Ani Hayati (Ummu Rozan)
Berdasarkan pandangan yang menyoroti pentingnya kepemimpinan Islam global (khilafah), kondisi dunia tanpa kepemimpinan Islam sering digambarkan sebagai situasi yang mengalami krisis multidimensi. Keruntuhan sistem kepemimpinan Islam dianggap sebagai hilangnya "perisai" yang melindungi umat Islam dan menyebabkan dunia diatur oleh nilai-nilai sekuler. Yang notabene Dunia di bawah kendali AS dan ideologi kapitalismenya telah membuat umat Islam terjajah, lemah, menderita, dan semakin sekuler. Belum lagi berbagai bencana ekologis di dunia akibat keserakahan kepemimpinan Kapitalisme global.
Hingga kini AS makin menunjukkan arogansinya dengan melakukan serangan dan ancaman ke berbagai negara di dunia termasuk Venezuela.
Trump menekan Maduro agar melepaskan kekuasaan serta meninggalkan Venezuela. Dengan dalih memerangi narkoba, Trump sebenarnya mengincar minyak Venezuela (05/01/2026, Kompas.id).
Dari fakta diatas ini menunjukan bahwa Ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, baik dalam hal akidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan. Dimana AS menggunakan berbagai cara, termasuk melakukan aneksasi ke negara lain demi menguasai sumberdaya alam mereka tanpa memperdulikan tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.
Bagaimana dunia tanpa kepemimpinan Islam?
Umat Islam Kehilangan
Pelindung: Tanpa pemimpin tunggal atau sistem yang menyatukan, umat Islam dianggap seperti tubuh tanpa kepala. Hal ini membuat umat Islam rentan, terpecah belah, dan tidak memiliki kekuatan pelindung ketika tertindas.
Penjajahan dan Intervensi Asing: Hilangnya kepemimpinan Islam menyebabkan negara-negara Barat atau kekuatan asing lebih leluasa menanamkan pengaruh politik dan ekonomi di negeri-negeri Muslim.
Krisis Spiritual dan Moral: Penggantian sistem Islam dengan nilai-nilai sekuler membuat umat Islam terasing dari ajaran agamanya sendiri dan menganggap syariah tidak sesuai dengan zaman.
Dominasi Kebijakan Sekuler: Kebijakan yang lahir cenderung korup dan hanya menguntungkan pengusaha, bukan rakyat, karena tidak didasarkan pada prinsip keadilan syariah.
Ketidakberdayaan dalam Isu Internasional: Negara-negara Muslim merasa tidak memiliki tanggung jawab bersama terhadap penderitaan sesama Muslim di wilayah lain (seperti Palestina, Myanmar, Uighur) karena paham nasionalisme yang terkotak-kotak.
Kehilangan Keberkahan: Ketiadaan penerapan aturan agama (syariah) dianggap sebagai penyebab hilangnya keberkahan dalam berbagai usaha dan kehidupan, yang membawa bencana.
Mengingatkan umat Islam dan keberadaan mabda Islam yang bisa menjadi modal kebangkitan dengan tegaknya kepemimpinan Islam untuk melawan hegemoni AS yang masih bergrilia di tengah-tengah Umat.
Kepemimpinan Islam satu-satunya harapan mengembalikan tatanan kehidupan dunia yg penuh rahmat.
Kepemimpinan adalah amanah, bukan kekuasaan
Kepemimpinan dalam Islam bukan eksploitasi, melainkan tanggung jawab.
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung…”
(QS. Al-Ahzab: 72)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Perlu diketahui bahwa tujuan Kepemimpinan adalah membawa rahmat bagi seluruh manusia.
Islam tidak hadir untuk satu bangsa atau ras.
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Maka kepemimpinan yang mengikuti risalah ini harus bersifat global dan penuh kasih.
Oleh karena itu pentingnya persatuan umat muslim untuk mewujudkan kembalinya kehidupan Islam di tengah-tengah umat dengan adanya kepemimpinan global yaitu khilafah Islam yang berlandaskan wahyu, tak hanya melindungi umat Islam, tapi juga melindungi seluruh manusia dari kedzaliman, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan/bencana. Yang menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan membawa rahmat bagi seluruh alam bukan dominasi, bukan pula penindasan. Wallahu alam bissawab.

No comments:
Post a Comment