Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Solusi Bencana Alam

Thursday, October 29, 2026 | October 29, 2026 WIB Last Updated 2026-10-29T10:16:27Z



Oleh
Renia Ningsih Razak ( Pegiat Literasi)
 
Kita ketahui, bahwa akhir-akhir ini media sosial (Medsos) diramaikan dengan berita terkait bencana alam yang terjadi di beberapa provinsi di negeri ini. Bencana yang terjadi mulai dari banjir bandang di Padang, kebakaran hutan berapa puluh hektar di Kalimantan, Papua, Maluku serta bencana lainnya. Faktor penyebab kebakaran tersebut masih diselidiki, tapi beberapa informasi dari media bahwa kejadian kebakaran tersebut ada yang menyengaja untuk membakar, ditambah kemarau panjang yang sudah berapa bulan serta angin kencang yang semakin memperparah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Dilansir dari Kompas.com (14/10/2026), bencana alam merenggut rasa aman warga. Korupsi yang terjadi dalam pengelolaan dana bencana, merenggut sesuatu yang lebih mendasar yaitu hak-hak korban bencana mulai dari sandang, pangan hingga papan. Ketika banjir dan longsor menerjang sejumlah daerah, sementara kebakaran hutan dan lahan menuntut respons cepat, publik dikejutkan operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 Oktober 2026 lalu.

 *Akar Masalah* 

Ketika kita melihat dari banyaknya kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa daerah beberapa bulan atau tahun ini, sebagai manusia yang beragama, kita menyadari hal tersebut terjadi atas izin sang pencipta. Tetapi, semua bencana itu juga tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa adanya ulah / campur tangan manusia yang semakin memperparah bencana alam tersebut.  

Bencana alam yang terjadi sebelumnya di Aceh, Sumatera Utara serta Sumatera Barat, tampak nyata betapa banyaknya kayu atau pohon besar yang terbawa arus deras air banjir tersebut dan batang pohon itu sudah terpotong dengan rapi, yang berarti bukan akibat alam tetapi akibat manusia. Tanah lonsor yang terjadi di beberapa daerah, itu bisa saja terjadi karena pengerukan gunung, penebangan kayu di hutan serta hadirnya aktivitas pertambangan baik legal maupun ilegal sehingga tanah mudah longsor karena tidak ada yang menopang lagi.

Bencana yang sedang terjadi sekarang adalah kebakaran hutan di Kalimantan dan daerah lainnya. Kathula yang terjadi di Kalimantan menyebabkan langit menjadi kuning dan membuat jarak pandang menjadi menurun, anak-anak, lansi, remaja, dewasa bahkan bayi banyak mengalami ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut) dan kabut atau asap tersebut sudah menyebar di berbagai daerah bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Di Medsos begitu banyak influencer dan masyarakat seluruhnya yang menyuarakan tentang bencana tersebut agar segera ditetapkan sebagai bencana nasional. Tapi, apa yang terjadi, para penguasa di negeri ini tetap saja duduk manis dan menyuruh masyarakat untuk beradaptasi dengan kabut tersebut. Dan lebih parahnya lagi, dana untuk bantuan bencana tersebut juga dikorupsi. Masyarakat tentunya butuh keadilan serta menuntut haknya atas kejadian yang dzalim ini. 

 *Solusi Islam* 

Islam memandang bencana alam sebagai ketetapan Allah SWT, ujian keimanan, sekaligus akibat dari perbuatan manusia yang merusak lingkungan (QS. Ar-Ruum: 41). Proses mengatasi dan menyikapi bencana alam dalam Islam dilakukan melalui tiga tahap utama yaitu pra bencana (pencegahan), saat bencana, dan pasca bencana. 

Tentunya sangat penting melakukan pencegahan dan mitigasi bencana, misalnya ketika pohon akan di tebang untuk kepentinga tertentu, yang mana hal tersebut akan menimbulkan bencana, sehingga haruslah kita tetap menjaga agar hutan yang ada di muka bumi tetap tumbuh subur dan berkembang demi menjaga kelestarian ekosistem alam. 

Saat bencana, masyarakat harus saling bantu membantu untuk menyelamatkan satu sama lain dan tidak kalah penting bantuan / kebijakan negara pun harus ada untuk masyarakat. Pascabencana, bergotong royong untuk melakukan pemulihan total terhadap infrastuktur yang rusak. Serta adanya pemimpin yang bertanggung jawab dan menjalankan perannya sesuai dengan segala aturan yang ditetapkan Oleh Allah SWT.  

Tidak kalah penting dalam Islam terdapat pengaturan yang jelas tentang kepemilikan, sehingga pengelolan sumberdaya alam akan membawa kemaslahatan. Yang mana dalam islam, terdapat kepemilikan umum, kepemilikan negara dan kepemilikan pribadi. Sumberdaya alam berlimpah seperti hutan dan tambang masuk dalam kepemilikan umum. Karena masuk dalam kepemilikan umum, maka pengelolaannya wajib oleh negara bukan oleh swasta asing/aseng.
 
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, ‘’kaum muslim berserikat dalam tiga hal : air,padang rumput (gembalaan) dan api’’ (HR Abu Dawud dan Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan ‘’…dan harganya adalah haram (dijualbelikan)’’ (HR Ibnu Majah). Betapa umat sangat merindukan penerapan syariat Islam yang memberikan keberkahan hidup sebagaimana 13 abad zaman kejayaan Islam. Wallahu’alam bishowab.
×
Berita Terbaru Update