Penulis : Miniarti Impi, ST

Kita telah banyak melihat dan sangat sering mendengar tentang kebiadaban zionis Israel terhadap rakyat Palestina.  Banyak air mata yang telah mengering, telinga menjadi panas dan hati serasa jeuh mendengar di setiap media elektronik dan media cetak pemberitaan korban di Gaza, Palestina yang terus bertambah. Entah berapa banyak lagi korban jiwa yang harus melayang karena kekejian bangsa Israel. Banyaknya korban jiwa dan luka-luka belum mewakili kebuasan mereka. Banyak ibu yang telah kehilangan suami dan anak-anak, begitu pula banyak anak yang telah kehilangan ibu dan bapaknya karena telah syahid dalam pertempuran. 

Kondisi ini nampaknya masih akan terus terjadi, seiring dengan rencana dari Israel yang masih akan terus memperluas wilayah jajahannya. Rencana pencaplokan Tepi Barat Palestina ini terang-terangan di ucapkan oleh Israel.

Dilansir dalam republika.co.id,Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji, dirinya akan mencaplok permukiman Israel di Tepi Barat jika menang dalam pemilihan umum (pemilu) yang akan dilangsungkan pada 9 April 2019. Dia berjanji akan mengakuisisi pemukiman Yahudi di Tepi Barat, bagian dari wilayah Palestina di barat sungai Yordan. Kepala negosiator Palestina dan pembantu dekat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Saeb Erekat mengatakan, Israel tidak akan berhenti melanggar hukum international selama mendapatkan dukungan terutama dari Amerika Serikat (AS).

Pemukiman di Tepi Barat memang menjadi persoalan yang paling diperdebatkan Israel dan Palestina. Palestina beranggapan kehadiran permukiman tersebut membuat impian Palestina untuk merdeka semakin sulit terwujud. Sedangkan Israel mengatakan alasan yang digunakan Palestina hanya alibi untuk menghindari negosiasi langsung. Israel juga beranggapan, permukiman bukanlah hambatan yang sebenarnya terjadi.

Jika demikian pertanyaan yang muncul sekarang adalah, bagaimana solusi total masalah Palestina? Kepada siapakah umat Islam bisa berharap?. Kepada PBB, ini mustahil karena justru PBB adalah organisasi yang justru memberikan persetujuan dan pengakuan terhadap Israel, pada 29 November 1947. Faktanya, sampai sekarang PBB tidak pernah memberikan sanksi kejahatan perang yang telah dilakukan oleh AS dan Israel.

Kepada AS, apalagi, karena merekalah selama ini yang menganak emaskan Israel dan memberikan bantuan baik secara fisik dan pengaruh. Bahkan yang lebih menyakitkan Presiden AS, Donald Trump, dalam pidatonya di Gedung Putih, sebagaimana yang dilansir dalam BBCNews (07/17) Presiden Trump mengatakan 'sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel'. "Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung," tuturnya. 

Kepada OKI, Organisasi Kerjasama Internasional (OKI) hingga saat ini belum memperlihatkan kapasistas maksimalnya dalam mengatasi konflik di Timur Tengah. Sejak kelahirannya pada 1969, hingga kini OKI tidak mempunyai peran menonjol dan tak bertaring menyelesaikan konflik yang terjadi di Palestina, Yaman dan Suriah.

Kepada organisasi HAM dan Demokrasi, inipun bathil, karena HAM dan Demokrasi adalah alat barat yang berstandar ganda, yang hanya berpihak apabila sang empunya yang mendapatkan masalah, dan hanya digunakan untuk menyudutkan kaum muslim. Lagi pula hipokrit HAM, tidak ada kemerdekaan bagi Palestina, malah yang ada legitimasi penjajahan.

Solusi Hakiki
Solusi hakiki untuk masalah Palestina haruslah bersandar pada syariah. Masalah Palestina adalah masalah Islam dan seluruh kaum muslim. Pasalnya, Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Israel. Sikap semestinya haruslah seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak sama sekali segala bentuk penyerahan tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal.

Karena itu sikap seharusnya terhadap Israel yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan, yakni perangi dan usir. Demikian sebagaimana firman-Nya: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin”  (TQS at-Taubah [9]: 14).
Allah SWT juga berfirman: “Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian”  (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Berdasarkan ayat di atas, Israel harus diperangi dan diusir dari tanah Palestina. Dengan kata lain jihad fi sabilillah terhadap Israel wajib dilancarkan. Namun, rasa-rasanya sangat kecil kemungkinannya bahkan mustahil hal itu di lakukan. Pasalnya, tidak satu pun rezim di negeri-negeri Islam saat ini yang menjadikan akidah dan syariah Islam sebagai asas dan standar dalam bernegara, termasuk dalam politik luar negeri mereka dengan mengadopsi jihad fi sabilillah. Padahal jihadlah cara satu-satunya untuk mengusir siapapun yang telah merampas tanah milik kaum  muslim, termasuk Israel yang telah merampas Tanah Palestina.

Oleh karena itu, tidaklah kita mencukupkan pada aksi-aksi saja, kepada pengiriman bantuan saja, dan kepada protes dan pengutukan saja, tetapi lebih daripada itu, setiap ummat Islam mesti memiliki kesadaran politik bahwa satu-satunya solusi mereka adalah tegaknya kembali Khilafah Islam yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan secara sadar dan sistematis memperjuangkan tegaknya Khilafah itu dengan seluruh kekuatan yang ada pada diri kita.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin nyawa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (TQS at-Taubah [9]: 111). 
 
Top