Penulis : Djumriah Lina Johan

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55)

Ayat di atas sangat tepat dijadikan sebagai standar kemenangan, kemajuan, dan kebangkitan yang sesungguhnya bagi umat. Sebab, kemajuan yang hakiki pada dasarnya adalah ketika umat telah mencapai tataran iman, mengerjakan amal sholih, takut kepada Allah, hanya menyembah Allah, dan tidak mempersekutukanNya dengan apapun.

Dilansir dari Kompas.com pada Minggu (24/2/2019) calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin ikut berpidato dalam acara Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju. Dia melanjutkan pidato kebangsaan calon presiden Joko Widodo di Sentul, Minggu (24/2/2019). Dalam pidatonya, Ma'ruf menjelaskan pendapatnya kenapa dia dan Jokowi harus memenangkan Pemilihan Presiden 2019.

“Untuk Indonesia maju, kita harus menang. Kita pantas menang karena kita punya modal yang besar,” kata Ma'ruf di Sentul International Convention Center, Minggu. Modal yang dimaksud Ma'ruf bukan uang melainkan hasil kerja pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Ma'ruf mengatakan, Jokowi-JK sudah meletakkan dasar pembangunan yang kuat.

Dalam pemberitaan kabar24.bisnis.com pada Senin (25/2/2019) dalam acara yang sama, pidato kebangsaan Jokowi menyebut dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana telah mengalami berbagai kesulitan dan ketakutan tidak bisa berobat ketika sakit, tidak mampu meneruskan sekolah.

“Untuk itu, saya bertekad agar rakyat Indonesia harus bebas dari rasa ketakutan seperti itu,” katanya yang disambut gegap gempita para pendukung “Jokowi Menang”.

Disadur pula dari RMOL.com pada Senin (25/2/2019) seperti yang disampaikan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Erick Thohir dalam Konvensi Rakyat yang mengangkat tema 'Optimis Indonesia Maju' di Sentul Internasional Convention Center, Minggu (24/2). “Indonesia maju bukan hanya slogan. Indonesia maju adalah wujud optimisme. Sebuah tranformasi dari harapan besar bangsa Indonesia,” ujarnya.
Namun, pada kenyataanya apa yang telah disampaikan di atas adalah kebohongan. Pada realitasnya sekarang rakyat hidup dalam kondisi multikrisis. Dimana banyak sekali rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tekanan hidup bertambah karena kebutuhan pokok naik setiap harinya. Generasi rusak, tidak hanya dari sisi pergaulannya juga dari adab mereka. Angka perceraian meningkat setiap tahun. Angka kekerasan pada perempuan dan anak meroket tajam. Dan masih banyak lagi rapor merah negeri ini.

Hal ini tidak terlepas dari sistem yang diterapkan sekarang yaitu sistem demokrasi sekuler yang merupakan warisan penjajah. Demokrasi dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat pada penerapannya hanyalah ilusi belaka. Ini bukan hanya karena oknum-oknum di pemerintahan namun telah rusak sejak dari kelahirannya. Sekulerisme menjadi asasnya. Alhasil agama hanya menjadi figuran dalam kancah perpolitikan dan pemerintahan.

Tidak bisa tidak, jika ingin Indonesia maju maka wajib untuk melepaskan cengkraman sistem demokrasi sekuler ini dari akar-akarnya. Sehingga tidak akan ada lagi virus-virus pemikiran yang meracuni umat dari mimpi dan cita-cita yang semu. Kemajuan dan kebangkitan yang semu.

Hanya dengan kembali kepada jati diri kaum muslimin dan menerapkan hukum-hukum Allah lah negeri tercinta ini bisa maju dan bangkit bahkan mampu mengalahkan negara adidaya sekarang. Itulah yang Allah swt janjikan dalam QS. An Nuur ayat 55 di atas.

Sebab, Islam tidak hanya sebagai agama spiritual saja tetapi juga ideologi. Dimana syarat ideologi tidak hanya memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan pokok (fikroh) tetapi juga tata cara penerapannya, penjagaan, maupun pengembanannya ke seluruh dunia (thoriqoh).

Rasulullah saw telah mencontohkannya lebih dari seribu tahun yang lalu. Bagaimana Islam mampu bertahan selama kurang lebih 14 abad. Dan mampu menguasai 2/3 dunia. Mengalahkan negara digdaya kala itu yaitu Romawi dan Persia. Maka tidakkah kalian merindukan kemajuan dan kebangkitan yang hakiki di bawah naungan kalimat laa ilaha ilallah muhammadar rasulullullah?
Wallahu a’lam bi ash shawab.

 
Top