Penulis : Etti Budiyanti
Member Akademi Menulis Kreatif 
dan Anggota Muslimah Rindu Jannah 

"... Kobarkanlah semangat luhurmu kembali, Kembangkanlah sayapmu meninggi, Sumbangkanlah tenaga kepada dunia, Tanda kamu Indonesia."
Cuplikan akhir lagu perjuangan Maju Indonesia karya C. Simanjuntak itu, layak diinstal dalam diri pejuang yang peduli negeri ini. Terlebih saat sekarang ini. Tengoklah hari ini. Indonesia negeri gemah ripah loh jinawi ternyata mengalami multi krisis di mana-mana. Krisis energi, pangan, infrastruktur, Sumber Daya Alam dan lingkungan hidup. Semua ulah kebijakan yang berkhidmat pada sekulerisme dan demokrasi yang merupakan sistem warisan penjajah. Sistem yang menafikkan peran agama dalam kehidupan.

Slogan Indonesia Maju yang diagungkan pasangan calon presiden Joko Widodo - Ma'aruf Amin merupakan sebuah wujud optimisme. Demikianlah yang dikatakan oleh Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'aruf Erick Thohir dalam Konvensi Rakyat yang mengangkat tema "Optimis Indonesia Maju" di Sentul Internasional Convention Center, (minggu, 24/2).

Fakta energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup yang diungkap saat debat kedua Pilpres 2019 tanggal 17 Februari 2019 oleh Joko Widodo ternyata penuh hoax. Bohong dan omong besar.

Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan  Hidup dan Kehutanan membantah data yang diungkap Jokowi. Tak kalah serunya Natalius Pigai juga mengungkap kebohongan fakta kebakaran hutan. Begitu pula Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALH) Nur Hidayati membantah tentang kebakaran hutan, konflik lahan dalam pembangunan infrastuktur. Data impor jagung dibantah oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Meski akhirnya Jokowi membuat klarifikasi, hal ini justru memperjelas kebohongan dan omong besar penguasa. Berdasar fakta tersebut, benarkah slogan yang diusungnya yaitu Indonesia Maju itu benar merupakan optimisme yang berakibat kebangkitan?

Bangkit dengan Islam demi Indonesia Maju
Menurut Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam bukunya Nidzomul Islam, bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. Di samping itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahimnya.

Singkatnya pemikiran akan mempengaruhi persepsi seseorang dan persepsi itu yang akan berpengaruh terhadap tingkah lakunya.

Sehingga bila kita ingin mengubah tingkah laku sesorang maka ubahlah dulu persepsinya(mafahim). Allah SWT berfirman dalam surat Ar Ra'du (13 : 11) yang artinya :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka." (TQS. ar Ra'du(13:11).

Ketika seseorang ditanya dari mana dia berasal, untuk apa kita hidup di dunia serta ke mana akan kembali setelah hidup di dunia, tentu akan berbeda-beda. Jawaban itulah yang akan menunjukkan bagaimana ideologinya. 

Seorang komunis akan mengatakan dia berasal dari materi (sel telur dan sperma), hidup untuk kebebasan dan kesenangan, dan mati menjadi tanah.Tak ada keterkaitan antara sebelum dan sesudah kehidupan dunia. 

Seorang kapitalis ada yang tidak mengenal Tuhan dan ada yang mengenal Tuhan sebagai penciptanya, tetapi dia hidup tidak mau diatur dengan agama karena tidak ada hisab di akhirat atas perbuatannya, sehingga menurutnya sesudah mati masuk surga. Tak ada peran agama dalam kehidupan. Manusia yang akan membuat aturan sendiri untuk kehidupannya, tidak mau diatur oleh aturan Tuhan sebagai penciptanya. Mereka menafikkan peran agama dalam kehidupan.

Keduanya sangat bertentangan dengan ideologi Islam. Islam memandang ada keterkaiatan antara kehidupan sebelum dunia, dunia, dan sesudah dunia. Ada pencipta yaitu Allah SWT yang memberi aturan untuk hidup di dunia, karena perbuatan ketika di dunia akan berakibat masuk surga atau neraka. Keyakinan ini akan mengakibatkan seseorang senantiasa melakukan perintah Tuhan tanpa tapi, tanpa unsur pencitraan, sebagai konsekuensi dari keimanannya. Tak akan ada kebohongan dan omong besar, karena hal itu adalah perbuatan dosa. 

Oleh karena itu agar bisa mencapai Indonesia Maju, bukan sekedar diperlukan optimisme, tapi perlu juga ditingkatkan keimanannya terhadap Islam kaffah. Islam tegak bila terwujud tiga pilarnya yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan negara yang memberi regulator dan mau menerapkan semua aturan Islam.

Indonesia hanya akan maju dan bangkit dengan kembali pada jati dirinya sebagai umat Islam dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Islam sudah mengatur bagaimana pengelolaan negara yang benar. Manusia berserikat dalam air, api dan padang rumput. Hingga seharusnya negara berkewajiban mengelola ketiganya demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Islam ideologilah modal besar kita. Bukan dengan mempertahankan sistem rusak yang jadi alat pemilik modal besar.
Wallahu A'lam bishshowwab
 
Top