Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PERAN ULAMA DALAM MENGOREKSI

Thursday, October 22, 2026 | October 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T00:39:13Z




Oleh Mamah Daffariz 
Pegiat Literasi 
 
Pada tanggal 19 September 2026 kemarin, dalam Resepsi Tasyakuran 100 Tahun Pondok Modern Darussallam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussllam Gontor, berpidato tentang menyinggung fenomena ‘cari muka’ hingga ‘cari jabatan’ serta menegaskan prinsip kesederhanaan dalam kehidupan pimpinan pesantren di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Beliau menyatakan bahwa jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, maka dirinya boleh diprotes, dikritik, bahkan didemo (DetikJatim,19/09/2026) 

Beliau menjelaskan sebuah prinsip kepemimpinan secara umum, yakni: seseorang yang memegang amanah kepemimpinan (termasuk kepemimpinan negera, red.) tidak semestinya menutup pintu kritik terhadap dirinya. Kekuasaan adalah amanah yang Allah titipkan kepada seorang penguasa. Penguasa adalah manusia biasa yang bisa keliru. Karena itu penguasa harus terbuka terhadap kritik, karena dia penjaga agar kekuasaan tidak jauh dari kesederhanaan, keadilan, dan kepentingan umat. 

Hal tulah yang ditunjukkan, antara lain, oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Dalam pidato awal Kekhalifahannya, beliau tegas menyampaikan: 
“JIka aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku (M. Husain Haikal, Hayah Muhammad Saw, 1/97)”. Km
Kemuliaan ulama terletak pada ilmu, ketakwaan dan kesediaannya menyampaikan kebenaran. Terutama terhadap penguasa. Tugas ulama seharusnya ketika penguasa terbukti menyimpang, ulama wajib memberikan nasehat berupa peringatan, mengoreksi dan meluluskan penguasa tersebut sesuai dengan Syari’at Allah dan Sunnah Rosulullah.  Allah SWT berfirman : 

“Hendaklah diantara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS Ali-Imran (3):104)”. 
Rosulullah saw juga bersabda : 

“Siapa saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. JIka tidak mampu dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim)”. 
Kaum muslimin mempunyai teladan ulama yang pernah berani untuk menasehati para penguasanya. Diantara kisahnya yaitu kisah Imam Hasan al-Bashri rahimahullah. Beliau merupakan salah seorang diantara para ulama yang begitu besar rasa takutnya kepada Allah SWT. Akan tetapi, beliau tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yang lalim. Beliau berani menentang Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Irak yang lalim pada zamannya. Beliau berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut dihadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran dihadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, “Sungguh Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama untuk menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada manusia dan tidak menyembunyikan ilmu mereka,” 

Ulama dan penguasa seharusnya membangun hubungan yang dilandasi ketakwaan dan tanggung jawab. Penguasa membutuhkan ulama yang berilmu, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran. Sebaliknya, ulama membutuhkan ruang untuk menasehati, mengoreksi, dan mengingatkan penguasa. Kemitraan keduanya akan memiliki makna jika diarahkan pada tujuan yang sama yaitu sama-sama mencari ridho Allah SWT. 

Ulama dan penguasa hendaknya menjadi mitra dalam menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kedzaliman. Sebab, kekuasaan tanpa nasihat dapat kehilangan arah, sementara ilmu tanpa keberanian menyampaikan kebenaran dapat kehilangan fungsi sosialnya. Keduanya harus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, agar amanah yang diberikan Allah tidak berubah menjadi sarana kedzaliman. 
Kedzaliman terbesar penguasa adalah saat mereka enggan berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT. Demikian sebagaimana yang Allah SWT tegaskan :  
“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang yang dzalim (TQS al-Maidah(5):45)”. 
Maka, sejatinya ulamalah yang paling bertanggung jawab atas kerusakan penguasa, sebagaimana saat ini, karena enggan berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT. 
Wallahu a’lam bi ash-shawab. 
 
×
Berita Terbaru Update