Penulis : Ayuratna Sari 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Pasca debat Pilpres 2019 lalu, ada  beberapa pernyataan yang menjadi rumor ditengah masyarakat. Sebab perrnyataan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan saat memberikan data-data yang tidak falid.  

Masyarakat pun bertanya, jika seseorang berani berbohong, apakah layak ia disebut hanya takut kepada Allah? Takut kepada Allah harusnya ia buktikan dengan menjalankan syariat Islam. Sebagaimana kita tau ternyata beliau dinobatkan oleh netizen sebagai Bapak Hoax Nasional Indonesia. Karena banyaknya data hoax yang disampaikan saat debat Pilpres ke dua. (mediaoposisi.com).

Maka ia tidak bisa disebut hanya takut kepada Allah saja, jika kenyataanya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan. Ketidak taatan seseorang terhadap syariah adalah hal yang wajar bagi para penganut paham kapitalisme. Karena menurut pandangan mereka ada pemisahan antara kehidupan dunia dengan agama. Hingga wajar jika hari ini ketika mereka menjalani kehidupan dunia, tidak mau diatur dengan agama. Atau bahkan ia hanya sekedar mengucapkan tanpa pembuktian. Padahal agama Islam adalah agama yang sempurna, mengatur kehidupan dunia baik hubungan dengan Allah, dirinya sendiri, bahkan orang lain. Sejatinya semua kerusakan dan permasalahan yang terjadi adalah buah penerapan paham kapitalisme. 

Seharusnya takut kepada Allah tercermin dalam setiap sikap yang dia ambil selama memimpin. Sebagaimana kita tau pemerintah telah mengganti uud no 17 tahun 2013 tentang pengaturan ormas, bahwa pembubaran ormas harus melalui mekanisme pengadilan, menjadi uu no 2 tahun 2017 hingga ada beberapa ormas yang di bubarkan dengan adanya uud baru tersebut. Bahkan mereka juga mengkriminalisasi Khilafah sebagai ajaran Islam, kriminalisasi ulama. Ini adalah salah satu bukti ketidak takutan pemerintah kepada Allah swt. 

Ucapan takut pada Allah bila sekedar lips service untuk mendalang suara maka bersiap-siaplah akan azab yang Allah berikan:

“sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah adalah seorang pemimpin yang zhalim.” (HR. Tirmidzi)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)

Islam memandang bahwa seorang pemimpin atau khalifah adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengurusi urusan umat baik dari segi dunia maupun agama. Bahkan tak cukup sampai di situ saja namun juga pemimpin yang mampu menerapkan syariat Islam ke dalam negara. Bagaimana dahulu ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal menjadi gubernur Yaman maka beliau bertanya “dengan apa engkau memutuskan perkara? Muadz menjawab “dengan Kitabullah” Rasulullah bertanya lagi “dengan apalagi jika engkau tidak mendapatkan didalam Al-Qur’an? Muadz menjawab “dengan sunnah Rasulullah.” 

Rasulullah saw bertanya sekali lagi “dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah?” Muadz menjawab, “aku akan berijtihad.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “segala puji milik Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang disukai Allah dan Rasulnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Baihaqi). 

Seperti itulah sejatinya bukti ketakutnya pemimpin terhadap Allah, bukan hanya sekedar ucapan saja mengatakan takut, tetapi dalam realisasinya tidak. 
 
Top