Pada tahun ini, sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Sumatera Baratpada tingkat Sekolah Menengah Atas (dan) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menuai kontroversi bagi masyarakat. 

Pasalnya, peraturan dan persyaratan sistem online
yang telah ditetapkkan Pemerintah pada halaman websitenya, tidak terealisasi sesuai harapan.

Hal ini dikatakan Afrizal Djunit selaku ketua walimurid kepada wartawan di kediamanya Senen (28/6).

Ia  mencontohkan pendaftaran melalui zonasi. Berdasarkan jarak, antara rumahnya dengan SMA 3 itu hanya 900 meter saja. Dan secara aturan, itu jelas  telah memenuhi persyaratan, dan terdeteksi melalui kartu keluarga yang tidak bisa diubah.

Keanehan pun terjadi, setelah jadwal penutupan pukul 24.00 wib, tiba-tiba, terjadi pergeseran nomor urut nama-nama peserta didik yang signifikan di halaman website PPDB Sumbar.

Yang sebelumnya anaknya berada pada  level masuk dalam kuota (tingkat aman), tiba-tiba tergeser dan berada di luar kuota penerimaan.

Hal senada juga dialami Viendri. "Saya ada bukti ada calon siswa yang berubah tiba-tiba jarak rumahnya. Saya sudah screenshoot, peringkat calon siswa itu dan jarak rumahnya. Tapi ketika pendaftaran sudah ditutup, itu berubah menjadi dekat ke sekolah," kata Viendri.

Viendri mengaku sangat heran, mengapa jarak rumah itu bisa ditukar-tukar ketika pendaftaran sudah ditutup.

"Sebagai orangtua, kami sangat heran dan mempertanyakannya," kata Viendri


Sementara itu, Ketua Panitia PPDB SMA/SMK di Sumbar, Suindra mengakui adanya perubahan ranking siswa kendati pendaftaran sudah ditutup.
Hal itu terjadi karena adanya proses verifikasi yang dilakukan pihaknya terhadap pendaftaran calon murid.

"Setelah kami lakukan, ternyata ada kesalahan yang dilakukan dalam menginput data, terutama soal jarak rumah. Ini tentu akan menyebabkan adanya ranking siswa yang naik dan turun," kata Suindra.
Suindra mengatakan, jika pihaknya menemukan adanya calon siswa yang melakukan pemalsuan data, maka akan diberi sanksi berupa pencoretan dari pendaftaran PPDB Sumbar.

"Dia langsung kita coret apabila melakukan pemalsuan data. Kita akan tegas soal ini," kata Suindra.

Suindra meminta agar orangtua murid yang anaknya tidak lulus supaya bersabar dan mengikuti pendaftaran tahap II pada 2-4 Juli 2021 mendatang.

"Masih ada tahap II. Silakan mendaftar bagi mereka yang belum lulus," kata Suindra.