Oleh: Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Diera milenial seperti saat ini, dengan mabda kapitalis yang diembannya, dampaknya bisa menyebar ke berbagai aspek, termasuk keluarga, dunia remaja dan lain sebagainya. Dampak luar biasa kapitalis ini telah banyak dalam daftar sejarah berbagai kerusakan. Termasuk kaum Ibupun tergerus oleh kehidupan matrealistis akibat mabda kapitalis. Pada akhirnya kaum Ibu yang harusnya ada dirumah menjadi ummu warabatul bait, mereka banyak memilih menjadi wanita karir dengan meninggalkan putra-putrinya. Berangkat pagi buta, pulang menjelang petang, tubuh yang tidak lagi mudapun mudah lelah, yang harusnya bisa berlama-lama bersama putra-putrinya, bercengkrama, menjalin keakraban dengan putra-putrinya. 

Namun karena para Ibu bekerja, menyebabkan pulang kerumah hanya tinggal sisa waktu, akhirnya dengan putra-putrinya renggang tidak ada keakraban. Tidak pernah bercengkrama, tidak pernah bersama-sama, bahkan Ayah dan Ibu untuk hanya memanggil sayang kepada putra-putrinya saja tidak pernah dilakukan. Sering kita lihat antara Ayah dan anak, Ibu dan anak nyaris tidak pernah bertegur sapa ketika bertemu atau berpapasan dijalan.

Ayah dan Ibu begitu asing dari putra-putrinya, hingga putra-putrinya hidup kesepian dan mencari perhatian kepada orang lain.

Dalam kondisi ini, jelas sudah dapat dipahami bahwa apa yang terjadi akibat tidak fahamnya Ayah dan Ibu tentang aturan Islam, bagaimana mengatur hubungan antara anak dengan orang tua. Bahayanya banyak anak yang belum saatnya naluri ketertarikan terhadap lawan jenis dimunculkan, namun karena desakan batin, butuh ada orang yang memanggilnya sayang, cinta, shalih, shalihah dan lain-lain panggilan baik. 

Dan ia tidak dapatkan dari Ayah dan Ibunya, maka mereka mencari orang yang mengatakan sayang dan cinta kepadanya. Beruntung jika anak itu mendapat sayang dan cinta dari gurunya disekolah, sayang dan cinta pengganti dari Ayah dan Ibunya, berbahaya jika ia mencari dari teman sebayanya yang lawan jenis atau sejenis, bisa terjadi pacaran dini, atau mewarisi prilaku kaum Nabi Luth sejak dini.

Na'udzubillaahi min dzaalik. Jadi tidak heran jika banyak anak-anak terjerumus pergaulan bebas karena abai dari perhatian orang tua. Orang tua bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada putra-putrinya. Ditambah lagi dengan abainya negara terhadap rumitnya masalah anak dan orang tua yang belum siap menjadi orang tua.

Islam begitu luar biasa dalam hal mengatur hubungan antara Ayah Ibu dan anak. Allaah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٩﴾

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

(Q.S.4:9)

Inilah pengaturan dan tanggung jawab orang tua terhadap putra-putrinya. Seharusnya sebagai orang tua yang harus dikhawatirkan adalah apa yang akan ia sembah sepeninggal orang tuanya, bukan apa yang akan kamu makan jika kelak orang tua tiada. Begitulah sedikit penjelasan ayat diatas dalam hal mendidik anak.
Wallaahu a'lam bishawab

0 komentar:

 
Top