Oleh: Ine Wulansari
Ibu Rumah Tangga, Pegiat Dakwah tinggal di Bandung

Perubahan hakiki adalah transformasi yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki. Sementara sebuah perubahan tidaklah disebut hakiki, jika tidak menjadikan masyarakat berubah menuju keadaan yang lebih baik. Yang menentukan hakiki atau tidaknya sebuah perubahan adalah benar atau tidaknya peradaban ditegakkan. Adapun faktor yang menentukan benar tidaknya sebuah peradaban adalah aqidah (pemikiran mendasar) yang menyangga peradaban tersebut. (SyamsudinRamadhan.blogspot.com) 

Seperti yang sudah kita saksikan dan alami di tahun 2018 lalu, berbagai cerita sedih melengkapi perjalan berat umat. Dari tahun ketahun disaat hidup dalam naungan sistem sekuler yang kian nyata.

Sistem Rusak Penyebab Kerusakan Negeri
Sistem kapitalisme dan sosialisme yang kesemuanya beraqidahkan sekulerisme nyata-nyata telah menimbulkan kerusakan hampir diseluruh dimensi kehidupan.

Di negeri yang berpenduduk muslim terbesar sedunia ini umat hidup dalam naungan rezim yang menerapkan sistem kapitalis demokrasi yang menganut pola sekulerisasi di semua lini kehidupan. Akibatnya, masyarakat terpuruk kedalam kenestapaan yang sistemik. Sebutlah soal pertumbuhan ekonomi dan angka kemiskinan yang kondisinya selalu diklaim terus membaik. Seperti halnya fakta yang dilansir oleh kompas.com (Selasa, 31 Juli 2018) bahwa angka kemiskinan di Indonesia terus menurun mulai dari September 2015 turun menjadi 11,13% dengan 28,51 juta jiwa; kemudian Maret 2016 turun menjadi 10,86% dengan 28,01 juta jiwa. Pada September 2016 angka kemiskinan turun menjadi 10,7% dengan 27,76 juta jiwa; Maret 2017 angka kemiskinan naik menjadi 10,64% dengan 27,77 juta jiwa. Meski persentase turun, jumlah penduduk miskin meningkat. Kemudian September 2017 angka kemiskinan turun 10,12% dengan 26,58 juta jiwa. Dan pada Maret 2018 angka kemiskinan turun menjadi 9,82% dengan 25,95 juta jiwa. 

Nyatanya, semua hanya permainan angka-angka semata. Siapapun akan mudah mendapati fakta bahwa kondisi ekonomi makin melilit. Kebutuhan semakin mahal dan sulit dijangkau.

Apalagi banyak kebijakan penguasa yang menambah beban berat dan mempersempit rakyat. Seperti pajak, asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan, biaya pendidikan yang semakin membengkak, kenaikan harga BBM yang merangkak berkala, listrik yg bebannya makin naik dan lain-lain. Tak jauh beda untuk kondisi dalam bidang lainnya. 

Di tahun ini juga kezaliman demi kezaliman rezim terhadap umat terus terjadi. Persekusi ulama, label radikal dan terorisme dengan mudah dilekatkan pada mereka yang mengkritisi pemerintah. Dan yang sangat terasa, ditahun-tahun yang lalu kehidupan sangat jauh dari keberkahan. Alam seakan marah, berbagai macam musibah menimpa bangsa ini, seakan tak ada habisnya. Karena bangsa ini sudah begitu melampaui batas. 

Perubahan Hakiki: Perubahan Sistem
Semua kondisi atau keadaan buruk ditahun lalu tentu harus memunculkan kesadaran kuat di kalangan umat untuk melakukan perubahan hakiki yang mengarah pada perubahan sistem.

Tak bisa kita terus berharap pada solusi perubahan yang ditawarkan oleh rezim yang saat ini dan pendahulu mereka berlakukan yakni sistem sekuler kapitalis demokrasi, karena telah nyata keburukan dan kegagalannya.

Jika telah nyata bahwa sistem kapitalis dan sosialis/komunisme demikian buruk dan bobroknya, maka satu-satunya cara adalah beralih pada sistem Islam, yang berasal dari Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Dengan memperjuangkannya melalui dakwah fikriyah (pemikiran) dan jamaiyyah (secara berjamaah) yang merupakan jalan perubahan hakiki dan telah dicontohkan demikian gemilang oleh Rasulullah Saw.

Umat dipahamkan dengan akidah yang lurus, sehingga akan tergambar bahwa tak ada yang bisa membawa mereka pada kesejahteraan hakiki dan keberkahan hidup selain dengan menerapkan hukum-hukum Islam secara kaffah dalam bingkai Negara Khilafah Rasyidah.
Wallahu a'lam bishawab.
 
Top