khususnya negara-negara adidaya yang notabene mereka adalah negara penjajah dunia. Mulai dari Amerika Serikat, China, Inggris, Uni Eropa, Rusia. Bantuan mereka mustahil ikhlas dan gratis kecuali  ada pamrih dan syaratnya. Syarat yang jelas menguntungkan negara penjajah dan merugikan bangsa sendiri, seperti: 
▪ Ketergantungan Indonesia pada utang luar negeri dari tahun ke tahun, rezim ke rezim. Utang ribawi yang takkan pernah terlunasi sampai kapanpun.
▪Tergadaikannya sumber daya alam Indonesia yang terbentang luas dari Sabang  hingga Merauke kepada negara-negara asing. 
▪Ketergantungan Indonesia pada impor bahan-bahan kebutuhan pokok dan produk-produk asing yang semakin merajai dan mewarnai Indonesia. Alhasil banyak usaha domestik yang sudah dan terancam gulung tikar. Termasuk maskapai penerbangan domestik.  Termasuk resiko Indonesia kemasukan sampah impor.

Tak ada solusi lain kecuali harus mencampakkan aturan kufur demokrasi sekuler yang zalim. Karena demokrasi adalah sistem hidup "sampah". Kemudian beralih kepada aturan Allah yang kaffah dan maha adil dalam segala bidang. 

Bukankah Allah telah berfirman : 
"Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang  sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". [TQS Thaaha: 124]

 Demokrasi adalah sebuah sistem yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Termasuk menghalalkan kecurangan, dusta dan mengharamkan kejujuran. 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [TQS al-Baqarah: 208]

"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." [TQS al-A’raf: 96].

Hanya Islam dalam naungan institusi khilafah yang akan membebaskan dunia termasuk Indonesia dari belenggu sampah, dalam bentuk apa pun. Termasuk sampah impor.

Wallahu 'alam bish shawab.
 
Top