Penulis : Verawati S.Pd
(Praktisi pendidikan)

Hawa pilpres semakin hari kian terasa memanas. Masing-masing kubu Paslon baik dari petahanah maupun oposisi melakukan berbagai upaya untuk mendulang suara. Hal ini terlihat dalam acara debat capres putaran kedua yang dilaksanakan 17 Februari 2019 lalu. Tema yang dibahas dalam debat tersebut adalah Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup. Dalam debat tersebut banyak data yang disampaikan. Namun rupanya data yang disampaikan menuai perdebatan karena banyak pihak yang menyatakan bahwa banyak kebohongan di balik data yang disampaikan.

Misal data tentang konflik pembebasan lahan untuk proyek infrastuktur.  Paslon petahan mengatakan bahwa dalam 4,5 tahun terakhir hampir tidak ada konflik dalam pembebasan lahan untuk memuluskan proyek-proyek infrastruktur Negara, bukan ganti rugi tapi gantu untung. Padahal data di lapangan  faktanya berbeda. Adhityani Putri dari Yayasan Indonesia Cerah mengatakan, bahwa konflik akibat pembebasan lahan masih kerap terjadi. "Pernyataan itu (tidak ada konflik) sama sekali tidak benar. Pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur energi, PLTU batu bara menimbulkan konflik hebat di masyarakat," katanya. (teropongsenayan.com 17/02/19) 

Begitupula dengan pernyataan Jokowi tentang kasus kebakaran hutan. Bahwa dalam 3 tahun terakhir tidak terjadi lagi kebakaran hutan. Nyatanya dilapangan jauh beda, sebagaimana dilansir oleh detikNews.com 17/02/19. Laporan dari BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana merekapitulasi bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan di tahun 2019 ini tercatat sudah terjadi beberapa kali karhutla. Begini data karhutla di Indonesia menurut data BNPB:
- Tahun 2019 (hingga Februari): 5 kali kejadian karhutla, 1 orang hilang/meninggal dunia 
- Tahun 2018: 370 kali kejadian karhutla, 4 orang hilang/meninggal dunia
- Tahun 2017: 96 kali kejadian karhutla, tak ada korban jiwa/hilang
- Tahun 2016: 178 kali kejadian karhutla, 2 orang hilang/meninggal dunia  

Sungguh, kebohongan ini tidak bisa dianggap sepele, meski dalam hal data. Terlebih kebohongan ini disampaikan oleh seorang pemimpin Negara. Bohong  adalah sifat buruk, dan bertolak belakang dari sifat-sifat yang harusnya melekat pada seorang pemimpin yaitu jujur dan amanah. Tentu sangat miris melihatnya. Kebohongan inipun bisa menunjukan betapa rendahnya kapabilitas pemimpin tersebut. 

Selain itu, sistem demokrasi yang diterapkan saat ini, sangat sulit mewujudkan sosok individu pemimpin yang jujur dan amanah. Sebab demokrasi  yang lahir dari kapitalisme memiliki prinsip kebebasan dan juga menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan. Termasuk demi melanggengkan kekuasaan, kebohonganpun akan dilakukan ataupun kecurangan-kecurangan lainnya. Sebab kapitalisme berasas sekulerisme, memisahkan peran agama dari kehidupan. Maka dalam alam demokrasi  agama dikesampingkan, agama tidak boleh turut campur sehingga akan tercerabut rasa takutnya kepada Allah SWT. Sekali lagi, untuk meraih kekuasaan ataupun untung kebohongan atau kecurangan apapun akan dilakukan.

Lantas tidakkah kita merindukan pemimpin yang jujur dan amanah? Sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat. Mereka begitu takut akan jabatan. terlebih jabatan pemimpin Negara.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji mereka dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. al-Mukminun 8-11)

Sosok-sosok pemeimpin tersebut bisa lihat dari kholifah Abu Bakar As-sidiq dan Umar bin Khattab. Abu Bakar, Kejujurannya telah teruji semenjak awal dia masuk Islam. Hal tersebut terbukti -salah satunya- di tengah-tengah kaum Quraisy mengingkari dan bahkan menghina Nabi dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Bakar justru menjadi orang pertama yang meyakini kebenaran hal tersebut.

Bahkan, dia berani menantang kaum kafir, bahwa kalau saja ada berita yang lebih dahsyat dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, maka dia akan mempercayai hal tersebut tanpa sedikitpun meragukannya.

Kejujuran Abu Bakar ini, kemudian terwujud dengan tindakan nyata. Dia tidak pernah meragukan akan apa yang telah menjadi janji Allah dan Rosul-Nya. Dan hal itu setidaknya tergambar dengan keberaniannya menyerahkan kepada Nabi seluruh harta bendanya demi memperjuangkan kejayaan Islam pada suatu peperangan.

Begitupun sosok Umar RA, beliau rela di tengah malam yang gelap pekat berkeliling kampung melihat kondisi rakyatnya. Bukan untuk pencitraan melaikan untuk memenuhi amanah-amanah yaitu mengurusi dan menjaga umat. Rela memikul sekarung gandum untuk memenuhi kewajibannya dan takut diminta pertanggungjawaban nanti di akhirat.

Sosok pejabat  yang jujur seperti ini memeng hanya dapat diwujudkan dalam sistem Islam yang dilandaskan kepada keimanan kepada Allah dan hari akhir. Sistem yang dicontohkan oleh Rasul dan juga para sahabatnya yaitu sistem pemerintahan Daulah khilafah Islamiyah. Jadi bila umat merindukan sosok pemimpin seperti Abu Bakar RA dan Umar RA, sejatinya juga merindukan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah. Maka, sudah saatnya umat campakkan sistem demokrasi dan kapitalisme sekularisme. 

Waallahu ‘alam bishoab
 
Top