Penulis : Sri Maulia Ningsih, S. Pd
(Muslimah Media Konawe)

Capres Jokowi menegaskan butuh keberanian dan ketegasan dalam mengelola negara Indonesia. Jokowi menekankan tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah SWT. Dia pun mengungkap sudah punya pengalaman menjadi wali kota dan gubernur, saat di panggung debat di Hotel Sultan (Detik.com,17/2/2019).

Karena itu, butuh ketegasan dan keberanian dalam membuat kebijakan. Jokowi mencontoh pemerintahannya membubarkan mafia migas petral, merebut Blok Rokan dan Blok Mahakam serta sudah menguasai 51 persen saham Freeport.

Benarkah ketegasan dan keberanian itu?
Pernyataan kontroversi capres 01 pada debat pilpres kedua beberapa waktu lalu, merupakan pernyataan yang sangat baik tentunya. Namun, apakah benar hal itu sesuai dengan fakta yang ada?

Karena sesungguhnya ketika manusia takut kepada Allah Swt, sejatinya ia akan senantiasa berusaha taat kepada syariat-Nya saja. Sungguh rasa takut adalah implementasi dari takwa kepada-Nya. Arti takwa sendiri adalah upaya untuk menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya.

Oleh karena itu, jika memang hanya takut kepada Allah Swt. kenapa tetap membangun negeri ini dengan hutang riba dan lebih memihak kepada para investor asing daripada kepada rakyat? Padahal siapa saja yang memakan riba diibaratkan telah menantang azab-Nya. Allah Swt. Juga telah mengancam dengan keras para pemakan riba dengan ancaman sebagai dosa yang sangat besar. Bagaimana tidak, pada beberapa tahun terakhir saja pemerintah telah mengukir sejarah sebagai yang telah menambah hutang (yang berbasis riba tentunya) terbanyak. Sebagaimana Bank Indonesia (BI) telah merilis utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan IV-2018 mencapai US$ 376,8 miliar atau Rp 5.312,8 triliun. Sungguh angka yang fantastis sekaligus mengerikan jika kita mengingat besarnya dosa riba.

Tak berhenti sampai disitu, jika memang takut kepada Allah Swt, mengapa perusahaan-perusahaan asing masih saja melenggang bebas mengeruk kekayaan alam negeri ini? Padahal pertambangan dan segala kekayaan alam yang ada adalah kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki individu. Sebab manusia berserikat atas tiha hal. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya:

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Hadis diatas menyatakan bahwa ketiga hal itu tidak boleh dimiliki oleh individu.  Imam as-Sarakhsyi di dalam al-Mabsûth menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa di dalam hadis itu terdapat penetapan berserikatnya manusia baik muslim maupun kafir dalam ketiga hal itu.

Jika memang hanya takut kepada Allah Swt, tidak seharusnya memberikan kebebasan kepada yang melanggar syariat Islam, seperti membiarkan perzinaan dimana-mana. Sungguh negeri ini telah marak perzinaan, bahkan prostitusi atas dasar suka sama suka tidak dianggap sebagai kriminal. Ditambah lagi dengan RUU P-KS, jika sampai disahkan maka semakin melanggenglah perzinahan.

LGBT yang juga dilindungi atas nama hak asasi manusia, padahal LGBT telah nyata membuat kerusakan demi kerusakan di masyarakat. Gerakan ini juga mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang dan terbukti semakin meningkatkan prevalensi HIV/AIDS. Di dalam syariat Islam pun Allah melaknat perilaku kaum nabi Luth a.s. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya: 

“Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR Ahmad). 

Allah Swt. juga telah menetapkan hudud bagi perilaku ini. Tapi apakah negeri ini melaksanakan hukum Allah Swt ini?

Kalau memang takut kepada Allah Swt. harusnya tidak takut dengan ancaman dan intimidasi manusia siapa pun itu. Namun, apakah benar negeri ini telah lepas dari intervensi pihak asing? 

Seorang pemimpin yang takut hanya kepada Allah Swt, maka akan sangat senang hati ketika mendapatkan kritik dan nasihat dari rakyatnya. Karena nasihat dari rakyat adalah dalam rangka untuk kemaslahatan umat dan negeri ini. Namun, nyatanya tak sedikit yang menyuarakan kebenaran, harus berujung ditangkap, karena telah mengkritik penguasa. Bukannya mengevaluasi, tapi justru menyerang pihak yang berseberangan. Bahkan rezim ini begitu bangga telah sukses membubarkan gerakan yang memperjuangkan syariat Allah Swt. Padahal dakwah untuk terikat kepada syariat-Nya adalah bentuk ketakwaan kita kepada Allah Swt ataupun merupakan bentuk rasa takut kepada Allah Swt. Lalu, apakah ini menjadi indikasi bahwa hal tersebut merupakan bentuk ketakutan kepada Allah Swt?

Rasa Takut Pada Allah Butuh Realisasi
Sungguh, rasa takut kepada Allah bukanlah hanya sekedar ucapan, namun hal ini harusnya terealisasi di dalam setiap perbuatan. Terlebih seorang pemimpin suatu negeri yang memiliki rasa takut kepda-Nya, maka akan berupaya melaksanakan perintah Allah Swt. Dalam rangka taat kepada syariat-Nya. Mereka akan sangat takut, jika menzalimi rakyatnya. Sangat takut jika membuat rakyat sengsara dengan kebijakan yang telah ditetapkankannya. Bahkan mereka akan senantiasa tidak merasa aman karena takutnya dengan azab Allah Swt.

Janganlah sampai ungkapan rasa takut kepada Allah Swt. hanya sebatas dibibir saja. Sungguh ini adalah kemungkaran yang merupakan indikasi tidak ada rasa takut kepada Allah Swt. 

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertakwa dan hal ini juga merupakan bukti keimanan kepada Allah. Maka takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang semestinya diperhatikan oleh setiap mukmin. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 44  yang artinya:

 “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.”

Konsekuensi dari rasa takut kepada-Nya adalah taat kepada syari’at Allah Swt, bukan justru mengkriminalisasi syariat Allah Swt. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
 
Top