Menganalisa cara melakukan tindakan cabul dosen USU HS, sang predator seksual terhadap korban D mahasiswinya sendiri, ahli Psikolog Sunarto SPsi, MPsi, menyarankan agar yang bersangkutan diperiksa kejiwaan dan psikologisnya. 

Sunarto menyebut, setidaknya ada beberapa motif yang melatarbelakangi seseorang berbuat cabul. Yakni karena pernah menjadi korban, iseng atau karena ketagihan. Dengan melakukan pemeriksaan psikologis HS, Sunarto menilai bisa mengungkap secara akurat motif pelaku berbuat cabul. “Motifnya iseng, korban atau adict (ketagihan). HS butuh pemeriksaan psikologi,” tegas penanggungjawab Biro Psikologi Marsha Punta Dewa tersebut kepada www.MartabeSumut.com, Kamis malam (13/6/2016).

Pria berkantor di Jalan Sultan Hasanudin Nomor 18 Keluarahan Petisah Hulu Kecamatan Medan Petisah Kota Medan ini melanjutkan, pmeriksaan psikologis HS sangat diperlukan sebab modus yang sama kerap dilakukan banyak pelaku terhadap para korban. Mulai dari mengajak mahasiswinya pergi melakukan penelitian hingga memanfaatkan posisi dosen sebagai pemegang otoritas pemberi nilai. Artinya, terang Sunarto lagi, hubungan antara dosen dan mahasiswa dianggap sebagai ajang memanfaatkan jabatan. Mahasiswa yang dalam posisi lemah disebutnya dijadikan kelinci percobaan untuk memenuhi nafsu pelaku (dosen) dengan cara meraba, memegang dan sebagainya. “Terakhir, korban dipaksa menerima uang dengan alasan imbalan telah ikut membantu penelitian. Jika menolak, HS marah kepada korban dan tidak membiarkan korban pergi,” ucapnya.

Kampus Tidak Punya Proteksi 

Sunarto meyakini, munculnya kasus dosen predator seksual seperti HS maupun masalah sejenisnya, dominan dilatarbelakangi tidak adanya proteksi pihak universitas untuk hal-hal semacam itu. Dia menilai, fakta yang terjadi adalah pengabaian aspek pendampingan terhadap mahasiswa, dosen maupun staf yang beraktivitas di kampus setiap hari. Realitas inilah yang dianggap Sunarto membuat manajemen universitas sullit melihat sejauh mana perkembangan intelektual, kemampuan bersosial, kondisi mental, kejiwaan hingga masalah yang sedang dihadapi orang-orang di lingkungan universitas. “Kampus tidak punya proteksi. Tidak pernah mempertimbangkan aspek psikologi orang-orang yang ada di sana. Mahasiswa hanya dijadikan subjek,” ungkap pria yang sedang menjalani studi S3 di Universitas Negeri Medan (Unimed) tersebut.

Bagi Sunarto, sudah saatnya universitas di Sumatera Utara khususnya USU menerapkan program Career Development Centre (CDC). Sebab program yang mengedepankan aspek psikologi itu bukan sekadar membantu menghadapi karir. Namun mahasiswa, dosen dan staf di suatu universitas dapat sharing keluhan bahkan menyampaikan kehidupan pribadi, persoalan kampus serta hal-hal lain yang dianggap berpotensi jadi persoalan. “Bila diwujudkan, program ini bukan mustahil menemukan solusi. Bisa memberi masukan terhadap pimpinan universitas dalam pengambilan kebijakan,” tutup Sunarto. (Rel/MS/PRASETIYO)