Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Karhutla Berulang, Rakyat Meradang

Sunday, October 25, 2026 | October 25, 2026 WIB Last Updated 2026-10-25T12:42:31Z





Dartem 

Aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo menyoroti situasi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia yang belum ada perubahan. Itu ditandai dengan masih adanya kasus kematian akibat asap kebakaran. Ada dua orang korban yang meninggal dilokasi terpisah di Sumatra dan Kalimantan. Lokasi tersebut adalah lokasi yang terdapat banyak titik api, BBC News.com (8 Oktober 2026)

Dalam unggahan terbaru di Instragram, Leonardo Dicaprio juga menyoroti karhutla Indonesia. Ia menyebutkan ada "lebih dari lima juta orang telah terdampak asap karhutla". Meskipun belum ada laporan resmi terkait jumlah warga yang meninggal akibat kabut asap, akan tetapi, index kualitas udara dilaporkan pada fase yang membahayakan. Kondisi tersebut akan berdampak serius pada kesehatan warga.

Asap tebal yang terjadi akibat karhutla merupakan sebuah ancaman bagi masyarakat. Mereka mengalami gangguan pernafasan hingga terancam kehilangan nyawa. Karhutla terjadi hampir setiap tahun dan hingga kini belum bisa diselesaikan, bahkan semakin meluas. Bahkan, negara luar seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merasakan imbas dari asap karhutla. 
Bahkan hingga hari ini masih terus berlanjut dan semakin mengkhawatirkan. Rakyat mulai geram terhadap lemahnya perlindungan negara dalam kasus karhutla. 
Nyawa rakyat tidak mendapatkan prioritas dimata penguasa hari ini. 

Semua itu adalah Imbas sistem kapitalisme yang diterapkan negeri ini. Dengan sistem inilah, sumberdaya alam dikapitalisasi secara ugal-ugalan demi meraup keuntungan oleh para kapital. Negara secara bebas memberikan hak kepada para pengusaha untuk membuka lahan untuk ditanami sawit. Ini adalah kesalahan besar tata kelola lahan yang akhirnya merusak lingkungan. Inilah bukti negara tidak mengurusi rakyatnya dengan baik.
Rakyat dianggap seolah tidak ada kecuali hanya dijadikan ladang bisnis oleh negara.
Rakyat juga tidak dilindungi, bahkan dianggap sebagai beban negara. 

Mirisnya, rakyat dibiarkan terus menerus mengirup asap yang menyesakan dada selama berbulan-bulan. Kasus Karhutla hingga kini belum bisa diselesaikan. Mirisnya, orang yang menyuarakan masalah karhutla pun dibungkam. Itulah kejamnya sistem demokrasi kapitalisme. Rakyat terus menderita sedangkan para penguasa dan pengusaha hidup bersenang-senang.
Nyawa manusia dalam sistem kapitalisme tidak berharga samasekali. 

Tidak adanya sanksi tegas membuat para perusak hutan terus bercokol dan tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Lemahnya penegakan hukum sangat berimbas pada kerusakan yang semakin meluas dari segala aspek kehidupan. Inilah salah satu kelemahan dari sistem kapitalisme. Hukum tumpul ke atas dan tajam kebawah.

Lain halnya dengan sistem Islam. Islam adalah agama yang melahirkan aturan dan solusi kehidupan. Dalam Islam, nyawa satu orang sangatlah berharga dan sangat dilindungi. Rasulallah Saw bersabda "Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasa’i).

Kesehatan adalah hak setiap manusia yang harus dijamin oleh negara.
Negara bertanggungjawab atas keselamatan dan kesehatan rakyatnya. Apalagi disaat terjadi kebakaran hutan yang mengakibatkan asap tebal.

Negara dalam Islam adalah pengurus urusan rakyat, bukan pemalak rakyat. Dalam permasalahan karhutla, Islam terdepan dalam menyelamatkan nyawa manusia dan memastikan rakyatnya tetap aman. Yaitu dengan cara diungsikan dari daerah yang sedang mengalami bencana atau dalam hal ini karhutla. Negara cepat tanggap dan tidak bertele-tele dalam mengatasi masalah. Anggaran untuk alat kesehatan, obat-obatan, sarana kebersihan akan disiapkan. Semua dana berasal dari Baitul mal, termasuk untuk penyediaan alat pemadam kebakaran.

Disisi lain, Islam juga mengatur harta kepemilikan menjadi tiga. Harta milik umum, milik individu dan milik negara. Hutan adalah harta kepemilikan yang tidak boleh dikelola oleh segelintir orang, apalagi untuk kepentingan pribadi. Negara mengelola hutan sesuai syariat Islam, tidak boleh merusak alam. 

Dari segi hukum, Islam punya sanksi tegas yang mampu memberi efek jera bagi pelakunya. Dengan begitu, tindakan kesewenang-wenangan dapat diminimalisir.
Itulah fungsi dari syariat Islam ketika diterapkan oleh negara sehingga kesejahteraan, keamanan, perlindungan nyawa manusia bisa terwujud.

Wallahu a'lam bishawab
×
Berita Terbaru Update